Di balik operasional Tambang Emas Martabe yang tak pernah tidur, ada kisah perjuangan yang jarang terlihat—perjuangan membangun tambang yang inklusif, tempat setiap individu, tanpa memandang gender, diberi kesempatan untuk tumbuh dan berkontribusi.
_________________
Aris Tambunan, Senior Manager Mining PT Agincourt Resources (PTAR), masih mengingat dengan jelas bagaimana awal mula transformasi ini dimulai. Saat dirinya pertama kali bergabung dengan PTAR pada 2010 sebagai Superintendent Mining, perempuan hampir tidak terlihat di Divisi Mining PTAR.
"Dulu, tidak ada operator alat berat perempuan. Tidak terbayangkan jika saat ini kita bisa memiliki perempuan operator, bahkan di alat-alat besar seperti excavator dan dump truck," kenangnya.
Kini, situasi tersebut sudah jauh berubah. Di Tambang Emas Martabe, perempuan telah mengisi berbagai posisi vital—mulai dari engineer, geologist, hingga operator alat berat.
Bagi Aris, transformasi ini lebih dari sekadar angka atau kebijakan; ini adalah hasil dari upaya membangun budaya kerja yang inklusif. Di mana setiap orang diberi ruang untuk berkembang dan dihargai atas kontribusinya, tanpa melihat jenis kelaminnya.
"Jika bicara soal kemampuan, laki-laki dan perempuan itu setara. Yang paling penting adalah komitmen dan integritas. Kami melihatnya setiap hari di lapangan," ujar Aris dengan nada yakin.
Perjalanan panjang menuju keberagaman ini dimulai dengan kebijakan yang memberikan ruang bagi perempuan untuk berkembang. "Awalnya, sempat muncul rasa ragu dari para karyawan laki-laki. ‘Apa iya perempuan bisa? Bukannya jadi sulit karena mereka harus ditemanin, dijagain, belum lagi harus cuti haid, hamil, menyusui, dll.’” kata Aris menirukan respon karyawan laki-laki saat itu.
Merespons penolakan itu, Aris sebagai kepala, mengambil langkah strategis dengan memasukkan karyawan perempuan satu demi satu. “Level junior dulu,” kisahnya.
Sambil berjalan, perusahaan melakukan sosialisasi kebijakan. Melakukan brainstorming dengan menjelaskan kepada karyawan tentang data hasil studi di beberapa negara tentang manfaat diversifikasi gender di sejumlah pertambangan.
Setelah beberapa waktu, terbukti lingkungan kerja terbangun lebih bagus. "Kalau dulu ada gesekan, sekarang suasana saling menjaga, saling mendukung, dan saling menutupi," katanya.
Survey membuktikan, truk ADT (Articulated Dump Truck) yang dikemudikan perempuan lebih awet. “Rupanya, perempuan cenderung lebih hati-hati mengemudi menyesuaikan kondisi jalan, dibanding pria yang cenderung kebut-kebutan,” katanya.
Baca Juga: Tanpa Sekat Gender, Tim Drill & Blast PTAR Lahirkan Berbagai Lompatan Inovasi
PTAR juga aktif menyelenggarakan pelatihan teknis dan mentoring, menyediakan fasilitas ruang menyusui, serta menyesuaikan sistem kerja shift untuk mendukung keseimbangan antara pekerjaan dan keluarga. Langkah signifikan yang diambil PTAR adalah menghilangkan stigma dan kesenjangan gender di lapangan.
"Kami tidak hanya ingin perempuan ada di sana sebagai simbol, tetapi kami ingin mereka benar-benar tumbuh dan berkarier dengan adil," tegas Aris.
Perubahan terlihat jelas di lapangan. Para operator laki-laki kini bangga bekerja berdampingan dengan rekan perempuan mereka. "Dulu mungkin ada rasa ragu, tapi sekarang teman-teman laki-laki justru bangga memiliki rekan perempuan yang andal dan profesional," tambah Aris.
Inisiatif PTAR untuk mendukung keberagaman terus digencarkan melalui program-program internal yang meningkatkan kualitas dan keterampilan seluruh karyawan. Keberagaman gender menjadi kunci dalam menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan produktif, di mana setiap individu—baik perempuan maupun laki-laki—memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang.
Transformasi ini juga memberikan dampak sosial yang lebih luas. Masyarakat sekitar mulai melihat perempuan dengan pandangan yang berbeda. Anak-anak perempuan di desa-desa sekitar kini memiliki panutan baru—perempuan-perempuan tangguh yang bekerja di sektor tambang dan mampu meraih kesuksesan di dunia yang sebelumnya dianggap hanya milik laki-laki.
Bagi Aris, keberagaman gender ini bukan hanya pencapaian internal perusahaan, tetapi juga bagian dari tanggung jawab sosial yang lebih besar. "Kami ingin Tambang Martabe menjadi contoh bahwa industri pertambangan bisa maju tanpa meninggalkan nilai-nilai kemanusiaan. Keberagaman bukan hambatan, tetapi justru kekuatan untuk menciptakan inovasi dan kolaborasi," ujarnya.
Tahun 2019, perempuan mulai dilibatkan di bagian peledakan. Sejak itu, terjadi perubahan signifikan soal jumlah komplain. Jika dulu peledakan dilakukan sore hari yang kadang memicu keluhan dari masyarakat karena suaranya mengganggu, kini keluhan berkurang karena peledakan dilakukan di siang hari, yakni di jam istirahat.
Selain itu, biaya proses memperkecil ukuran bebatuan bisa lebih efisien dengan menambah bahan peledak. Ide mengubah kekentalan bahan peledak juga berhasil untuk memantasi banyaknya rongga dalam material bebatuan.
Masih ada sejumlah ide baru yang muncul, di antaranya penggabungan teknologi drone dengan perangkat lunak yang menghasilkan fungsi baru, seperti mengambil data topografi, mengukur kekerasan batu, memasukkan bahan peledak secara otomatis, dan menganalisis pergerakan material 3D yang lebih presisi.
“Dulu mungkin ide-ide itu sudah ada. Tetapi pria sulit mengkomunikasikannya. Sekarang, dengan keberagaman gender, cewek-cewek lebih supportif dan komunikasi bisa terbangun lebih harmonis,” katanya.
Di balik gundukan tanah dan kilau emas, Tambang Emas Martabe tidak hanya menggali sumber daya alam, tetapi juga menggali potensi manusia, menjadikan keberagaman sebagai fondasi untuk menciptakan masa depan yang setara.
Inovasi dalam Pengelolaan Tambang: Dari Teknologi Hingga Penghargaan
Selain keberagaman gender, salah satu pilar penting yang mendukung kesuksesan di Tambang Emas Martabe adalah budaya inovasi yang terus berkembang. Aris menceritakan bagaimana penghargaan "Good Mining Practice" yang diraih pada tahun lalu menjadi bukti nyata dari komitmen mereka terhadap inovasi, dengan empat dari lima aspek penilaian dimenangkan.
"Inovasi adalah aspek terbesar yang kami raih. Ini sangat penting bagi kami," jelas Aris.
Untuk menciptakan suasana inovatif, Aris percaya bahwa kepemimpinan yang kuat sangat dibutuhkan. "Inovasi harus dimulai dari pemimpin yang memfasilitasi ide-ide baru dan memberi ruang untuk proyek peningkatan yang melibatkan seluruh tim," ujar Aris.
Salah satu contoh inovasi yang berhasil diterapkan adalah pengembangan sistem survei tambang yang kini bisa dilakukan pada malam hari, berkat ide dari tim yang berkolaborasi lintas gender. "Sekarang kita bisa mengambil data kapan saja, tanpa perlu menunggu pagi," katanya.
Inovasi lainnya termasuk penggunaan sistem notifikasi peledakan secara digital, yang mengurangi risiko bagi pekerja dan meminimalisir potensi kecelakaan. "Sekarang, notifikasi dikirim lewat SMS, jadi tidak ada lagi yang perlu datang pagi-pagi untuk mengganti nomor manual," kata Aris.
Ide-ide inovatif ini tidak hanya mempengaruhi operasional tambang, tetapi juga memberi penghargaan bagi mereka yang berkontribusi. "Kami memberikan exposure bagi mereka yang memiliki ide, seperti mengundang mereka untuk presentasi di forum profesi. Ini juga bentuk penghargaan," tambah Aris.
Melalui inovasi dan budaya keberagaman, Tambang Emas Martabe tidak hanya berfokus pada pengelolaan sumber daya alam, tetapi juga membangun tim yang lebih kuat dan siap menghadapi tantangan industri pertambangan.
Saat ini, dari 200 karyawan di Divisi Mining PTAR, sebanyak 25 persen di antaranya adalah perempuan. Tiga orang di antaranya menduduki kursi manajer, yakni di geologi, TSF, dan mining. “Kita sedang menuju angka 30 persen,” cetus Aris tanpa ragu. (Dame Ambarita)
Editor : Admin Metro Daily