Dulu, pilihan hatinya adalah menjadi dokter. Namun hidup berkata lain. Nella Lubis justru menemukan dirinya jatuh cinta pada dunia blasting—ilmu dan seni meledakkan batu dengan presisi tinggi. Kini, ia memunculkan ide-ide menaklukkan bebatuan keras dengan detonator dan drone, dalam kolaborasi lintas gender yang menghasilkan inovasi.
----------
“Awalnya saya pikir bakal jadi dokter,” kata Nella sambil tertawa ringan. “Tapi ternyata, saya lulus di pilihan kedua, yakni Teknik Pertambangan,” kata Lulusan Universitas Sriwijaya ini dengan tawanya yang lembut.
Perempuan asal Medan ini menjadi salah satu sosok kunci di balik berbagai inovasi teknis di Tambang Emas Martabe, yang dikelola oleh PT Agincourt Resources (PTAR). Tak sendiri, Nella yang kini menjadi Senior Engineer Drill & Blast di Tambang Emas Martabe ini membuktikan bahwa inovasi terbaik lahir dari kolaborasi—bukan kompetisi gender.
Awal Perjalanan: Dari Kalimantan ke Martabe
Setelah lulus pada 2017, Nella merantau ke Kalimantan. Di sana, ia bekerja selama tiga setengah tahun di perusahaan kontraktor tambang batu bara. Pengalaman itu menjadi modal berharga saat ia bergabung dengan PTAR pada 2021.
“Saya cari pengalaman sebanyak mungkin sebelum ke tambang emas. Di PTAR, saya benar-benar merasa berkembang, baik dari sisi teknis maupun budaya kerja,” tuturnya.
Sebagai satu dari dua engineer di divisi drill and blast, Nella langsung tancap gas. Tahun 2022, ia dan timnya mengembangkan pola peledakan baru untuk mengurangi material yang jatuh ke jurang. “Masalah klasik,” katanya. “Tapi justru itu yang jadi peluang.”
Dengan metode re-adjust tie-up—mengatur ulang jeda waktu ledakan di dua baris terakhir—mereka berhasil mengurangi kehilangan material hingga 10 persen. Inovasi ini tidak hanya mengubah standar kerja, tetapi juga terpilih sebagai salah satu paper terpilih untuk tampil di forum Perhapi.
“Idenya mungkin sudah terpikir oleh tim sebelumnya,” ujarnya merendah. “Tapi kami menuliskannya dalam paper. Itu yang membuat perbedaan.”
Gelombang Inovasi: Drone, AI, dan Ekor Truk
Tahun berikutnya, Nella beserta tim Drill and Blasting menciptakan metode baru untuk memantau pergerakan material setelah peledakan. Mereka menggabungkan software dengan drone, menciptakan smart drone technology.
“Hemat waktu, hemat tenaga, dan hemat biaya,” katanya bangga. Penggunaan teknologi ini meminimalisir kebutuhan kerja tim survei, dan mengurangi konsumsi bahan bakar.
Tak berhenti di situ, mereka juga menambahkan tail gate di truk untuk mencegah tumpahan material di jalanan tambang yang curam. Hasilnya? Tumpahan berkurang hingga 12 persen, dan tim mereka meraih juara dua dalam lomba inovasi internal PTAR.
Tahun 2024, giliran teknologi pengeboran otomatis berbasis drone dan kontrol digital yang mereka perkenalkan. “Dulu titik pengeboran manual bisa geser 10 cm, dan hasil peledakan bisa beda jauh. Sekarang, lebih presisi,” cetusnya.
Dengan sistem ini, jumlah lubang yang bisa dibor per jam meningkat dari 30 menjadi 50 hole. Fragmentasi batuan pun lebih optimal. Inovasi ini meraih juara pertama lomba inovasi internal “Marinovasi”.
Puncaknya datang pada Januari 2025. Tim drill & blast PTAR, bersama mitra seperti PT DNX Indonesia, PT Macmahon Mining Service, dan PT Epiroc Indonesia, mempresentasikan tiga paper pada Konferensi ke-51 International Society of Explosives Engineers (ISEE) di Amerika Serikat.
Satu paper berjudul “Advancing Blasting Using Drone Mapping and Artificial Intelligence for Comprehensive Blast Performance Analysis” keluar sebagai Juara 1 dalam kategori Best Paper.
“Banyak peserta dari luar negeri tertarik dengan metode kami,” kenangnya. “Kami jadi pusat perhatian. Rasanya senang sekali.”
Nella juga menjadi salah satu dari sedikit perempuan yang tampil di forum internasional tersebut. Ia mempresentasikan paper tentang Mining Recovery.
Budaya Inklusif dan Kolaborasi
Di divisi blasting PTAR, suasana kerja yang inklusif menjadi fondasi penting. “Di sini, kita saling melengkapi. Laki-laki biasanya kuat di strategi, perempuan unggul di multitasking dan detail. Kami saling belajar, saling percaya,” kata Nella.
PTAR sendiri aktif mendorong inovasi lewat ajang seperti Marinovasi. “Setelah kami menang, banyak divisi lain semangat ikut. Kalau dulu ke Perhapi cuma hadir, sekarang ikut lomba,” ujarnya.
Tak hanya bicara teknis, Nella juga ingin menjadi inspirasi bagi generasi muda, terutama perempuan yang ragu menembus dunia tambang.
“Dulu, perempuan mungkin kurang diterima di dunia tambang. Yang penting, jangan takut mencoba. Kalau berani melangkah, jalan lain pasti terbuka.”
Kolaborasi Lintas Gender
Superintendent Drill & Blast PTAR, Rudolf Sitorus, yang menangani langsung proses pengeboran dan peledakan, mendukung penuh komposisi tim yang beragam gender. Dari tujuh anggota timnya, empat di antaranya adalah perempuan.
“Orang luar mungkin berpikir dunia peledakan itu maskulin, penuh risiko dan fisik. Tapi justru tim kami menunjukkan warna yang berbeda,” kata Rudolf.
Menurutnya, kehadiran perempuan membuat komunikasi lebih lancar, suasana lebih suportif, dan munculnya ide-ide inovatif yang sebelumnya terhambat. “Teman-teman perempuan itu lebih empatik, lebih peka. Kami tidak sekadar berbagi tugas, tapi saling melengkapi.”
Perjalanan Rudolf di dunia tambang dimulai setelah lulus dari Teknik Pertambangan Universitas Sriwijaya pada 2009. Ia sempat bekerja di Antam Pongkor dan tambang batubara di Kalimantan Selatan.
Di Pongkor, ia menyaksikan bagaimana perempuan mulai menembus batas-batas yang dulu tertutup. “Dulu perempuan bahkan tidak boleh masuk tambang bawah tanah. Tapi ada satu perempuan yang nekat ikut survey. Dari situ mulai ada studi untuk ubah peraturan,” kenangnya.
Visi kesetaraan gender didukung penuh oleh PTAR. Sejak 2013, tim drill & blast diarahkan untuk memberi porsi signifikan pada karyawan perempuan. Hasilnya positif—tak ada lagi dikotomi antara laki-laki dan perempuan. Bahkan, dalam banyak aspek, perempuan dinilai lebih teliti dan mampu multitasking.
Dari kolaborasi ini lahirlah sejumlah inovasi: dari peningkatan kualitas lubang ledak dengan menaikkan viskositas bahan peledak agar tidak meresap ke rongga, hingga peledakan multidensitas yang disesuaikan dengan kekerasan batuan. Mereka juga menciptakan Orpro 3D—sistem visualisasi tiga dimensi untuk memantau pergerakan emas pascapeledakan.
“Emas yang dulu sering luput dan masuk tailing, kini bisa dipetakan dan diekstraksi lebih maksimal,” jelas Rudolf.
Tim mereka juga mengoptimalkan pemanfaatan drone untuk pemetaan topografi dan parameter peledakan, yang akhirnya mendapat pengakuan dalam konferensi internasional.
Kehadiran perempuan di tim ini, menurut Rudolf, juga melancarkan komunikasi antara vendor, manajemen, dan lapangan. “Kalau komunikasi buntu, pekerjaan bisa tertunda. Dan itu terjadi sebelum komposisi tim lebih beragam,” kata Rudolf. “Sekarang, komunikasi jadi lebih cair. Ide lebih cepat berkembang.”
Dalam mengelola tim, Rudolf menyesuaikan pendekatannya. “Cewek-cewek perlu diajak bicara dengan hati-hati. Tapi secara profesional, semua sama. Kalau salah, tetap harus ditegur,” ujarnya. Tak ada ruang untuk diskriminasi. Performa adalah ukuran utama.
Bahkan beberapa operator ADT (pengemudi truk besar) perempuan dinilai lebih unggul dalam manuver dan ketelitian. “Kami tidak pernah membatasi jumlah perempuan. Justru sekarang, ruang inovasi makin terbuka karena keberagaman itu,” tambahnya.
Kini, tim Drill & Blast di Martabe menjadi role model dalam penerapan kesetaraan gender di industri tambang. Tak hanya soal angka, tetapi tentang bagaimana keberagaman menghasilkan komunikasi yang lebih baik, inovasi yang lebih berani, dan produktivitas yang lebih tinggi.
“Dulu, orang bertanya: ‘Ngapain perempuan masuk tambang?’ Sekarang, mereka yang belum melibatkan perempuan justru bertanya: ‘Apa rahasia kalian?’” ujar Rudolf sambil tersenyum.
Di Tambang Martabe, inovasi tidak punya jenis kelamin. Karena yang utama bukan siapa yang memegang detonator, tetapi siapa yang berani berpikir dan berkolaborasi. (dame/ambarita)
Editor : Editor Satu