Cerita di Balik Lonjakan Literasi Pematangsiantar (2)
IPLM Siantar yang hanya 59,12 pada tiga tahun lalu, memicu kolaborasi Dinas Arsip & Perpustakaan dengan Tanoto Foundation. Strategi baru dijalankan: perpustakaan keliling, penambahan buku, pelatihan guru, dan pelibatan sekolah. Tempo 2 tahun, perilaku membaca warga mulai berubah nyata.
-----------------------------------------------
Dame Ambarita, Pematangsiantar
-----------------------------------------------
Tahun 2022, Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Kota Pematangsiantar tercatat hanya 59,12, masuk kategori Rendah. Setahun kemudian naik tipis menjadi 60,52.
Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan, Hamzah Fanshuri Damanik, pun gelisah. Apa yang bisa dilakukan untuk meningkatkan poin itu?
Dalam kegelisahannya, Hamzah bertemu Tanoto Foundation, yang tengah fokus program peningkatan literasi dan numerasi di berbagai daerah. Berdasarkan PISA 2022, literasi Indonesia hanya 359 poin, terendah sejak 2006, tertinggal jauh dari Singapura (543), Vietnam (462), dan Malaysia (388).
Kegelisahan kedua belah pihak bak gayung bersambut. Pertemuan demi pertemuan melahirkan ide dan strategi baru. Dinas Arpus mulai menyusun langkah untuk memperluas layanan perpustakaan, membangun kapasitas SDM, dan menyiapkan fondasi kebijakan jangka panjang.
“Target kami bukan sekadar angka. Yang kami kejar adalah perubahan perilaku membaca, dan itu butuh kerja kolektif,” kata Hamzah.
Buku Hadir di Mana Pembacanya Berada
Langkah pertama: membawa buku ke pembaca. Mobil perpustakaan keliling dijadwalkan rutin mendatangi sekolah, armada ditambah, dan koleksi buku diperluas melalui pembelian, donasi swasta dan BUMN, serta dukungan perpustakaan nasional dan provinsi.
“Perpustakaan Sintong Bingei kini memiliki 38 ribu buku dengan 19 ribu judul,” ujar Hamzah.
Pelayanan jemput bola ini disambut baik sekolah-sekolah. Gerakan membaca 15 menit sebelum pelajaran mulai aktif, dan sebagian sekolah meminta jadwal kunjungan khusus. Pelayanan digital diperluas melalui e-library dan katalog daring. Taman baca di kelurahan diberdayakan kembali.
“Hasilnya, anak-anak lebih mudah terpapar materi baca bermutu. Ini mengubah banyak hal,” kata Hamzah.
Guru dan pustakawan pun mengikuti pelatihan metode literasi, pengelolaan kegiatan membaca, teknik mendongeng, dan bercerita ulang. Guru tidak sekadar mengajak membaca, tapi membimbing siswa merefleksikan bacaan, berdiskusi, dan bercerita.
“Kualitas fasilitator menentukan dampak. Pustakawan tidak hanya menjaga buku, tapi menghidupkannya,” tambahnya.
Gerakan literasi diperluas melalui koordinasi dengan Dinas Pendidikan, kelurahan, komunitas literasi, dan sekolah. Lomba literasi, pojok baca kelurahan, hingga kunjungan perpustakaan menjadi ruang kolaboratif antarunit pemerintahan. Event seperti pemilihan duta baca, perpustakaan keliling saat bansos, dan penguatan perpustakaan sekolah rutin digelar.
Fasilitas di perpustakaan pun ditambah: wifi, ruang referensi, ruang audio visual, hingga BI Corner.
“Kami tidak ingin gerakan literasi berhenti sebagai kegiatan event-based,” tegas Hamzah. Setiap program memiliki tolok ukur, evaluasi, dan keterlibatan masyarakat.
Tanoto Foundation: Pendamping Strategis
Tanoto Foundation mendampingi praktik lapangan sekaligus penguatan kebijakan. Sejak 2023, mereka memfasilitasi Regulatory Impact Assessment (RIA) untuk menyusun Perwa Literasi yang terukur. Enam tahapan dilakukan selama empat bulan, melibatkan Dinas Pendidikan, Dinas Arsip & Perpustakaan, hingga Bagian Hukum.
“Perwa bukan sekadar dokumen formal, tapi dasar gerakan literasi di Pematangsiantar,” kata Medi Yusva, Regional Lead Tanoto Foundation.
Evaluasi dilakukan tiap tiga bulan menggunakan matriks pemantauan, dan pertemuan stakeholder menindaklanjuti kendala lapangan.
Pendekatan kreatif diterapkan: Read Aloud di kelas, diskusi pesan moral, pojok baca, dan klub membaca untuk remaja. Literasi dijadikan kegiatan menginterpretasikan, mengkomunikasikan, dan mengekspresikan bacaan, berfokus pada keteladanan, pembiasaan, dan ketersediaan bahan bacaan.
Program berbasis monitoring data menggunakan Kobo dan dashboard sederhana. Bentuk kolaborasi: Technical Assistance, penguatan fasilitator daerah, dan dukungan logistik. Semua bertujuan membangun budaya baca aktif.
Menuju Perda Literasi
Tahun 2024, Wali Kota Pematangsiantar menerbitkan Perwa Gerakan Literasi. Sebagai langkah awal, peraturan ini belum cukup mengikat untuk keberlanjutan. Dorongan lintas OPD dan pihak eksternal terus mendorong transformasi menjadi Peraturan Daerah.
Perwa Literasi memandu dua OPD: Dinas Pendidikan untuk sekolah, dan Dinas Arsip & Perpustakaan untuk masyarakat melalui perpustakaan daerah, taman baca, hingga perpustakaan kelurahan.
Sekolah menerapkan wajib membaca 15 menit sebelum pelajaran, ada minggu bercerita, sementara masyarakat mengakses titik baca digital di Lapangan Adam Malik, MPP Ramayana, dan Dinas Arpus.
Dinas Arpus rutin menggelar lomba bercerita, puisi, hingga resensi buku, menjadikan literasi gerakan massif yang menyentuh seluruh lapisan.
Sekretaris Daerah Junaedi Antonius Sitanggang, SSTP, MSi, menegaskan, gerakan literasi bukan proyek tahunan.
“Ini investasi sosial jangka panjang. Perda memberi payung hukum agar semua OPD punya kewajiban berkelanjutan,” katanya.
Dengan strategi ini, Pematangsiantar optimis menjaga momentum literasi, memperluas dampak ke sekolah dan masyarakat, dan berpotensi menjadi barometer Kota Literasi di Sumatera Utara, bahkan nasional. (mea/bersambung)
Editor : Editor Satu