Di jalur utama menuju Tambang Emas Martabe, berdiri sebuah bangunan yang diberi nama: Bagas Silua. Lebih dari sekadar pusat oleh-oleh, tempat ini adalah etalase 43 produk dari 24 UMKM binaan PT Agincourt Resources (PTAR), yang menjadi simbol peralihan menuju ekonomi mandiri masyarakat Batang Toru di masa pascatambang.
__________________
Bagas Silua berdiri di lokasi strategis—mudah diakses karyawan tambang, masyarakat umum, dan wisatawan. Rak-raknya tertata rapi, memajang produk lokal seperti makanan ringan, sambal, kopi, batik, tenun, dan kerajinan tangan.
“Bagas Silua difungsikan sebagai one stop center bagi 24 UMKM binaan PTAR dari 15 desa sekitar tambang,” jelas Rohani Simbolon, Manager Community Development PTAR.
Diresmikan pada Sabtu, 28 September 2024, Bagas Silua bukan sekadar tempat jualan. Ia menjadi rumah bagi pelaku usaha kecil—ibu rumah tangga, mantan buruh, dan anak-anak muda yang perlahan menapaki jalan menjadi wirausaha.
“Ini etalase harapan. Di balik rak kayu dan toples oleh-oleh itu, tersimpan mimpi-mimpi mereka yang dulu hanya bisa berjualan dari rumah ke rumah,” ujar Rohani.
PTAR tidak hanya membangun fasilitas fisik, tetapi juga merancang dukungan menyeluruh—dari pelatihan usaha, penyederhanaan izin (seperti PIRT), pendampingan pemasaran, hingga rencana pembangunan rumah produksi dan kemasan bersama.
Target mereka ambisius: omzet Bagas Silua mencapai Rp1 miliar per tahun pada 2025 dan mandiri penuh pada 2027.
Perempuan di Garis Depan Pemberdayaan
Sejak 2016, PTAR telah membina ratusan UMKM, dan mayoritas pelakunya adalah perempuan. “Bukan karena kami pilih-pilih,” kata Rohani, “tapi karena potensi terbesar justru datang dari ibu rumah tangga—mereka tekun, ulet, dan konsisten.”
Saat ini, lebih dari 50 perempuan aktif berwirausaha di bidang kuliner, batik, make-up artist (MUA), dan henna. Data tahun 2024 mencatat sebanyak 219 pelaku UMKM aktif, 87 persen di antaranya perempuan. Total omzet UMKM binaan PTAR mencapai Rp6,1 miliar, naik 30,24 persen dari tahun sebelumnya (Rp4,6 miliar).
“Dari angka itu, Rp5,5 miliar merupakan omzet UMKM yang dijalankan perempuan,” kata Rohani, didampingi Nurlailah, Senior Supervisor – SME Community Development PTAR.
Namun, perjalanan tidak selalu mudah. Para ibu rumah tangga ini masih harus membagi waktu antara pekerjaan rumah dan bisnis. Untuk itu, PTAR menyiasatinya dengan sistem pre-order dan stok produk yang dikelola langsung di Bagas Silua.
“Kalau satu perempuan bisa menghidupi keluarganya, dia menyentuh minimal tiga sampai empat jiwa lainnya. Dampaknya luar biasa,” kata Rohani. Ia berharap para perempuan binaan ini tak hanya mandiri, tapi juga menularkan semangat dan keterampilannya pada sesama.
“Saya ingin mereka jadi Perempuan Kuat. Tidak mudah menyerah meski produknya belum laku. Mereka harus bisa jadi roda ekonomi rumah tangga. Perempuan kuat, Indonesia kuat,” tutur Rohani dengan semangat.
Bagas Silua: Dari Etalase Menuju Entitas Bisnis Mandiri
Saat ini, Bagas Silua dikelola oleh tiga orang dari masyarakat lokal. Omzet bulanannya sudah mencapai Rp 30 juta – Rp 45 juta, dengan keuntungan bersih sekitar Rp 4 juta – Rp 6 juta.
Meski belum besar, arah pengembangannya jelas: Bagas Silua akan menjadi entitas bisnis yang sahamnya bisa dimiliki oleh masyarakat.
“Artinya, mereka bukan hanya pemilik produk, tapi juga pemilik pasar,” ujar Rohani.
PTAR kini sedang merancang skema kepemilikan yang tepat, agar keuntungan bisa kembali langsung ke warga.
Untuk memperluas pasar, Bagas Silua aktif mengikuti berbagai pameran—baik nasional seperti Kementerian ESDM Expo di Jakarta, hingga internasional seperti event di Malaysia. Produk-produk unggulan seperti Golden Snack, kopi lokal, dan Batik Tapsel mulai mencuri perhatian.
Devia Yuni Artika, Project Manager Bagas Silua, mengatakan konsep tempat ini memang dirancang inklusif. UMKM individu maupun kelompok bisa bergabung lewat kurasi dan pelatihan berkelanjutan.
“Bahkan kami bantu pengemasan agar produk mereka bisa bersaing di pasar daring,” ujarnya. Kini, produk Batik Tapsel sudah dipasarkan hingga ke Bandung dan Medan.
Komitmen Berkelanjutan PTAR
Semua ini menjadi bagian dari komitmen jangka panjang PTAR dalam membangun masyarakat berdaya. Tahun 2024, PTAR menyabet dua penghargaan Tamasya Award dari Kementerian ESDM, serta tujuh penghargaan ISDA atas kontribusi pada pembangunan berkelanjutan.
Program pengembangan masyarakat mereka telah menjangkau lebih dari 9.400 penerima manfaat dari 15 desa sekitar tambang.
Namun bagi Rohani, penghargaan hanyalah bonus. “Yang paling penting adalah dampak program ini. Kalau ada ibu rumah tangga yang bisa berdiri di pasar membawa produknya sendiri, saya tahu kami ada di jalur yang benar.” (dame ambarita)
Editor : Editor Satu