Cerita di Balik Lonjakan Literasi Pematangsiantar (3/Habis)
IPLM Siantar melonjak dari 59 menjadi 89 dalam dua tahun, menjadikannya yang tertinggi di Sumatera Utara. Perwa Gerakan Literasi, layanan perpustakaan modern, mobil baca aktif, dan kolaborasi lintas pihak perlahan mengubah kebiasaan membaca warga.
----------------------------------------
Dame Ambarita, Pematangsiantar
----------------------------------------
Sabtu pagi (22/11), pemandangan di Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Pematangsiantar terlihat seperti pusat kegiatan warga. Anak-anak berebut tempat duduk di BI Corner, sebagian menggenggam buku cerita sambil tertawa pelan.
Di ruang audio visual, ratusan siswa mengikuti olimpiade. Sejumlah mahasiswa tampak asyik mengetik skripsi di laptop masing-masing, memanfaatkan Wi-Fi dan colokan Listrik gratis. Orang tua mondar-mandir mengawasi anak ikut olimpiade dan lomba menggambar. Pengunjung datang dan pergi tanpa henti.
Di tengah riuh rendah itu, satu simpulan muncul di kepala: Siantar sedang mengalami kebangkitan budaya membaca.
Hingga pertengahan 2025, kunjungan tercatat mencapai 32.997 pengguna, dengan proyeksi menembus 70.000–90.000 di akhir tahun—dua kali lipat dari rata-rata sebelum 2023.
Bersamaan dengan itu, Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Siantar melonjak dari 59,12 tahun 2022 menjadi 89,82 tahun 2024. Naik 30,7 poin dalam dua tahun. Posisi Siantar kini tertinggi di Sumatera Utara, jauh di atas rerata provinsi yang hanya 62,39.
Lonjakan itu tidak datang tiba-tiba. Ia dibangun dari ruang baca yang terus bergerak, mobil perpustakaan yang menyusuri sekolah setiap minggu, serta kebiasaan baru di ruang-ruang kelas.
Anatomi Skor Tinggi: Akses, Budaya, dan Pemberdayaan
Perpustakaan Nasional menilai IPLM dari tujuh unsur dengan tiga komponen utama, yakni: pemerataan layanan perpustakaan, ketercukupan koleksi, dan ketercukupan tenaga perpustakaan. Di Siantar, ketiganya bergerak bersamaan.
“Kami tidak mengejar angka. Yang kita bangun adalah interaksi masyarakat dengan pengetahuan,” kata Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan, Hamzah Fanshuri Damanik.
Akses diperluas lewat penambahan fasilitas dan jam layanan. Bahkan sudah muncul wacana membuka Perpustakaan pada Hari Minggu.
Budaya baca dipupuk melalui puluhan kegiatan bulanan. Pemberdayaan terlihat dari penggunaan nyata koleksi—anak-anak membaca cerita, guru mengambil bahan pembelajaran, mahasiswa menuntaskan skripsi dari literatur yang tersedia.
Dampak yang Terlihat di Lapangan
Pembiasaan membaca pagi di sekolah-sekolah kini lebih terstruktur, yang didukung oleh kunjungan mobil perpustakaan keliling. “Minat baca naik. Anak sekarang lebih cepat memahami bacaan,” ujar Anjelina Siringoringo, guru SMP Swasta Cinta Rakyat 3 Pematangsiantar, yang hari itu mendampingi murid mengikuti olimpiade literasi.
Rekannya, Gita Suryani Sinaga, mengatakan mobil baca berperan penting memecah dominasi gawai. “Gadget membuat anak cepat bosan membaca buku teks. Mobil baca membantu mereka kembali tertarik pada buku,” ungkapnya.
Keduanya berharap layanan keliling makin diperluas dan perpustakaan memperkuat materi digital agar anak tidak terpaku pada hiburan gawai.
Di ruang referensi Perpustakaan, Lilis Sihombing, mahasiswi Akuntansi STIE Sultan Agung, menyambut perubahan di perpustakaan. “Koleksi Akuntansi sekarang jauh lebih lengkap. Dulu pilihannya sedikit. Kami butuh banyak referensi untuk skripsi, dan sekarang sudah tersedia,” ujarnya.
Dua rekannya, Cahaya Bunga Siahaan dan Angeli Sinaga, membenarkan. Cahaya menyebut perpustakaan memudahkan riset. “Internet ada, buku ada. Enak diskusi di sini.”
Angeli menilai perubahan dua tahun terakhir signifikan. “Anak-anak lebih aktif ikut kegiatan literasi. Minat baca naik.”
Mereka hanya berharap buku Akuntansi edisi terbaru ditambah lagi.
Di sudut BI Corner, Claribel Crystal Huang, siswi kelas 6 SD Kristen Kalam Kudus 2, duduk lesehan membaca buku fantasi setelah mengikuti olimpiade. “Kalau ada acara, aku sekalian baca di perpustakaan,” ujarnya pelan.
Layanan Modern dan Perpustakaan Keliling
Lonjakan minat baca tidak terjadi tanpa kerja sistematis. Dinas Arsip dan Perpustakaan mengeksekusi strategi berlapis: Koleksi mencapai 34.000 eksemplar dari 19.000 judul buku. Tiap judul ada dua buku.
“Kemudian ada Wi-Fi gratis, komputer publik, dan katalog digital diperluas. Lima armada perpustakaan keliling beroperasi: dua bantuan Perpusnas, tiga unit lama, plus gerobak baca Pemprov,” kata Nur Amin, Pustawakan Ahli Muda yang bertugas di Dinas Arsip dan Perpustakaan.
Dinas Arpus juga menggandeng pihak ketiga untuk menggelar kegiatan literasi rutin di ruangan perpustakaan, seperti lomba membaca, menggambar, menari, diskusi komunitas, olimpiade.
“Kami aktif promosi aktif lewat media sosial dan event publik. Kami punya akun YouTube, Instagram, FaceBook, dan lainnya. Terbaru, kami juga punya podcast,” kata Nur Amin.
Pendaftaran anggota perpustakaan gratis. Tapi anggota wajib memiliki nomor handphone untuk koordinasi. Kalau anak tidak punya, boleh nomor hape orangtua.
“Dukungan anggaran tentu menjadi kunci agar perpustakaan tak hanya menjadi ruang baca, tapi ruang belajar dan rekreasi,” kata Nur Amin.
Ekosistem Literasi yang Menguat
Momentum literasi diperkuat lewat Perwa No. 30 Tahun 2024. Kebijakan ini membuat gerakan literasi menjadi sistemik—mengikat anggaran, kegiatan OPD, hingga pelatihan berkelanjutan bagi sekolah dan masyarakat.
“Regulasi ini penting agar literasi tidak tergantung siapa pejabatnya,” ujar Sekretaris Daerah kota Pematang Siantar, Junaedi Antonius Sitanggang, S.ST, M.Si.
Dorongan ke depan: Perwa ini akan diubah menjadi Peraturan Daerah, sebagai payung hukum jangka panjang.
Kolaborasinya yang luas melibatkan Tanoto Foundation sebagai pendamping strategis, Bank Indonesia dan Bank Sumut menambah fasilitas, komunitas literasi membuat kelas menulis, sekolah membuka pintu untuk mobil baca, dan seterusnya, perlahan tapi pasti mengubah Kota Pematangsiantar menjadi salah satu kota dengan kehidupan membaca yang hidup.
Tantangan yang Masih Mengadang
Di balik capaian itu, sejumlah kendala belum selesai. Beberapa wilayah masih belum terjangkau mobil baca. Jumlah pustakawan—kurang dari 30 orang—tidak sepadan dengan kebutuhan layanan. Paparan hiburan digital masih kuat menggerus fokus anak.
Namun perubahan kecil yang berulang—membaca 15 menit di kelas, ikut lomba literasi, duduk di BI Corner membaca buku fantasi—perlahan mengubah ritme kota.
Regulasi yang sedang naik kelas dari Perwa ke Perda juga diuji: apakah ekosistem yang tumbuh ini bisa bertahan saat euforia mereda dan anggaran diuji prioritas?
Meski demikian, optimisme mengalir. Dari mobil baca yang menyusuri gang, mahasiswa yang berburu referensi, hingga anak-anak yang menenggelamkan diri dalam buku cerita, Siantar seperti menemukan kompas baru.
Ketika IPLM menempatkannya sebagai yang tertinggi di Sumut, satu pesan menguat:
literasi bukan tujuan akhir—melainkan perjalanan yang baru saja dimulai. (mea/habis)