Kisah Dua Peserta Operasi Katarak Gratis PTAR
Perubahan hidup akibat keterbatasan visual menjadi titik berangkat kisah Ernawati dan Ngatino —bagaimana aktivitas sederhana seperti mengendarai motor, memasak, hingga berjalan di bawah terik matahari berubah menjadi perjuangan sehari-hari.
Dame, Siantar
Di ruang tunggu RS Mata Siantar pada Sabtu (22/11) siang, Ernawati dan Ngatino duduk dengan sabar menunggu giliran operasi katarak gratis dari PT Agincourt Resources (PTAR), pengelola Tambang Emas Martabe. Keduanya adalah dua di antara 300 pasien yang ditargetkan menjalani operasi pada 21–23 November 2025.
Masalah penglihatan membuat hidup mereka berubah. Dampaknya terasa dalam kegiatan harian, dari hal yang paling kecil hingga yang paling penting.
Ernawati Tak Lagi Berani Mengendarai Sepeda Motor
Ernawati, 48 tahun, pernah bekerja sebagai guru TK selama tujuh tahun sebelum akhirnya menjadi ibu rumah tangga penuh waktu. Ia mengidap diabetes sejak 2020, dan pada 2024 mulai menyadari penglihatannya semakin kabur. Sejak itu, hidupnya berubah drastis.
Ia tak lagi bisa membaca, menonton, bahkan mengenali orang dari kejauhan. "Saya bahkan tidak bisa membaca tulisan di spanduk yang dipajang di rumah sakit ini,” kata Ernawati.
Mengendarai motor, yang dulu menjadi rutinitas harian, kini tak berani ia lakukan.
“Belanja saja susah. Mau lihat ikan atau sayur harus dekat sekali,” ujarnya. “Kadang masakan gosong karena saya tidak bisa melihat dengan jelas.”
Untuk belanja, ia kini hanya berani ke warung dekat rumah, tempat pedagang sudah memilihkan bahan yang baik.
Saat menyetrika, tangannya sering terkena panas karena pandangan yang buram.
Ia menyadari kedua matanya terkena katarak pada tahun 2024. Ia sempat ingin berobat ke rumah sakit mata Siantar. Tetapi mendengar biaya yang mencapai Rp5 juta per mata, ia mundur teratur. Pasalnya anak sulungnya yang sedang kuliah saat itu masih membutuhkan biaya, sehingga operasi menjadi hal yang tak terjangkau.
Kesempatan datang ketika sang anak melihat informasi operasi katarak gratis PTAR di internet, lalu mendaftarkan ibunya.
“Deg-degan sekali menjelang operasi sampai tekanan darah naik," katanya tersenyum.
Operasinya sempat nyaris ditunda karena tensinya sempat berada di angka 216. Namun ia tetap berharap bisa menjalani operasi di hari berikutnya.
Saat ditanya apa hal pertama yang ingin ia lakukan setelah penglihatannya pulih, jawabannya sederhana: “Saya ingin bisa mengurus rumah seperti biasa… dan belanja sendiri tanpa takut tersandung.”
Ngatino: Mata Selalu Berair Saat Kena Terik
Di sisi lain ruang tunggu, Ngatino, 50 tahun, warga Nagori Bukit Maraja, datang bersama istrinya. Ia bekerja sebagai Pangulu (kepala nagori, istilah untuk kepala desa di Simalungun), sembari bertani dan beternak kecil-kecilan—pekerjaan yang mengharuskannya sering berada di luar rumah.
Namun sejak beberapa tahun terakhir, matanya selalu berair bila terkena panas matahari. “Kalau cuaca panas, langsung berair. Pedih,” ujarnya.
Keluhan itu memang belum membuatnya buta atau tidak bisa membaca, tetapi sangat mengganggu aktivitasnya. Bekerja di kebun menjadi lebih lambat karena ia harus bolak-balik menyeka air mata.
Ia mengetahui program operasi katarak gratis ini minggu lalu, dari pemberitahuan pihak rumah sakit yang datang ke nagori. Tahun ini, tiga warga dari Bukit Maraja ikut mendaftar.
Meski deg-degan, terutama karena mayoritas pasien yang ia lihat adalah lansia, Ngatino tetap yakin untuk menjalani operasi. Ia belum pernah mencoba obat alternatif atau pengobatan lain. Kata dokter, ia kena pterigium, bukan katarak.
Pterygium adalah pertumbuhan jaringan jinak atau non-kanker pada selaput bening mata (konjungtiva) yang dapat meluas hingga ke kornea. Kondisi ini sering disebut mata peselancar karena umum terjadi pada orang yang banyak terpapar sinar matahari, angin, debu, atau asap, seperti peselancar, petani, atau pekerja lapangan. Pterygium dapat menyebabkan gejala seperti mata merah, gatal, perih, rasa mengganjal, atau penglihatan kabur jika sudah menutupi pupil.
“Kalau sudah sembuh nanti, bisa kerja lebih enak,” katanya.
“Terima kasih kepada PTAR. Semoga kegiatan ini tetap ada setiap tahun. Karena jelas sangat membantu warga kurang mampu," ungkapnya.
Harapan dari Ruang Operasi
Cerita Ernawati dan Ngatino mengingatkan bahwa kehilangan penglihatan bukan sekadar masalah medis—ia merenggut kemandirian sehari-hari.
Operasi Katarak Gratis PTAR bukan hanya untuk mendapatkan tindakan medis, tetapi juga kesempatan untuk kembali pada hidup yang dulu.
Bagi Ernawati, itu berarti tidak lagi tersandung, tidak lagi memasak sambil menebak, tidak lagi bergantung sepenuhnya pada keluarga.
Bagi Ngatino, itu berarti bekerja kembali tanpa pedih, tanpa air mata yang terus menetes tiap kali matahari terik.
Program operasi katarak gratis PTAR di Siantar ini menjadi lanjutan dari kegiatan serupa yang sebelumnya digelar di berbagai wilayah sekitar operasional, termasuk di Tapanuli Selatan, Pandan, dan beberapa daerah lain.
Program Operasi Katarak Gratis PTAR pada 2025 dijalankan sebagai rangkaian di lima lokasi.
Tahun ini PTAR menargetkan 1.400 mata untuk dioperasi di seluruh lokasi. Hingga pelaksanaan di Siantar, tercatat sekitar 900-an mata telah terealisasi dari target tersebut.
Senior Manager Community PTAR, Christine Pepah, menyampaikan bahwa antusiasme masyarakat pada program tahun ini sangat tinggi. Di Siantar, jumlah pendaftar melebihi kuota lokasi sehingga sebagian pasien harus dialihkan atau dijadwalkan ulang karena keterbatasan kapasitas dokter.
“Hari ini luar biasa. Karena kuota dan kapasitas dokter sudah penuh, sebagian peserta harus kami pindah ke jadwal besok atau dialihkan ke Medan. Kami bersyukur, antusiasmenya luar biasa dari tahun ke tahun,” ujar Christine.
Ia juga menekankan bahwa keberhasilan operasi tidak hanya soal tindakan di meja operasi, melainkan juga perawatan pascaoperasi yang melibatkan kepatuhan pasien dan dukungan keluarga.
“Itu tidak akan terlaksana sukses kalau pasca operasi tidak dilakukan perawatan diri sendiri. Jadi selalu itu kami tekankan kepada pasien — tidak akan berarti kalau tidak ada kerjasama dari pasien itu sendiri dan keluarganya,” Christine menjelaskan.
Christine menambahkan bahwa mayoritas respons setelah operasi bersifat positif. Banyak pasien melaporkan peningkatan kualitas hidup: kembali bekerja, bisa beraktivitas normal, anak kembali sekolah dengan penglihatan yang membaik, bahkan guru mengaji yang kembali bisa membaca huruf.
“Respon masyarakat selalu positif. Banyak testimoni yang bilang hidup mereka berubah total setelah bisa melihat jelas kembali,” katanya. (Mea)
Editor : Editor Satu