TAPSEL, METRODAILY - Fasilitas persemaian, atau Nursery Tambang Emas Martabe tidak hanya sebagai persiapan reklamasi pasca tambang. Tetapi juga, menjadi pusat penelitian dan rehabilitasi tumbuhan spesies lokal Hutan Batangtoru, termasuk yang berstatus rentan dan langka.
Pada tahun 2024, PT Agincourt Resources (PTAR), sebagai pengelola Tambang Emas Martabe-Batangtoru, memperluas area nursery.
Pada saat didirikan tahun 2012, nursery masih memiliki luas 3.000 meter persegi, namun kini dua kali lipat menjadi 6.000 meter persegi. Dilengkapi fasilitas pendukung seperti laboratorium mikoriza mikrobiologi, laboratorium kultur jaringan, dan herbarium.
Seiring dengan itu, persediaan bibit tanaman semakin melimpah hingga mencapai 67.000 bibit. Dan saat ini mampu memproduksi 5.000--6.000 bibit setiap bulan. 70 persen di antaranya merupakan tanaman lokal yang banyak tumbuh di kawasan Ekosistem Batangtoru.
"Ada 63 jenis tanaman lokal yang sedang kita bibit di sini. Anakannya kita ambil dari hutan, tetapi kadang menyesuaikan musim juga, kalau jenis buah-buahan," terang Yuni Pulungan, petugas senior di Departemen Lingkungan PTAR, Senin (10/11/2025).
Mencari benih tanaman lokal di hutan, bukan perkara mudah. Dan merawatnya kemudian juga memiliki kesulitan tersendiri, menyesuaikan karakteristik masing-masing spesies.
Tetapi, seperti Yuni, orang-orang di nursery sudah khatam dalam memperlakukan setiap anakan tumbuhan yang diambil dari area hutan.
Maka ada tiga bagian area di nursery ini. Area khusus di bawah usia 1 bulan, area tersendiri berusia di bawah 3 bulan, dan area terbuka untuk tumbuhan siap tanam.
Petugas rutin melalukan pemantauan, dan mengamati karakteristik masing-masing spesies. Termasuk LCC (Legume Cover Crop), sejenis tumbuhan kacang-kacangan dan perdu.
"Tanaman lokal itu yang diambil, kan bayinya dari bawah pohon yang unggul, berusia seminggu sampai satu bulan, masih butuh adaptasi. Dan pertimbangan lainnya, durasi waktu dari hutan sampai ke nursery. Jangan sampai anakan ini mati," Yuni menunjukkan 3 area perawatan sesuai usia tumbuhan.
Tak jarang Yuni masygul, ketika anakan yang dibawanya mati. Meski pun memasuki area hutan memberikannya tantangan dan kesenangan tersendiri. Tetapi baginya, anakan tumbuhan seperti makhluk hidup lainnya, mesti hidup, tumbuh dan berkembang.
Bagi Yuni dan petugas nursery lainnya, memasuki hutan menjadi kebiasaan. Sekali dua hari, mereka turun di area yang sudah ditentukan sesuai dengan jenis tanaman yang ingin dicari. Dengan perangkat keselamatan, petugas juga harus beregu sebagai body system untuk saling melindungi.
"Karena medan dan cuaca di hutan ekstrem, tidak bisa diprediksi," kata Yuni, gadis botanifilia berasal dari Batangtoru.
Tanaman Lokal Kunci Keanekaragaman Hayati
Hutan Batangtoru dari blok barat di Kecamatan Batangtoru, Kabupaten Tapanuli Selatan berdekatan dengan wilayah operasi Tambang Emas Martabe.
Sementara kawasan ekosistem itu merupakan habitat Orangutan Tapanuli. Sebagai inisiatif lingkungan, Nursery Martabe pun punya fokus dalam pengayaan tanaman lokal, utamanya yang menjadi pakan bagi satwa endemik yang berstatus kritis itu.
Seorang konservasionis yang kerap mengamati orangutan di Hutan Batangtoru, Decky Candrawan mengungkapkan, sifat satwa yang disebut sebagai Mawas itu, bertahan dan bersarang di tajuk pohon yang tinggi. Karena itu, pepohonan berbuah sangat berarti dalam melindungi satwa kunci ekosistem Batangtoru ini.
"Kami pernah mengamatinya secara intens dalam 3 bulan, dari sifatnya mencari makan, Orangutan Tapanuli bertahan di atas pohon dan mengandalkan buah-buahan, dedaunan, atau telur burung. Dia turun jika makanannya sudah terancam," katanya.
Sebagai penghuni asli hutan Batangtoru, Orangutan Tapanuli berperan penting dalam menopang keanekaragaman hayati dan fungsi ekosistem, dengan menyebarkan bibit-bibit dari buah yang dimakannya.
"Maka perlu sekali merehabilitasi ekosistem Batangtoru, dengan pakan asli sejenis hopong dan torop, misalnya. Itu akan menjaga keanekaragaman, juga menghindari konflik dengan manusia," ungkapnya.
Nursery Martabe saat ini mengembangkan tanaman lokal sejenis torop, kepundung, nangka hutan, jontik-jontik, rambutan, manggis, dan durian.
Nama-nama itu dari spesies Baccaurea, Artocarpus, Durio, Nephelium, dan Garcinia. Dan tumbuhan lokal ini, selain untuk merehabilitasi lahan yang dipakai Tambang Emas Martabe, juga disebar ke kawasan konservasi dan Hutan Batangtoru.
Untuk rehabilitasi lahan, pada tahun ini Nursery memiliki target penyediaan tanaman sebanyak 2.700 bibit, di lahan secara total seluas 2.44 hektare. Dimulai dengan penanaman tanaman pionir sejenis trembesi, waru, dan sengon, selanjutnya lahan yang direhabilitasi nantinya akan disisip dengan tanaman lokal.
"Beberapa jenis tanaman lokal tadi, itu yang diusulkan konsultan," kata Mahyu Dharsono, Supervisor Rehabilitasi Lingkungan PTAR.
Baca Juga: 125 Guru Madina Terancam Gagal Jadi PPPK Paruh Waktu 2025
Sejauh ini, Martabe sudah menanam 70.000 bibit, termasuk di area hutan konservasi. Dan sejak Tahun 2012, luas lahan yang direhabilitasi sudah mencapai 40 hektare. Dengan tiga periode reklamasi, antara tahun 2012--2016, 2017--2021, dan antara tahun 2022--2026 yang sedang berjalan. Selanjutnya, periode ke empat tahun 2027--2031, dalam pengusulan.
"Di luar reklamasi, kita saat ini sedang menyiapkan tanaman lokal, yang nanti akan ditanam di Kebun Raya Sipirok, tetapi kita masih menunggu berapa jumlah kebutuhannya dari otoritas terkait di sana," timpal Mahyu.
Mikoriza untuk Tanah Subur, Kultur Jaringan Buat Tanaman Unggul
Luthfi Hanafi, peneliti dan konsultan ahli dari Institut Pertanian Bogor bertanggungjawab di Laboratorium Mikoriza Mikrobiologi dan Laboratorium Kultur Jaringan Nursery Martabe. Saat ini, ia fokus mengambangkan mikoriza arbuskula untuk tanaman lokal.
Mikoriza, sederhananya adalah jamur kecil yang disuntikkan pada akar tanaman untuk membantu tanaman mendapat nutrisi dan air dari tanah sekaligus menyuburkan tanah, dan jamur mendapatkan makanan dari tanaman.
Mikoriza, berfungsi membantu tanaman lebih mandiri setelah ditanam tanpa harus menggunakan pupuk lebih banyak. Mikoriza diberikan pada anakan tumbuhan, atau benih awal, yang masih memiliki akar serabut lunak.
"Mikoriza, masuk ke dalam akar. Kemudian menjelajah jauh ke dalam tanah, menyerap berbagai nutrisi dalam tanah," jelas Luthfi.
Di Nursery Martabe, mikoriza diambil dari top soil (tanah subur lapisan atas) di Batangtoru. Alasannya, lebih bisa beradaptasi dengan tanaman lokal, karena fokusnya mengembangkan tanaman lokal.
Sementara untuk kultur jaringan, sederhananya merupakan upaya memperbanyak tumbuhan dengan jenis dan keunggulan yang sama dari tumbuhan inang. Dan dalam waktu yang singkat akan memperbanyak bibit tanaman baru.
Di Laboratorium Kultur Jaringan, tim ahli saat ini dalam tahap riset, dan sedang melakukan kloning terhadap tanaman lokal yang inangnya bagus atau unggul.
"Jenis anggrek sedang dikembangkan di kultur jaringan, di sini ada anggrek ungu. Dan kita sedang mencari anggrek yang endemik di sini," ungkap Mahyu Dharsono.
Inovasi lain dari nursery ini, di antaranya pengerahan truk hydroseeding, atau penyemprotan benih jenis tumbuhan LCC pada tanah lereng untuk mencegah erosi.
Kemudian, ada juga seedball, tanah berunsur hara dan berisi benih tanaman lokal yang dibentuk seperti bola kecil, memudahkan persebaran benih pada kawasan hutan.
Fungsi Edukasi
Nursery Martabe juga berperan dalam mengakomodasi pelajar dan mahasiswa yang ingin belajar dalam segala bentuk kegiatan persemaian, penanaman dan pengenalan tanah dan tumbuhan. Sebagai pemagang. Seperti saat ini, dari 34 orang yang terlibat dalam nursery, beberapa di antaranya merupakan pemagang.
"Kita transfer ilmu, dengan harapan mereka juga menyampaikan di sana, misal membuat media tanam seperti apa, jenis tanamannya seperti apa, dan yang paling penting itu tanggung jawab mereka di sini bisa mereka tularkan di sana," Mahyu, menunjukkan beberapa pemagang yang tengah sibuk membersihkan area perawatan bibit.
Mahyu menerangkan, meski pun nantinya operasi tambang telah selesai, nursery ini akan tetap beroperasi. Karena PTAR sebagai pengelola, masih memiliki kewajiban untuk melaksanakan reklamasi pasca tambang hingga seluruh area yang dibuka 100 persen dapat direhabilitasi sesuai yang ditetapkan pemerintah.
Maka setelah itu, seluruh area akan dikembalikan kepada negara termasuk nursery ini. Mahyu dan petugas lainnya berharap fungsi nursery ini dapat terus dipertahankan keberadaannya. Menjadi tempat meneliti, belajar dan memajukan masyarakat tani.
“Nursery dan kawasan sekitar dapat dikembangkan menjadi ruang edukasi lingkungan bagi anak selokah, akademisi dan masyarakat,” harapnya. (SAN)
Editor : Editor Satu