Di tengah dunia tambang yang kerap diidentikkan dengan dominasi laki-laki, PT Agincourt Resources (PTAR) justru menampilkan wajah berbeda: semangat kesetaraan. Di Tambang Emas Martabe yang mereka kelola, keberagaman gender bukan lagi sekadar jargon, melainkan bagian dari strategi besar membangun sumber daya manusia (SDM) unggul—tanpa memandang jenis kelamin.
___________________
“Keberagaman gender bukan soal kuota, tapi soal peluang yang adil,” ujar Sandra Makadada, Senior Manager Human Capital Development PTAR.
Pernyataan itu bukan sekadar jargon. Sejak 2017 lalu, PTAR merancang ulang sistem perekrutan, pengembangan SDM, hingga kebijakan cuti demi memastikan bahwa perempuan punya ruang setara untuk tumbuh dan berkontribusi.
Langkah PTAR dimulai dari hal mendasar—pembukaan akses kerja bagi perempuan. Dari total 3.328 karyawan dan kontraktor saat ini, sebanyak 750 atau 22,54% adalah perempuan. Di level manajerial, 25 perempuan menduduki posisi pengawas hingga manajer. Bahkan di departemen Human Capital, perempuan mendominasi struktur tim.
“Tantangan awal tak mudah. Dunia tambang dikenal dengan citra pekerjaan fisik yang berat dan berisiko. Namun PTAR menjawabnya lewat pendekatan teknologi dan pelatihan, serta memastikan lingkungan kerja yang aman dan nyaman,” kata Sandra.
Fasilitas kerja dipisahkan, pelatihan antipelecehan digelar rutin, dan kode praktik soal perlindungan ibu hamil diterapkan ketat.
"Fasilitas laktasi kami sediakan, dan kami memberikan cuti melahirkan selama empat bulan dengan gaji penuh, serta cuti pendampingan bagi ayah selama dua minggu," kata Sandra.
Tak Ada Kesenjangan Upah
Kesetaraan di PTAR juga berlaku dalam hal gaji. Evaluasi dilakukan berkala untuk memastikan tak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan pada posisi dan kualifikasi yang sama. “Gaji setara adalah prinsip. Kami pastikan tidak ada celah diskriminasi,” tegas Sandra.
Lebih dari itu, perempuan di PTAR juga diberi ruang untuk mengembangkan karir lewat pelatihan teknis, pengembangan karakter, hingga emotional intelligence. Salah satu wadahnya adalah Program Marsipature, program pengembangan SDM lokal yang dibentuk sejak 2017. Nama “Marsipature” diambil dari bahasa Batak yang berarti “mari membangun”.
Salah satu cerita inspiratif dari Marsipature datang dari seorang perempuan welder asal desa lingkar tambang. Dulu tak pernah membayangkan bekerja dengan alat berat, kini ia telah menjadi tenaga profesional yang diakui. Cerita seperti ini menjadi bukti bahwa peluang dan pelatihan mampu mengubah stigma.
PTAR juga menggandeng Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS) untuk program Apprentice yang berlangsung selama tiga tahun. Peserta mendapat 75% pelatihan praktik dan 25% teori.
“Dari sistem mekanik, kelistrikan, instrumentasi hingga pengelasan—perempuan ikut terlibat aktif. Pada tahun 2020 saja, dari puluhan peserta apprentice, setengahnya adalah perempuan,” kata Sandra.
Efek Keberagaman: Inovasi dan Kolaborasi
PTAR meyakini bahwa keberagaman membawa manfaat lebih dari sekadar angka. “Perempuan membawa perspektif berbeda—lebih teliti, lebih terorganisir. Efeknya terasa pada pengambilan keputusan dan produktivitas tim,” ujar Sandra.
Saat ini, PTAR menargetkan keterwakilan perempuan di posisi manajerial hingga 35%. Meski baru tercapai sekitar 18%, semangat untuk mencapai angka itu terus menyala. Fokus tak hanya pada perempuan di internal, tapi juga pada kontraktor dan karyawan lokal, agar keberagaman terasa hingga ke seluruh ekosistem kerja.
Untuk menopang semua itu, PTAR menerapkan berbagai kebijakan dan kode etik yang memperkuat budaya kerja setara. Mulai dari kebijakan antipelecehan, perlindungan pekerja hamil, hingga kebijakan keberagaman gender yang terintegrasi dalam sistem SDM. Pelatihan berbasis Focused-Group Discussion (FGD) digelar setidaknya sekali dalam setahun dengan tema keberagaman.
Prinsip dasarnya jelas: semua orang, tanpa memandang etnik, agama, ras, status sosial, gender, atau kondisi fisik, punya kesempatan yang sama untuk tumbuh dan berkontribusi.
Dari desa lingkar tambang hingga ruang rapat manajerial, semangat keberagaman di PTAR bukan sekadar janji. Ini adalah kerja nyata yang dihidupi setiap hari oleh ratusan perempuan yang kini tidak hanya menjadi bagian dari dunia tambang, tapi juga turut membentuk masa depannya.
"Keberagaman gender bukan hanya tentang memenuhi kuota," tutup Sandra, "tapi bagaimana kita menciptakan ruang kerja yang mendukung dan memberdayakan setiap individu." (dame ambarita)
Editor : Editor Satu