Perempuan jadi juru las? Kayaknya jarang. Tapi di Divisi Maintenance PT Agincourt Resources (PTAR), pengelola Tambang Emas Martabe, hal ini bukan lagi hal langka. Ada tiga perempuan tangguh yang sehari-hari bekerja dengan api dan logam, memperbaiki peralatan berat yang butuh pengelasan. Dan yang lebih menarik, keahlian mereka dibangun dari nol.
--------------------------
Pekan lalu, percikan api terlihat menari dari ujung elektroda di sebuah ruang kerja di Divisi Maintenance PTAR. Di balik helm las dan jaket kulit tahan api, berdiri sosok mungil namun penuh percaya diri—Putri Qurrota.
Perempuan 25 tahun asal Batang Toru, Tapanuli Selatan ini tengah mengelas bagian peralatan boiler maker. Lengkap dengan alat pelindung diri (APD) standar: jaket tahan api, sarung tangan khusus las, dan helm dengan lensa pelindung dari cahaya ultraviolet. Di lingkungan tambang yang selama ini identik dengan laki-laki, Putri adalah bukti bahwa tekad bisa menembus batas stereotip.
“Dulu saya pikir kerja las itu cuma soal karbit dan percikan api di pinggir jalan,” katanya sambil terkekeh. “Ternyata ilmunya banyak banget. Sekarang saya bisa jelaskan jenis-jenis metode pengelasan, posisi, sampai jenis cacat sambungan.”
Putri memulai perjalanannya dari jalur yang tak lazim. Ia bukan lulusan teknik, melainkan alumnus SMA yang sempat bekerja serabutan—dari bantu bikin kue tetangga, jaga kios baju, hingga buka usaha fotokopi. Tapi semuanya berubah saat ia mendengar soal Program Apprentice non-skill dari PTAR di akhir 2021.
Saat itu, ia bekerja sebagai admin di salah satu kontraktor tambang. Tapi rasa penasarannya terhadap pekerjaan las terus tumbuh. Ia sering mencuri pandang ke arah para welder, bahkan kadang ikut bantu-bantu bagian pelumasan alat.
Keputusan mendaftar ke program apprentice adalah titik balik. “Tesnya banyak—dari tes tulis, wawancara, Q-tes, sampai medical check-up. Tapi saya nekat. Kalau nggak dicoba, saya nggak akan pernah tahu seberapa jauh saya bisa melangkah,” kenangnya.
Selama tiga tahun, Putri mengikuti pelatihan intensif. Setiap semester, ia belajar teori di Politeknik Perkapalan Surabaya selama lima minggu. Selebihnya, ia belajar langsung di lapangan: mengenal struktur logam, belajar mengatur posisi tubuh agar hasil pengelasan presisi, hingga memahami tekanan panas dan potensi cacat sambungan.
“Awalnya takut banget sama percikan api. Cairan las sering tumpah ke mana-mana. Tapi lama-lama terbiasa. Sekarang saya bisa fabrikasi silinder dan alat berat sendiri,” ucapnya dengan bangga.
Kini, Putri adalah satu dari tiga juru las perempuan di PTAR. Ia juga telah resmi menjadi karyawan tetap. Di tengah lingkungan kerja yang mayoritas laki-laki, Putri tak merasa terintimidasi. Justru sebaliknya.
“Kalau ada pekerjaan berat, kami bisa minta bantuan rekan laki-laki. Tapi untuk soal keahlian dan tanggung jawab, kami setara,” tegasnya.
Maming, Koordinator Maintenance di PTAR, menyebut saat ini ada sekitar 10–15 perempuan di divisinya. Mereka tersebar di berbagai bidang seperti HDPE, scaffolding, hingga pengelasan.
“Perempuan-perempuan ini hebat. Mereka belajar dari nol, tapi sekarang sudah bisa fabrikasi komponen alat berat. Kita hargai semangat dan dedikasi mereka,” ujarnya.
Senada, Sandra Makadada, Senior Manager Human Capital Development PTAR, menegaskan bahwa kesetaraan gender bukan hanya jargon. “Ini bukan soal kuota, tapi kesempatan yang setara bagi laki-laki dan perempuan. Keberagaman gender menciptakan lingkungan kerja yang lebih kolaboratif dan inovatif,” katanya.
Dari total 3.500 karyawan PTAR, sekitar 23,1% adalah perempuan. Angka yang mungkin kecil, tapi makin bertumbuh lewat program-program seperti apprentice ini.
Hari ini, Putri tak hanya mampu mengelas sambungan logam. Ia juga mengelas harapan baru dalam hidupnya—dengan tangan sendiri. “Yang penting semangat belajar nggak berhenti. Dunia tambang ini ternyata luas. Saya ingin terus bertumbuh di dalamnya,” ujar Putri, penuh tekad. (dame ambarita)
Editor : Editor Satu