TAPSEL, METRODAILY – Siang itu, Selasa (25/11/2025), hujan deras belum juga berhenti ketika ratusan orang tiba-tiba berlarian memasuki Desa Batuhula, Kecamatan Batangtoru.
Tubuh mereka basah, pakaian dilumuri lumpur, suara tangis beberapa perempuan dan anak terdengar jelas di antara deru hujan.
Mereka adalah warga Desa Garoga, Huta Godang, dan Aek Ngadol—tiga desa yang baru saja diterjang banjir bandang dari Sungai Aek Garoga.
Kepala Desa Batuhula, Muhammad Alinafiah Nasution, menjadi salah satu saksi pertama bagaimana warga tetangganya itu datang dengan wajah panik dan ketakutan.
Dalam hitungan jam, desa kecil itu berubah menjadi tempat berlindung bagi lebih dari 1.800 pengungsi.
“Banyak yang menangis. Ada yang menggigil sambil menggendong bayi. Semua basah dan penuh lumpur,” kenang Alinafiah, Senin (8/12/2025).
Ketakutan di Sekolah, Lahirnya Teratak Darurat
Awalnya, Kades Alinafiah meminta warga mengungsi sementara di gedung SD Batuhula.
Namun para penyintas menolak. Lokasinya lebih rendah dari badan jalan, dan mereka takut air besar yang baru saja menghancurkan rumah mereka akan kembali datang.
“Kami akhirnya berinisiatif mendirikan teratak. Warga membawa alat masak dari masjid untuk membuat air panas, biar mereka bisa menghangatkan diri,” ujarnya.
Dalam waktu singkat, ratusan warga Batuhula turun tangan. Mereka menyalakan tungku, membuka rumah masing-masing, dan memberikan pakaian kering.
Saat air banjir mulai surut, jumlah penyintas yang datang justru semakin banyak.
Atas koordinasi dengan Camat Batangtoru, halaman bengkel milik Safri Simamora ditetapkan sebagai posko resmi. PT Agincourt Resources (PTAR), pengelola Tambang Emas Martabe, langsung mengirim tenda, alat masak, bahan pangan, dan kebutuhan dasar lainnya.
Lokasi itu pun berkembang menjadi dapur umum raksasa yang dikelola 115 warga Batuhula, menyediakan makan pagi, siang, dan malam bagi seluruh pengungsi.
Sebagian pengungsi diinapkan di rumah-rumah warga dan gedung sekolah. Tidak hanya makanan, kebutuhan kesehatan juga menjadi prioritas. TNI mendirikan posko pemeriksaan medis di lokasi itu.
Hingga kini, warga yang kehilangan seluruh rumahnya masih bertahan di posko Batuhula.
Ketika Batuhula Penuh, Warga Sumuran Bergerak
Melihat Batuhula tak lagi bisa menampung pengungsi, Desa Sumuran—desa tetangga—ikut turun tangan. Kepala Desa Sumuran, Sarman, langsung menginstruksikan warganya membuka pintu rumah untuk penyintas.
“Mengingat Posko Batuhula sudah penuh, kami arahkan warga mengungsi ke Sumuran,” ujarnya.
Di Sumuran, dapur umum pun dibuka. PTAR kembali menyediakan tenda, peralatan memasak, dan kebutuhan pokok. Warga Sumuran menjadi relawan, memasak sekitar 800 bungkus makanan setiap waktu makan.
Seperti Batuhula, Desa Sumuran juga berada di tepi Sungai Aek Garoga, tetapi permukimannya selamat dari banjir. Namun lahan pertanian di desa itu luluh lantak, tertimbun pasir dan lumpur.
Harapan dari Pemilik Lahan Posko
Safri Simamora, pemilik lahan yang menjadi posko utama di Batuhula, mengaku ikhlas membantu. Meski begitu, ia berharap pemerintah turut memperhatikan kebutuhan dasar para pengungsi.
“Yang penting MCK dan tempat sampah dibantu pemerintah, supaya kebersihan dan kesehatan terjaga,” ujarnya.
Dari teriakan panik dan tubuh yang menggigil kedinginan, hingga gotong royong yang menyatukan dua desa tetangga—kisah pendirian posko ini menjadi bukti bahwa solidaritas warga menjadi benteng pertama ketika bencana datang tanpa ampun. (Samman Siahaan)