Cerita di Balik Lonjakan Literasi Pematangsiantar (1)
Tingginya minat baca siswa setiap kali perpustakaan keliling memasuki halaman sekolah menjadi potret paling jelas naiknya literasi di Pematangsiantar. Saat halaman sekolah berubah menjadi arena baca terbuka—anak-anak berebut buku, duduk melingkar, lalu berlomba bercerita ulang—gerakan literasi tampak hidup di kota ini.
-----------------------------------------
Dame Ambarita, Pematangsiantar
-----------------------------------------
Jumat pagi di halaman SD Cinta Rakyat 2, Jalan Sibolga, Kota Pematangsiantar, Sumatera Utara, suasananya lebih riuh dari biasanya. Usai apel pukul delapan, murid-murid kelas 4 sudah duduk menunggu di lapangan. Bukan menunggu bansos, melainkan dua unit kendaraan perpustakaan keliling milik Dinas Arsip dan Perpustakaan Pematangsiantar.
Pukul delapan, mobil boks dan gerobak buku masuk ke halaman sekolah. Raut wajah antisipatif anak-anak meningkat. Begitu pustakawan membuka pintu kendaraan, siswa yang dipandu guru langsung merapat. Tangan-tangan kecil memilih buku dengan wajah berbinar.
Tidak lama kemudian, murid dari lima kelas 4 sudah memegang masing-masing satu buku. Enam pustakawan yang hadir melayani dengan sabar.
Guru pemandu mengarahkan mereka membentuk lingkaran membaca sesuai kelas. Dalam hitungan menit, lima lingkaran terbentuk rapi. Di bawah langit cerah, halaman sekolah menjelma ruang baca terbuka. Anak-anak serius membaca, setiap lingkaran ditemani guru kelas.
Dua puluh menit kemudian, guru bertanya, “Siapa yang mau menceritakan kembali isi buku yang baru dibacanya?”
Belasan tangan terangkat serempak. Guru menunjuk seorang anak laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun. Ia memperkenalkan diri. “Nama saya Jorel. Saya akan menceritakan kembali isi buku berjudul Vito Kecacingan,” katanya percaya diri.
Ia lalu berkisah tentang Vito yang sering makan makanan tidak bersih tanpa mencuci tangan. Tangannya bergerak, ekspresi wajahnya berubah mengikuti alur cerita—nyaris seperti pemain teater kecil. Teman-temannya bersorak heboh. Suasana seru.
“Pesan moralnya apa?” tanya guru.
“Makanlah makanan bersih dan jangan lupa mencuci tangan sebelum makan,” jawabnya mantap. Anak-anak bertepuk tangan.
Setelah itu, seorang siswa lain—Johan—menceritakan isi buku berjudul Babi Hutan yang Sombong dengan gaya berbeda: lebih kaku, lebih serius.
Apa pesan moralnya?
“Jangan sombong dalam kehidupan sehari-hari, Bu,” katanya dengan senyum dikulum. Tepuk tangan kembali bergema.
Anak-anak lain tak mau kalah. Ada siswi yang bercerita dengan gerak tubuh seperti bernyanyi, ada yang terbata-bata, ada yang berdiri tegap seperti tentara. Semuanya dituntut menyebutkan pesan moral yang mereka tangkap dan dapat diterapkan sehari-hari.
Menurut Juneri Simanjuntak, salahsatu guru kelas 4, sesi literasi ini berlangsung setiap Jumat dengan giliran kelas berbeda. “Kalau hanya membaca di kelas, tidak semua mau bercerita. Tapi kalau perpustakaan keliling datang, mereka seperti merasa punya panggung,” katanya. Kebiasaan ini meningkatkan keberanian, kemampuan berbicara, dan pemahaman moral siswa.
Perpustakaan Keliling Menyambangi Sekolah Bergiliran
Dinas Arsip dan Perpustakaan Pematangsiantar telah mengoperasikan perpustakaan keliling sejak belasan tahun lalu. Namun dua tahun terakhir, intensitasnya meningkat.
Program ini menyasar SD, SMP, hingga SMA secara bergiliran, dengan jadwal kunjungan setiap hari pukul 08.00 – selesai. Paling lama hingga pukul 11.00 WIB.
“Buku yang dibawa selalu disesuaikan dengan jenjang kelas yang dikunjungi. Setiap kunjungan rata-rata membawa 500 eksemplar,” ujar Berlin Sijabat, Kepala Bidang Pengembangan Perpustakaan.
Koleksinya didominasi cerita anak, pengetahuan populer, dan sains ringan. Umumnya SD dilayani di pagi hari, kemudian SMP atau SMA. “Kelas rendah—kelas 1 sampai 3—paling antusias. Mereka pilih buku dari sampulnya dulu. Yang penting gambar banyak,” kata Berlin sambil menunjukkan salah satu buku cerita.
Kunjungan rutin perpustakaan keliling biasanya dilakukan setiap Sabtu, namun bisa ditambah jika sekolah meminta, seperti SD Cinta Rakyat 2 yang meminta jadwal setiap hari Jumat.
“Di banyak sekolah dasar, ruang perpustakaan masih kecil, koleksi terbatas, dan jarang diperbarui,” ujar Berlin. Buku nonpelajaran menjadi barang mewah.
Perpustakaan keliling kemudian berperan sebagai penyegar: menghadirkan variasi buku, menjangkau sekolah minim akses, dan memberi pengalaman membaca yang menyenangkan.
“Anak-anak jadi lebih kenal karya tulis. Terbukti, kunjungan ke perpustakaan naik setiap tahun,” katanya.
Program ini tidak hanya meminjamkan buku, tetapi juga membaca ritme literasi kota—mulai dari pola peminjaman hingga permintaan kunjungan tambahan.
Aktivitas seperti Jumat pagi itu masuk sebagai indikator dalam capaian IPLM Pematangsiantar—akses layanan, pemanfaatan, dan keterlibatan masyarakat. Selain layanan keliling, dinas memasang perpustakaan digital di beberapa titik seperti Taman Bunga, pusat layanan publik Ramayana Plaza, serta kantor Dinas Arpus.
“Pilihan literasi warga kota semakin banyak,” kata Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan, Hamzah Fanshuri Damanik, S.STP, M.Si.
Namun, capaian angka itu tumbuh dari momen kecil: anak yang berani bercerita, kepala sekolah yang meminta kunjungan tambahan, hingga pustakawan yang mencatat buku paling diminati.
Salam Literasi dari Halaman Sekolah
Pukul 09.00, sesi membaca dan bercerita ditutup dengan “Tepuk Salut”:
“Salut salut… prok prok prok! Salut salut… prok prok prok! Saluttt….!”
Anak-anak dengan wajah ceria kemudian mengembalikan buku ke gerobak dan mobil perpustakaan. Para pustakawan membalas dengan salam khas: “Salam literasi!”
Mobil pun perlahan keluar halaman sekolah, menuju titik kunjungan berikutnya—membawa ratusan buku dan semangat yang mungkin saja mengubah satu anak, yang hari itu membaca untuk pertama kali. (mea/bersambung)
(Tulisan ini bagian pertama dari Serial Feature Gerakan Literasi Siantar.)
Editor : Editor Satu