Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

Natal Tanpa Rumah di Garoga: Doa Sunyi Penyintas Banjir yang Masih Dihantui Trauma

Editor Satu • Sabtu, 27 Desember 2025 | 11:20 WIB
Penyintas banjir bandang Sungai Garoga mengikuti ibadah Natal singkat di HKBP Huta Godang sebelum kembali ke posko pengungsian di Batangtoru.
Penyintas banjir bandang Sungai Garoga mengikuti ibadah Natal singkat di HKBP Huta Godang sebelum kembali ke posko pengungsian di Batangtoru.

TAPSEL, METRODAILY — Hujan turun perlahan di Batangtoru, Kamis pagi, 25 Desember 2025. Tidak ada gemerlap lampu Natal atau gaun baru yang biasa menghiasi hari raya.

Usai kebaktian singkat, jemaat Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Desa Huta Godang bergegas kembali ke posko pengungsian.

Trauma masih membekas, cuaca tak bersahabat, dan rumah-rumah telah lama hilang disapu banjir bandang Sungai Garoga.

Natal tahun ini terasa sunyi bagi keluarga Ria Sejati Tarihoran (45). Bersama ratusan warga lainnya, ia kini tinggal di Posko Pengungsian PT Agincourt Resources (PTAR), Aula HKBP Wek II Batangtoru. Desa tempat mereka berasal telah porak-poranda sejak banjir besar menerjang pada akhir November lalu.

“Sehabis ibadah, kami langsung pulang ke sini. Tidak berlama-lama. Hujan masih sering turun, dan rasa takut itu masih ada,” ujar Ria, suaranya datar namun matanya menyimpan duka.

Gereja Berlumpur dan Natal yang Dipersingkat

Gereja HKBP Huta Godang pun tak luput dari amukan banjir. Lumpur sempat menutup lantainya. Tidak ada misa malam kudus seperti tahun-tahun sebelumnya.

Ibadah Natal dipercepat, demi menghindari hujan deras dan kepanikan warga yang masih trauma mendengar gemuruh air.

Bagi Ria, Natal kali ini adalah perayaan paling sunyi sepanjang hidupnya. Ia kehilangan ibundanya, Tio Merli Manalu (74), yang terseret arus banjir.

Saat itu, Ria berada di hulu Sungai Garoga, menyaksikan sendiri betapa dahsyatnya air bercampur kayu dan lumpur yang meluncur dari perbukitan.

“Aku sempat menelepon mamak. Sudah kuingatkan supaya mengungsi. Tapi katanya air cuma banjir biasa,” kenangnya lirih.

Telepon itu menjadi salam perpisahan terakhir. Rumah mereka luluh lantak. Bahkan, dua anak Ria sempat hanyut dan dinyatakan hilang selama beberapa jam yang terasa seperti seumur hidup.

Bertahan di Tengah Arus Maut

David Ferdian (13), putra sulung Ria, masih mengingat jelas hari itu. Bersama nenek dan adiknya, Clarissa (7), ia mulai mengungsi ketika air setinggi lutut orang dewasa.

Namun arus mendadak berubah ganas. Kayu-kayu besar menghantam tubuh mereka, memisahkan satu sama lain.

“Saya sempat tersangkut di pohon kelapa. Pohonnya roboh, saya hanyut lagi,” kata David sambil menunjuk bekas luka di pipinya.

Ia menggambarkan dirinya seperti ikan megap-megap di air keruh bercampur lumpur. Sore hari, setelah air mulai surut, David menemukan adiknya Clarissa tersangkut di pohon rambutan di Desa Aek Ngadol, lebih dari satu kilometer dari rumah mereka.

Clarissa selamat karena berpegangan pada jeriken kosong yang hanyut bersamanya. “Itu yang kupegang. Kami lapar, roti yang hanyut itu yang kami makan,” ucapnya polos.

Keduanya ditemukan selamat, meski dengan luka fisik dan trauma mendalam. Bagi Ria, keselamatan kedua anaknya adalah satu-satunya “hadiah Natal” tahun ini.

Natal di Pengungsian

Nasib serupa dialami Firmanto Silalahi (29). Rumahnya yang berada tak jauh dari Gereja Katolik Stasi Kristus kini rata dengan tanah. Ladang padi tertimbun pasir.

Natal yang biasanya dirayakan dengan keluarga besar, kini hanya berlangsung di tenda pengungsian.

“Kami bersyukur masih selamat. Tapi untuk ke desa saja, kami harus lihat cuaca dulu,” katanya. Jarak desa sekitar sembilan kilometer, dan hujan masih menjadi ancaman.

Doa Natal Firmanto sederhana. Ia berharap tempat tinggal mereka dibangun kembali, dan ada jalan untuk memulai usaha baru. “Supaya kami bisa bangkit,” ujarnya.

Doa Tanpa Baju Baru

Tanpa baju baru, tanpa perhiasan Natal, dan tanpa rumah, Ria, Firmanto, dan puluhan keluarga lain mencoba merayakan kelahiran dengan harapan yang tersisa.

Mereka ingin hidup tanpa rasa takut, tanpa mimpi buruk tentang banjir yang datang tiba-tiba di malam hari.

Natal di Garoga bukan tentang kemeriahan. Ia adalah tentang bertahan hidup, tentang kehilangan, dan tentang harapan kecil agar bencana tak kembali menyapu kehidupan yang sedang mereka bangun dari nol. (Samman)

Editor : Editor Satu
#Natal di pengungsian #Banjir garoga #Penyintas Banjir Bandang