Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

Dari Meja Gadai ke Genggaman: Transformasi Digital Pegadaian

Editor Satu • Selasa, 14 Oktober 2025 | 17:28 WIB

Salahsatu Magenta di Kantor Cabang Pegadaian Pematangsiantar mengajari nasabah melakukan transaksi tabungan emas di aplikasi Pegadaian Digital, Tring!.
Salahsatu Magenta di Kantor Cabang Pegadaian Pematangsiantar mengajari nasabah melakukan transaksi tabungan emas di aplikasi Pegadaian Digital, Tring!.

Dulu, Pegadaian identik dengan tempat orang kepepet—menggadaikan barang berharga demi uang cepat. Kini, wajah itu berubah total. Lewat aplikasi Pegadaian Digital Tring!, masyarakat bisa menabung emas, mencicil batangan, hingga melakukan gadai emas hanya lewat sentuhan jari: cepat, inklusif, dan dekat dengan kebutuhan masyarakat masa kini.

-------------------------------------------

Oleh: Dame Ambarita – Pematangsiantar

-------------------------------------------

Jumat pagi di Jalan Thamrin, Pematangsiantar, suasana Kantor Cabang Pegadaian tampak sibuk. Suara panggilan nomor antrean bersahutan, berpadu dengan derap langkah nasabah datang dan pergi. Di ruang tunggu, sebagian orang menatap layar ponsel—bukan untuk bermain media sosial, tapi mengunduh atau memperbarui aplikasi Tring!, super app baru milik Pegadaian.

Di antara mereka, seorang perempuan muda tampak asyik memeriksa grafik harga emas di ponselnya. Namanya Inneke Malau (29), pegawai negeri asal Simalungun. “Tadinya datang mau cairin tabungan emas, tapi harga lagi naik. Jadi pikir-pikir dulu,” katanya sambil tersenyum dikulum.

Inneke mulai menabung emas lewat aplikasi Pegadaian sejak 2024, setelah arisan emas di kantornya berhenti. “Ternyata dari ponsel saja kita bisa nyicil emas mulai Rp50 ribu per bulan. Sekarang saldo saya sudah 10 gram. Lumayan buat tabungan masa depan,” ujarnya bangga.

Niatnya datang mencairkan emas, malah beralih memperbarui aplikasi ke versi Tring!, super app baru yang lebih praktis dan interaktif. “Sekarang lagi cek grafik harga. Ternyata ada pilihan produk investasi atau sekadar simpan saldo emas. Ini jadi mikir, mau cairin emas atau tambah lagi,” katanya tertawa lebar.

Di sudut lain, seorang gadis muda senyum-senyum melihat saldo emas di akunnya. “Tiap lihat saldo nambah, rasanya kayak menang kecil-kecilan. Sekarang hampir 20 gram,” ujarnya.

Ia mengaku menabung antara Rp200 ribu hingga Rp500 ribu per minggu. “Emas digital itu aman dan praktis. Dan enaknya, jadi lebih mikir sebelum tarik buat hal nggak penting,” cetusnya.

Tidak semua nasabah langsung beralih ke digital. Lidia Naiborhu (45), ibu rumah tangga asal Siantar, masih lebih nyaman datang ke kantor. “Saya udah install Tring, tapi tetap lebih yakin kalau ketemu petugas. Rasanya lebih tenang,” katanya.

 

Nurma Yunita (jilbab hitam), petugas frontliner Pegadaian Siantar, sedang sibuk melayani transaksi nasabah pegadaian secara manual.
Nurma Yunita (jilbab hitam), petugas frontliner Pegadaian Siantar, sedang sibuk melayani transaksi nasabah pegadaian secara manual.

Edukasi Digital: Dari Loket ke Kampus

Namun perubahan sedang berjalan. Di pojok ruang pelayanan, dua anak muda peserta program Magenta (Magang Generasi Bertalenta) sibuk membantu nasabah mengunduh aplikasi.

“Awalnya banyak yang takut salah klik, khawatir emasnya hilang,” ujar Jeremia Sihombing (24), peserta Magenta. “Tapi makin ke sini, mereka mulai percaya. Sehari bisa bantu 20 orang aktifkan akun Tring!” katanya.

Menurut Jeremia, peran Magenta penting dalam mendampingi nasabah agar berani beradaptasi. “Kadang kami duduk setengah jam cuma ngajarin ubah password,” ujarnya sambil tertawa. “Tapi begitu berhasil, mereka langsung semangat ngajak temannya.”

Petugas frontliner Nurma Yunita (24) juga aktif mengedukasi nasabah. “Kalau ada yang masih bayar cicilan manual, saya tawarkan coba lewat aplikasi. Biasanya mereka tertarik karena terbukti lebih cepat,” ujarnya.

Sejak pertengahan 2025, Pegadaian termasuk di Kota Pematangsiantar gencar mengampanyekan digitalisasi layanan dan #mengEmaskan Indonesia. Petugas rutin turun ke kampus, sekolah, dan kantor pemerintahan. Bahkan, dalam kegiatan Pasar Murah, edukasi digital ikut digelar.

“Sekarang sekitar 80 persen nasabah sudah terbiasa. Bahkan ibu-ibu datang cuma nanya cara top up saldo emas,” tutur Nurma.

Langkah edukasi ini terbukti efektif mempercepat adopsi digital, bahkan di kalangan nasabah dari desa-desa sekitar Siantar–Simalungun.

 

Ranita Sitanggang, Manajer Bisnis Pegadaian Pematangsiantar, mempromosikan Galeri 24 Emas, di kantor Pegadaian.
Ranita Sitanggang, Manajer Bisnis Pegadaian Pematangsiantar, mempromosikan Galeri 24 Emas, di kantor Pegadaian.

Lonjakan Tabungan Emas

Manajer Bisnis Pegadaian Cabang Pematangsiantar, Ranita Sitanggang, menyebut dampak transformasi digital terasa nyata. “Hampir separuh transaksi harian kini dilakukan secara online,” katanya.

Mayoritas pengguna adalah perempuan muda, ibu rumah tangga, dan pekerja kantoran. “Biasalah, perempuan ‘kan suka rasa aman. Mereka tertarik karena bisa beli emas mulai dari Rp50 ribu per bulan, tanpa harus punya uang besar,” tambahnya.

Antrean di kantor pegadaian kini jauh berkurang. “Kalau dulu, makan siang sering kelewat saking ramainya nasabah manual,” katanya terkekeh.

Uniknya, jumlah nasabah justru meningkat pesan. Bukti literasi keuangan tumbuh pesat di wilayah Siantar–Simalungun.

Hingga Agustus 2025, nasabah Tabungan Emas di Siantar mencapai 8.933 orang dengan total saldo setara 34 kilogram emas, naik tajam dari tahun sebelumnya. Dua produk paling diminati: Tabungan Emas dan Cicil Emas.

“Tabungan Emas memungkinkan masyarakat membeli emas dalam nominal kecil dan menyimpannya secara digital. Sedangkan Cicil Emas membantu mereka mencicil batangan sesuai kemampuan,” jelas Ranita.

 

Tring!: Satu Aplikasi, Semua Layanan

Peluncuran aplikasi Tring! pada Oktober 2025 menjadi tonggak penting digitalisasi Pegadaian. Aplikasi ini menggantikan versi lama “Pegadaian Digital”, tampil lebih segar dengan warna hijau khas Pegadaian dan terintegrasi dengan ekosistem BRI Group.

“Generasi muda tidak mau antre di loket. Mereka ingin semua lewat gawai. Kalau kita tidak berubah, kita akan ditinggal,” ujar Ranita.

Tring! memakai konsep One User ID – All Services, menghubungkan seluruh produk Pegadaian: Tabungan Emas, Cicil Emas Batangan, Gadai Tabungan Emas, hingga Deposito Emas

Selain transaksi emas, Tring! menyediakan layanan transfer saldo, notifikasi harga real-time, dan koneksi dengan aplikasi keuangan lain seperti BRImo dan LinkAja. “Sekarang, satu akun bisa untuk tabungan, cicilan, jual-beli emas, bahkan gadai ulang tanpa harus datang ke kantor,” lanjutnya.

Selain transaksi digital, Pegadaian kini memanfaatkan Artificial Intelligence (AI) untuk mempercepat layanan dan meningkatkan keamanan. Chatbot berbasis AI beroperasi 24 jam untuk menjawab pertanyaan, memandu pendaftaran, atau membantu transaksi.

AI juga berperan dalam deteksi anomali dan verifikasi identitas nasabah. “Setiap gram emas yang ditransaksikan dijamin fisiknya 1:1. Keamanan dan keaslian tetap jadi prioritas,” tegas Hery Gunardi, CEO BRI Group.

Direktur Utama PT Pegadaian Damar Latri Setiawan menegaskan bahwa digitalisasi ini merupakan komitmen Pegadaian dalam mendukung inklusi keuangan nasional. “Generasi muda tidak bisa dipisahkan dari teknologi. Jadi Pegadaian harus ikut di sana, di genggaman mereka,” ujarnya.

Secara nasional, hingga pertengahan 2025, pengguna aktif aplikasi Pegadaian mencapai 8,3 juta orang, dengan nilai transaksi digital menembus Rp120 triliun.

  

Nasabah antri menunggu giliran dilayani di Kantor Pegadaian Siantar. Sebagian minta dilayani cara menggunakan aplikasi Tring!.
Nasabah antri menunggu giliran dilayani di Kantor Pegadaian Siantar. Sebagian minta dilayani cara menggunakan aplikasi Tring!.

Emas: Gerakan Literasi Baru

Transformasi Pegadaian bukan hanya soal teknologi, tapi juga perubahan budaya finansial masyarakat. “Pegadaian bukan lagi simbol kepepet, tapi simbol kemandirian finansial. Bisa menabung, berinvestasi, bahkan belajar mengelola uang,” kata Ranita.

Ia bercerita tentang seorang pengemudi ojek online yang diajaknya menabung Rp20 ribu hingga Rp30 ribu per hari di Pegadaian. “Setahun kemudian, dia kaget karena saldo emasnya sudah tujuh gram. Terharu dia, karena tabungan emas itu bisa dicairkan atau digadai, terserah pilih yang mana,” kenangnya.

Ketika isu rekening dorman ramai beberapa waktu lalu, banyak warga justru memilih investasi emas di Pegadaian. “Ada yang deposito hingga ratusan juta. Itu bukti kepercayaan publik tetap tinggi,” ujarnya.

Lebih dari separuh penabung emas Pegadaian di wilayah Siantar dan Simalungun berasal dari kalangan perempuan produktif. Mereka bertransaksi tanpa harus datang ke kantor cabang Pegadaian di Kota Pematangsiantar—Jalan Thamrin dan Parluasan. Atau ke outlet-outlet yang tersebar di wilayah Siantar dan Simalungun. 

“Cukup lewat aplikasi Tring!, semua bisa dilakukan dalam genggaman. Gadai, beli, atau tabung emas—semudah sentuhan jari,” kata Ranita.

Ia mengajak masyarakat Siantar–Simalungun dan seluruh Indonesia untuk berani beradaptasi dengan layanan keuangan digital. “Cobalah, alami, dan rasakan langsung kemudahan bertransaksi bersama Pegadaian. Cepat, mudah, dan aman,” ujarnya, tersenyum.

Namun Ranita menegaskan, Pegadaian tidak ingin menumbuhkan euforia spekulatif. “Gunakan uang dingin ya, bukan uang kebutuhan harian. Dan ingat, emas itu penjaga nilai, bukan alat cepat kaya,” katanya tegas.

Meski serba digital, Pegadaian tak ingin kehilangan sentuhan manusiawi. “Masih banyak nasabah yang ingin bertatap muka, terutama orang tua. Kami pastikan mereka tetap dilayani dengan sabar,” ujar Ranita.

Nurma Yunita menambahkan, interaksi personal itu justru kekuatan Pegadaian. “Kadang nasabah cuma mau curhat soal usaha atau anaknya. Kami dengarkan, lalu beri saran. Itulah nilai khas Pegadaian—mengatasi masalah tanpa masalah,” ujarnya dengan nada promosi.

 

Dukungan OJK

Transformasi digital Pegadaian sejalan dengan arah kebijakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang mendorong terwujudnya industri pergadaian yang sehat, tangguh, adaptif, inklusif, dan bermartabat.

“Industri pergadaian berperan penting memperluas inklusi keuangan masyarakat, terutama pelaku usaha mikro, petani, dan nelayan,” ujar Mahendra Siregar, Ketua Dewan Komisioner OJK.

OJK baru saja meluncurkan Roadmap Pengembangan dan Penguatan Pergadaian 2025–2030. Mahendra menegaskan, industri pergadaian kini bukan sekadar penyedia pinjaman, tapi mitra pemberdayaan ekonomi rakyat.

Agusman, Kepala Eksekutif Pengawas PVML OJK, menambahkan bahwa industri ini memasuki babak baru setelah hadirnya UU P2SK Nomor 4 Tahun 2023, yang untuk pertama kalinya mengatur industri gadai secara menyeluruh.

Hingga Agustus 2025, terdapat 214 perusahaan pergadaian berizin OJK dengan total aset mencapai Rp129,83 triliun, tumbuh 27,36 persen secara tahunan. Total pembiayaan mencapai Rp108,30 triliun, sebagian besar (83 persen) berasal dari sistem gadai.

“Setelah hampir tiga abad, kini kita menatap masa depan industri pergadaian dengan arah yang jelas dan visi yang kuat,” ujar Agusman.

PT Pegadaian kini sedang menulis babak baru sejarahnya. Tak lagi sekadar tempat ‘menyelamatkan keadaan’, ia menjadi ruang pembelajaran, investasi, dan pemberdayaan ekonomi rakyat. Pegadaian mengEmaskan Indonesia menjadi kampanye dan gerakan Pegadaian untuk mendorong literasi dan inklusi keuangan berbasis emas di seluruh Indonesia. (mea)

Editor : Editor Satu
#pegadaian #Pegadaian mengEMASkan Indonesia #investasi emas #MengEMASkan Indonesia