Usaha yang terpuruk saat pandemi justru melahirkan ide kreatif. OK Irwansyah, pria yang sudah kenyang ditempa kerasnya hidup, tidak lagi bertanya, “Mengapa begini, ya Tuhan?” Sebaliknya, ia bergerak. Dari bengkel las, ia kini menjadi petambak udang vaname sukses di pesisir Batubara, Sumatera Utara, bahkan menembus pasar ekspor Malaysia dan Singapura.
---------------------------------
Dame Ambarita, Batubara
---------------------------------
Andung, begitu ia akrab disapa, pernah menggantungkan hidup dari bengkel las kecil. Namun, pandemi Covid-19 membuat pesanan jasa anjlok. Bengkel pun sepi. Sebagai UMKM binaan PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM) sejak 2016, ia pbertanya-tanya apa yang bisa dilakukan untuk bertahan.
Pihak INALUM menyarankan Andung mencari peluang baru di pesisir Batubara. Tinggal di Dusun Pengajian, Desa Lalang, Kecamatan Medang Deras, ia melihat satu usaha yang tetap bertahan: tambak udang milik pengusaha Tionghoa.
“Omzet bengkel saya jatuh, tapi kok bisnis tambak udang tetap jalan? Dari situ saya berpikir, kenapa tidak mencoba?” kenangnya.
Di atas tanah warisan seluas 3 rantai (±1.200 m²) yang letaknya 7 km dari Pabrik INALUM, Andung mencoba peruntungan di bidang baru baginya. Tanpa pelatihan formal, anak pesisir yang yatim sejak kelas 3 SD ini belajar seluk-beluk udang vaname dari komunitas pesisir, petambak senior, dan YouTube.
Modal awal Rp200 juta ia tanamkan, dibantu dua rekannya masing-masing Rp50 juta. Ia memilih udang vaname—“udang putih Pasifik”—yang dikenal tahan penyakit dan ramah ekspor dibanding udang windu.
Perjuangan Menjaga Kualitas Air
Jenis kolam budidaya udang vaname itu ada beberapa tipe: tanah, beton, atau terpal. Ukuran petakan tambak juga ada segi empat atau bundar. Pilihan tipe kolam ini akan menentukan teknologi, padat tebar, dan intensitas perawatan yang dibutuhkan dalam budidaya.
“Setelah belajar sana-sini, saya memilih sistem kolam terpal dibanding kolam tanah,” katanya. Hal ini karena kolam tanah rentan rembesan dan hama. Sementara beton butuh biaya lebih mahal.
Masalah berikutnya adalah air. Budidaya udang bukan sekadar menebar benur lalu menunggu panen. Air adalah nyawa.
Karena air di perairan Batubara berkualitas buruk karena pencemaran dan pengaruh arus laut Selat Malaka yang menyebarkan polutan, Andung mengambil air dari sumur bor sedalam 120 meter. Salinitas air harus di angka 15–17 ppt, sesuai kecocokan benur yang dibeli. Benur dibeli dari koperasi di Sialang Buah, Deliserdang, seharga Rp45 per ekor.
“Siklus pertama, saya menebar 170 ribu ekor benur. Total harga Rp7,65 juta,” ungkapnya. Untuk pakan, ia membeli seharga Rp17 ribu per kg dari pemasok Medan.
Selama empat bulan umur udang, ia harus menguji kualitas air hingga 17 kali. Setiap tes memerlukan biaya Rp200 ribu.
Untuk menjaga tambak, Andung mempekerjakan seorang teknisi berpengalaman dan dua “anak kolam”. Mereka bertanggung jawab menjaga pH air, kadar oksigen, suhu, hingga mengatur panen parsial secara bertahap.
Panen, Gagal, dan Bangkit Lagi
April 2021, panen pertamanya termasuk sukses: 2,8 ton udang dari satu kolam. Udang dijual ke perusahaan di Belawan yang menembus pasar Eropa dan Amerika. “Omzet saat itu sekitar Rp200 jutaan, cukuplah menutup sebagian modal awal,” katanya.
Tahun 2022, kolam diperluas menjadi dua, hasilnya naik menjadi 3,5 ton per kolam. Kali ini ia menjual ke toke lokal yang ternyata memasok Malaysia dan Singapura. Udang ekspor ukuran 40 ekor/kg dihargai Rp130 ribu, sedangkan ukuran 50–70 ekor/kg untuk pasar domestik dihargai mulai Rp70 ribu per kg.
Budidaya udang vaname wajib dipanen secara parsial untuk mengurangi kepadatan dalam kolam. Pada usia 2,5 bulan, udang sudah mulai dipanen. Pada umur ini, ukuran udang relatif masih kecil sehingga hanya dijual di pasar dalam negeri.
Selanjutnya, Andung bersama 12 petambak lain membentuk Kelompok Tani (Koptan) Berkah Mandiri dan resmi menjadi mitra binaan INALUM. Bantuan pun datang, mulai dari kincir air, tes laboratorium, hingga pendampingan teknis. “Tahun itu saya mendapat bantuan Rp20 juta dari INALUM. Saya belikan empat kincir air untuk tambak,” ujarnya.
Satu siklus panen membutuhkan empat bulan plus persiapan dua bulan. Jadi rata-rata setahun bisa dua kali panen, tergantung cuaca.
Namun tahun 2023 menjadi titik gelap. Hujan berturut-turut selama seminggu menjadi bencana. Ditambah human error: kincir air lupa dihidupkan kembali usai pemberian pakan. Ribuan udang mati. “Kerugian total hampir Rp200 juta,” kenangnya.
Saat gagal panen 2023, Tim Laboratorium INALUM turun dan menemukan penyebab udang mati massal: suhu air rendah membuat udang malas makan. Akibatnya, pakan menumpuk dan kadar amonia air naik.
Tahun itu, ia menghentikan sementara budidaya udang sambil mencari solusi. “Hasil uji coba, kami menemukan probiotik alami dari Yakult, kunyit, dan bawang putih. Gunanya menjaga daya tahan udang,” ungkapnya.
Tujuh kali panen, ia mencatat empat kali untung, dua kali impas, dan sekali gagal. Tak ingin kebobolan lagi, kini mereka lebih rajin membersihkan dasar kolam dari kotoran yang menumpuk.
Saat ini, Andung bersama enam orang pemegang saham lainnya mengelola tujuh kolam udang vaname. Tiga di atas tanah sendiri, tiga lahan sewa. “Omzet terakhir Rp1 miliar, laba bersih sekitar Rp400 juta,” katanya.
Hasil budidaya ini memberi keuntungan pada tujuh pemegang saham. “Hasilnya sangat cukup untuk nafkah keluarga para pemegang saham, para pekerja, dan menggerakkan ekonomi desa,” katanya.
Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir
Bagi INALUM, pendampingan pada petambak udang vaname adalah strategi ketahanan pangan sekaligus pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir.
“Udang vaname adalah komoditas bernilai tinggi dengan pasar ekspor yang kuat. Ini pilihan tepat untuk meningkatkan pendapatan masyarakat,” ujar Susyam Widodo, SVP Pemberdayaan Masyarakat dan Lingkungan INALUM, kepada MetroDaily.
Ia menyebut, kontribusi langsung program terhadap ketahanan pangan nasional mungkin kecil, karena skala awalnya masih terbatas. Namun, dampak nyatanya adalah meningkatkan akses protein hewani bagi masyarakat sekitar, menambah pendapatan keluarga, serta mengurangi ketergantungan pada satu jenis komoditas pangan dan pekerjaan.
Program sengaja dipusatkan di Desa Lalang karena kualitas air payau stabil dan lahan tambak minim konflik. “Prioritas diberikan pada kelompok rentan dan keluarga kurang mampu,” kata Susyam.
Selain Koptan Berkah Mandiri, ada beberapa kelompok tani lain yang juga menerima bantuan dari program CSR INALUM, salah satunya Koptan Multazam. Dukungan tidak hanya berupa kincir dan benur, tetapi juga studi banding, teknologi bioflock, dan pendampingan intensif selama tiga tahun.
“Hasilnya mulai terlihat. Udang vaname lokal dipasarkan ke restoran, offtaker, hingga ekspor,” kata Susyam.
Lapangan kerja baru tercipta, partisipasi pemuda dan perempuan meningkat, dan rata-rata pendapatan UMKM binaan INALUM naik 20–30 persen.
Evaluasi independen dengan metode Social Return on Investment (SROI) disiapkan untuk mengukur dampak sosial. INALUM menargetkan replikasi model ini ke desa-desa pesisir lain setelah stabil 2–3 tahun.
“INALUM perlu memastikan pilot project pada program pertama berhasil terlebih dulu—ada kelompok yang mandiri, hasil panen konsisten, dan pasar bisa menyerap. Jika indikator itu tercapai, baru bisa ditarik model ‘klaster’ ke desa tetangga atau lokasi lainnya, sesuai prioritas wilayah kerja CSR,” kata Susyam.
Ia menegaskan, program ini bukan hanya tentang panen udang, tetapi tentang membangun kemandirian masyarakat.
Data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menunjukkan ekspor udang vaname Indonesia mencapai 124 ribu ton pada 2015, naik menjadi 138 ribu ton pada 2017. Hingga awal 2025, tren terus tumbuh dengan kenaikan ekspor 19 persen pada Januari–Februari. Komoditas ini menyumbang 40 persen ekspor perikanan Indonesia.
Target KKP cukup ambisius: produksi udang nasional naik 250 persen melalui revitalisasi tambak tradisional dan peningkatan biosekuriti.
Dari Tambak ke Ekosistem Sosial
Sudah memiliki tujuh kolam udang vaname, apakah Andung dan Koptan Berkah Mandiri masih berencana memperluas produksi?
Andung mengatakan, dirinya menganut prinsip Cina, yakni: jangan berlebihan. “Tekuni saja dulu yang sudah ada,” katanya yakin.
Bagi ayah empat anak ini, bisnis tambak udang hanyalah awal. Ia masih bermimpi membangun ekosistem sosial: peternakan burung puyuh, bank sampah, hingga mengelola wisata Pantai Sujono. Sebagai Ketua BUMDes, ia ingin desanya tidak hanya dikenal sebagai sentra tambak, tetapi juga pusat ekonomi kreatif.
“Saya punya moto: jadilah pohon besar yang walau tak berbuah, tapi orang lain bisa berteduh di bawahnya. Intinya, hidup harus bermanfaat,” ujar anak pesisir Batubara ini dengan nada mantap. (mea)
Editor : Editor Satu