Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

Pelaut PIS, Urat Nadi Distribusi Energi Indonesia dari Laut ke Penjuru Negeri  

Editor Satu • Jumat, 31 Oktober 2025 | 11:15 WIB

 

Kapal Pertamina Gas 1: Kapal Pertamina Gas 1 (PG 1) milik Pertamina International Shipping (PIS) melaju menuju pelabuhan.
Kapal Pertamina Gas 1: Kapal Pertamina Gas 1 (PG 1) milik Pertamina International Shipping (PIS) melaju menuju pelabuhan.

Setiap hari, Indonesia meneguk energi dalam jumlah masif—sekitar 1,6 juta barel BBM. Angka itu menempatkan negeri ini sebagai salah satu konsumen energi terbesar di Asia Tenggara. Di balik kebutuhan besar itu, ada tangan-tangan pelaut Pertamina International Shipping (PIS) yang memastikan energi tetap mengalir, menyalurkan minyak mentah, BBM, dan LPG ke seluruh penjuru negeri melalui jalur laut kombinasi darat.

----------------------------

Dame Ambarita, Medan

----------------------------

“Saya baru saja pulang dari pelayaran membawa LPG dari Amerika Serikat dan Timur Tengah. Di laut sekitar tiga bulan. Kebetulan ini lagi cuti,” ujar Captain Andhika Dwi Cahyo Kumolo dengan suara kalem, saat sesi wawancara melalui Zoom, belum lama ini.

Andhika adalah nahkoda Pertamina Gas I (PG-1), kapal pertama milik Pertamina berjenis Very Large Gas Carrier (VLGC). Kapal produksi Korea Selatan ini dibangun pada 2013, memiliki Deadweight Tonnage (DWT) atau kapasitas muatan 54.433 ton dan panjang 225,81 meter.

Awalnya PG-1 berlayar di rute domestik, namun sejak 2015 menembus pelayaran internasional—ke Uni Emirat Arab, Malaysia, China, hingga Amerika Serikat. “Masuk ke US Coast Guard itu salah satu syarat tertinggi. Tahun 2021, PG-1 bisa memenuhi itu,” kata Andhika bangga.

Muatan terbesar yang pernah dibawanya mencapai 45.000 metrik ton LPG, menjadikannya salah satu kapal andalan PIS dalam distribusi energi nasional. Dalam beberapa tahun ke depan, PG-1 juga direncanakan berlayar ke Australia dan Jepang.

 

Captain Andhika (kiri) dan Captain Adi (kanan) saat mengikuti wawancara virtual melalui Zoom. Keduanya berbagi pengalaman sebagai pelaut Pertamina International Shipping (PIS).
Captain Andhika (kiri) dan Captain Adi (kanan) saat mengikuti wawancara virtual melalui Zoom. Keduanya berbagi pengalaman sebagai pelaut Pertamina International Shipping (PIS).

Standar Keselamatan dan Ramah Lingkungan

PG-1 bukan sekadar kapal pengangkut gas. Standar keselamatannya mengikuti IGC Code, ISGOTT, dan SIGTTO, lengkap dengan sistem deteksi gas, alat pemadam kebakaran, serta tangki bertekanan yang tahan suhu ekstrem.

“Kru wajib memahami risiko LPG—mulai dari ledakan uap hingga bahaya suhu dingin ekstrem,” ujar Andhika. Prosedur keselamatan dimulai dari penanganan muatan, pengawasan tali dan tangga, hingga simulasi evakuasi darurat.

PG-1 juga dilengkapi teknologi scrubber untuk mengurangi emisi karbon. “Kami tidak hanya mengangkut energi, tapi juga menjaga keselamatan kru dan lingkungan,” katanya.

Terkait pengakuan Captain Andhika, Corporate Secretary PIS, Muhammad Baron mengakui PIS terus memperbarui armadanya dengan teknologi mutakhir. Kapal VLGC terbaru—Pertamina Gas Tulip, Bergenia, Caspia, dan Dahlia—menggunakan teknologi dual-fuel yang ramah lingkungan dan efisien bahan bakar.

Selain efisiensi energi, keselamatan kerja menjadi prioritas utama. Dari 102 kapal milik PIS, sebanyak 58 kapal meraih skor 3,15 dari 5 dalam Ship Inspection Report (SIRE). Hingga kini, PIS mencatat zero fatality dan lebih dari 40,5 juta jam kerja aman.

“Komitmen kami terhadap keselamatan dan perlindungan tenaga kerja sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan. Armada kami tak hanya kuat secara teknis, tetapi juga tangguh secara moral,” ujar Baron, dalam keterangan tertulisnya.

 

Rutinitas di Laut: Disiplin, Cuaca, dan Rindu Rumah

Bagi Captain Andhika, menjadi nahkoda bukan sekadar mengemudikan kapal. Ia bertanggung jawab atas awak kapal, navigasi, operasional, dan keselamatan seluruh kru. Penghargaan low observation dari lembaga internasional menjadi bukti komitmennya menjaga kinerja dan keselamatan.

“Setiap negara punya regulasi berbeda. Kami harus selalu update aturan internasional, sebelum berlabuh,” katanya.

Tantangan di laut pun tak hanya soal aturan. Cuaca ekstrem bisa menjadi ujian berat. Dalam satu pelayaran dari Madagaskar, mereka menghadapi badai di Tanjung Harapan, Afrika Selatan. Kecepatan angin mencapai 68 knot dan gelombang hingga 9 meter selama lima hari. “Tidur harus melintang agar tidak jatuh menggelundung. Piring pun berlarian di atas kapal,” kenangnya sambil tersenyum.

Rute PG-1 kini menjangkau kawasan Asia, Australia, Afrika, Timur Tengah, dan Amerika Serikat. “Tugas kami memastikan kapal aman agar pasokan energi negeri tetap lancar,” ujarnya.

Kapal Pertamina Gas I diawaki sepenuhnya oleh pelaut Indonesia. PIS secara rutin memfasilitasi pelatihan dan sertifikasi kompetensi agar mereka mampu bersaing di tingkat global.

Untuk mengatasi kebosanan dan rasa rindu keluarga, PIS melengkapi kapal dengan fasilitas gym, treadmill, karaoke, PlayStation, dan televisi. “Menu makanan juga bergizi, jadi fisik dan mental tetap terjaga,” ujar Captain Andhika.

Kapal Papandayan: Kapal tanker Papandayan milik PIS melintas di perairan Nusantara. Kapal ini bertugas mengangkut BBM ke berbagai wilayah, termasuk daerah terpencil.
Kapal Papandayan: Kapal tanker Papandayan milik PIS melintas di perairan Nusantara. Kapal ini bertugas mengangkut BBM ke berbagai wilayah, termasuk daerah terpencil.

MT Papandayan: Pengangkut Minyak Mentah

Kisah serupa datang dari Captain Adi Nugroho, nahkoda MT Papandayan, kapal tanker pengangkut minyak mentah milik PIS. Kapal yang dibangun tahun 2019 ini memiliki panjang 157 meter, lebar 27,7 meter, tinggi 12 meter, dan kapasitas muatan 17.500 ton.

MT Papandayan beroperasi di perairan domestik—rute terbaru adalah mengambil minyak dari pelabuhan Dumai menuju Palembang, melewati Sungai Musi untuk mendistribusikan energi ke terminal BBM. Kapal ini dirancang aman untuk perairan dangkal dan sudah memenuhi standar keselamatan internasional.

Ancaman bukan hanya cuaca, tetapi juga perompak. Seperti pernah dialaminya di perairan barat Filipina. Tapi kru telah mendapat pelatihan menghadapi situasi darurat. “Kalau situasi meningkat, kami naikkan level keamanan dan tambah personel jaga,” katanya.

Untuk menjaga kesehatan mental dan produktivitas awak kapal selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan di kapal, PIS menyediakan fasilitas hiburan dan olahraga disediakan untuk menjaga.

“Dulu, pelaut itu masalah sehari-harinya adalah komunikasi dengan keluarga. Sulit, mahal pula. Sekarang di PIS, saya sering berlayar di perairan domestik dan masalah itu tidak dialami lagi. Perusahaan menyediakan fasilitas komunikasi,” ujarnya.

 

PIS: Tulang Punggung Energi Nasional

PIS menjadi ujung tombak distribusi energi Indonesia. Corporate Secretary PIS, Muhammad Baron menjelaskan, rute pelayaran PIS mencakup wilayah terpencil dan terluar, dari Sabang hingga Merauke.

“Cuaca ekstrem dan gelombang tinggi menuntut kapal tangguh dan pelaut berpengalaman. Tapi pelaut PIS terbukti mampu menjaga keamanan kapal, muatan, dan kru,” ujarnya.

Untuk menjamin keandalan, PIS menerapkan pemantauan armada secara real-time, perencanaan rute cermat, dan perawatan kapal berkala.

Dalam menghadapi ancaman geopolitik global—seperti konflik Rusia-Ukraina atau ketegangan di Laut Merah—PIS menyiapkan rute alternatif dan berkoordinasi dengan otoritas pelabuhan serta lembaga keamanan internasional.

“Dengan langkah-langkah ini, PIS mampu menjaga pasokan energi nasional tetap aman, andal, dan tepat waktu. Tidak ada henti untuk energi Indonesia,” tegas Baron.

 

Ekspansi Rute dan Jaringan Global

Tahun ini, PIS memperluas jaringan pelayarannya dengan menargetkan penambahan 10–15 rute internasional baru, termasuk ke wilayah potensial seperti Amerika Selatan, seiring beroperasinya kilang baru di sekitar Guyana.

“Saat ini PIS telah melayani 60 rute internasional, dan hingga akhir 2025 PIS menargetkan 70–75 rute,” kata Baron.

Pertumbuhan ini luar biasa cepat. Pada 2021, PIS hanya memiliki 11 rute internasional. Jumlah itu naik menjadi 18 pada 2022, 26 pada Juli 2023, dan 50 pada November 2023. Kini, PIS telah mencapai 65 rute internasional—membuktikan transformasi menuju pemain global.

Untuk memperkuat posisi di pasar dunia, PIS juga mengembangkan jaringan kantor internasional. Tahun 2018 Kantor Singapura menjadi basis bisnis Asia Tenggara dan Asia Pasifik. Tahun 2022, Kantor Dubai menjadi pintu masuk ke Timur Tengah dan Mediterania. Dan tahun 2025, Kantor London untuk memperluas penetrasi ke Eropa dan Amerika

“Langkah ini menjadikan PIS tak hanya kuat di domestik, tapi juga bertransformasi menjadi perusahaan pelayaran energi kelas dunia,” ujar Baron.

Kini, PIS mengelola lebih dari 700 kapal, termasuk 102 kapal milik sendiri yang diawaki sekitar 10.000 pelaut. Perusahaan juga mengoperasikan 6 terminal energi dengan kapasitas penyimpanan 922.000 kiloliter BBM dan 284.500 metrik ton LPG.

Dalam setahun, armada PIS mengangkut lebih dari 161 miliar liter energi melalui 20.000 perjalanan kapal ke seluruh Indonesia. Terminal Tanjung Sekong di Banten bahkan menangani 40 persen pasokan LPG nasional.

 

Menjaga Nama Indonesia di Lautan Dunia

Kisah Captain Andhika dan Captain Adi mencerminkan semangat pelaut Indonesia yang menjaga pasokan energi nasional sekaligus mengharumkan nama bangsa di kancah global.

“Motivasinya selaras dengan misi PIS: menjaga pasokan energi, memperkuat daya saing pelaut Indonesia di industri maritim global, sekaligus membawa nama Indonesia ke negara-negara yang kami kunjungi,” ujar Andhika.

Keberhasilan PIS tidak lepas dari armada modern, digitalisasi operasional, pelatihan kru, dan standar keselamatan tinggi. Sistem logistik energi yang mereka jalankan menjadi kunci efisiensi dan ketahanan energi nasional.

“Dari hulu hingga hilir, PIS memastikan pasokan energi berjalan lancar, sekaligus mendorong ketahanan energi nasional,” kata CEO PIS, Surya Tri Harto.

***

Di balik setiap liter BBM, LPG, dan petrokimia yang tiba di kota hingga pelosok desa, ada pelaut Pertamina International Shipping (PIS) yang bekerja di tengah cuaca ekstrem, mematuhi regulasi internasional, dan menahan rindu terhadap keluarga.

Mereka menjadi urat nadi distribusi energi nasional—menjaga pasokan tetap terjaga dan Indonesia terus bergerak. (dame ambarita)

 

Editor : Editor Satu
#pelaut #pertamina gas 1 #pertamina international shipping #kapal papandayan #pis