Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

Kecap Umaku Hadir dari Semangat Para Lansia Batangtoru

SAMMAN • Kamis, 13 November 2025 | 21:53 WIB
Nek Jumasih menunjukkan produk tauco dan kecap bikinannya, di dapur produksi Umaku di Kelurahan Aek Pining, Kecamatan Batangtoru, Tapanuli Selatan, Kamis (13/11/2025). (Samman/MetroDaily)
Nek Jumasih menunjukkan produk tauco dan kecap bikinannya, di dapur produksi Umaku di Kelurahan Aek Pining, Kecamatan Batangtoru, Tapanuli Selatan, Kamis (13/11/2025). (Samman/MetroDaily)

TAPSEL, METRODAILY - Jumasih kini memasuki usia 71 tahun. Tetapi langkahnya masih lincah, dengan semangat yang tinggi dalam berusaha. Nenek dari 11 cucu ini punya produk unggulan berupa bumbu masakan, berpusat produksi di Gang Kurnia, Lingkungan I, Kelurahan Aek Pining, Kecamatan Batangtoru, Kabupaten Tapanuli Selatan.

Sebelum tahun 2015 lalu, Nek Jumasih merupakan petani. Bersama sang suami, Almarhum Yusuf. Sepeninggal suami di tahun itu, Nek Jumasih gelisah jika tidak bergerak atau bekerja. Meski pun 6 anak-anaknya dapat mencukupi kebutuhan sehari-harinya.

Nek Jumasih pandai mengolah kerupuk. Dan itu juga dimulainya sebagai usaha awal. Namun, sesekali ia juga membuat olahan kacang kedelai berupa kecap manis, sebagai kebutuhan rumah atau buah tangan jika bepergian ke tempat saudara maupun teman sebayanya.

Suatu waktu, Nek Jumasih bergabung dengan kelompok orang tua lanjut usia (lansia) dalam berolahraga senam lansia yang digerakkan oleh pemerintah kelurahan. Kelompok lansia ini kemudian menamakan diri sebagai; Umaku, yang berarti ibuku jika diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia.

“Jadi, waktu itu ibu lurah tanya apa lagi kegiatan kita?. Terus, ada kawan yang ibu kasih kecap, dia mengusulkan kalau kita lansia ini buat kecap ini saja. ‘Mbok Jumasih ini pandai buatnya’, katanya mengusulkan,” kilas Nek Jumasih dari dapur pengolahan produknya, Kamis (13/11/2025).

Maka jadilah kelompok Umaku, sebagai perkumpulan lansia yang membuat produk-produk turunan kedelai. Seperti tauco, kecap manis dan kecap asin. Jumlah lansia yang terlibat saat itu sebanyak 25 orang. Dan semuanya perempuan, kelompok yang terbilang renta dan rentan.

Awal-awal usaha Umaku di antara tahun 2023—2024, langsung mendapat perhatian dari PT Agincourt Resources (PTAR), perusahaan pengelola Tambang Emas Martabe. PTAR kemudian membangun dapur produksi, sebagai pabrik tauco dan kecap Umaku. Berdiri di belakang rumah Nek Jumasih. Dengan luas 4×6 meter, berkonstruksi beton dilengkapi fasilitas penjemuran, dan meja dapur terdiri dari wastafel dan tempat memasak.

Dalam hal legalitas, segera Umaku mendapat izin pangan industri rumah tangga (P-IRT) dan juga sertifikasi produk halal. Hal ini dikejar agar produk-produknya semakin mudah memasuki pasar. Dan diterima dengan baik oleh masyarakat.

Nek Jumasih menguraikan proses produksi tauco dan kecap. Butuh waktu empat bulan lamanya. Untuk tauco, dimulai dari perebusan kacang, fermentasi selama 3 hari, lalu penjemuran. Proses penjemuran yang bikin lama, setiap hari selama empat bulan bahan rendaman kedelai dalam wadah harus menadah sinar matahari. Dan bagian bangunan dapur dengan atap terbuka di sini sangat membantu.

“Kecap, dulu aku bikin dari kuah tauco itu, setelah selama dua bulan aku ambil kuahnya, diolah dengan cara dimasak. Sekarang gak lagi, karena lama,” cerita Nek Jumasih.

Untuk kecap, prosesnya sekarang dengan cara kacang kuning disangrai, dicuci dan direbus. Setelah direbus baru difermentasi kemudian. Yang membedakan antara kecap asin dan kecap manis, ialah campurannya. Kecap asin dicampur dengan garam beriodium, dan kecap manis dengan campuran gula aren.

Setelah semua proses selesai, bahan jadi itu kemudian ditakari dan dimasukkan ke dalam kemasan botol. Botol kemasan ini didapat dari pasar digital, dibantu cucu Nek Jumasih. Selanjutnya diberikan merek, label tanggal produksi dan kadaluwarsa.

Butuh Tenaga Muda dalam Pemasaran

Nek Jumasih dan lansia lainnya tak lagi leluasa. Bahkan dari 25 anggota awal, sekarang tersisa 3 orang yang aktif. Dan Nek Jumasih yang merupakan ahli dalam produksinya, ia juga kadang yang memasarkan produknya. Hal itu membuat penjualan seadanya.

“Kita mau bikin banyak, tapi karena gak ada marketing jadi susah. Kalau ada yang pesan, baru kita bikin banyak,” Nek Jumasih sedikit mengeluh.

Rerata produksi Umaku saat ini 70 botol setiap bulan untuk masing-masing jenis produk. Dibanderol dengan harga Rp 10 ribu untuk tauco dengan takaran 250 ml, kecap manis Rp 10 ribu dan kecap asin Rp 7 ribu dengan takaran masing-masing 140 ml.

Satu lusin untuk masing-masing produk ini dipasarkan oleh Bagas Silua, sebuah toko retail sebagai etalase produk-produk UMKM lokal Batangtoru yang dibangun oleh PTAR. Letaknya di depan gerbang situs Tambang Emas Martabe.

Pada awal-awal produksi dulu, Yuni (44) anak Nek Jumasih, pernah ikut memperjual-belikan produk Umaku. Dan ia bisa menjual 13 lusin dari 14 lusin kecap dan tauco yang dibawanya, dengan menawarkan langsung ke setiap warga di daerah Angkola Sangkunur.

“Sebenarnya itu kendalanya, marketing, yang muda-muda perlu sebagai salesnya. Kan ibu-ibu ini sudah tua, tapi kadang mereka juga jualkan ke pekan, kalau nggak waktu musim pesta, begitu baru omzet bertambah,” kata Yuni, mengaku tak berhak terlibat mengurusi usaha kelompok lansia ini.

Hal yang sama pernah dikeluhkan oleh Ketua Umaku, Masdalena Lubis dalam kegiatan pembinaan UMKM yang dilaksanakan Yayasan Dharma Bhakti Astra berkolaborasi dengan PTAR pada September 2025 lalu.

“Untuk saat ini kelemahannya di pemasarannya, masih titip warung-warung. Tapi kalau musim pesta seperti saat ini omzet bisa naik. Penjualan hari kemarin saja dapat Rp. 250 ribu,” ungkapnya saat itu.

Kendala lain ialah manajemen dan pencatatan dan pengelolaan keuangan. Seperti kata Jumasih, kadang ia bingung mencari modal dalam belanja bahan baku. Karena hasil penjualan hari ini, bercampur dengan keperluan lain.

Melalui UMKM, Martabe Ingin Ekonomi Batangtoru Mandiri dan Berkelanjutan

Manajer Umum Operasional PTAR Rahmat Lubis pada September 2025 lalu, mengungkapkan, dari 3.500 pekerja Tambang Emas Martabe, sebanyak 2.500 di antaranya merupakan warga yang berasal dari Batangtoru dan sekitarnya. Yang berdampak langsung bagi perekonomian di daerah ini.

Maka, PTAR pun berinisiatif membina UMKM lokal demi ekonomi daerah ini menjadi mandiri dan berkelanjutan. Meski pun, kelak operasi tambang telah berakhir.

“Yang namanya perusahaan tambang pasti tutup. Suatu saat tambang akan tutup, dan 2.500 orang yang bekerja akan kembali.
Ibu-ibu (pelaku usaha) mudah-mudahan usaha UMKM-nya dimajukan, barangkali 8—9 tahun nanti, ibu-ibu yang jadi penopang ekonomi Batangtoru,” katanya saat itu dalam membuka kolaborasi pembinaan dengan Yayasan Dharma Bhakti Astra.

Pada tahu 2024, sesuai data yang diterbitkan Agincourtresources.com, PTAR tercatat telah bermitra dengan 56 pelaku usaha lokal dari Tapanuli Selatan, dengan nilai transaksi mencapai USD 9,2 juta. Ini bagian dari semangat Living in Harmony yang dibawa PTAR, dalam menyeimbangkan operasional perusahaan dengan pembangunan sosial masyarakat.

“Kami ingin menciptakan model bisnis yang bisa diwariskan, dikelola mandiri, dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Inisiatif tersebut dirancang untuk menjadi ruang tumbuh pelaku wirausaha lokal,” kata Rahmat. (SAN)

Editor : Editor Satu
#PTAR #umkm #Agincourt Resources