Dua perempuan di Batang Toru, Tapanuli Selatan, membuktikan bahwa dapur bukan sekadar ruang memasak. Bagi Eri Susanti dan Dewi Juliani Sembiring, dari sanalah harapan digoreng, masa depan dibungkus, dan ekonomi keluarga diselamatkan.
__________
Di balik setiap bungkus basreng dan keripik pisang yang kini tersebar di berbagai sudut Batang Toru, ada tangan-tangan ibu yang tak pernah menyerah. Mereka meracik rasa dengan peluh, mengiris cita-cita dengan ketekunan, dan membungkus semuanya dalam harapan—agar anak-anak terus sekolah, dapur tetap mengepul, dan hidup tetap berjalan.
Cemilan basreng misalnya, adalah hasil keuletan seorang Eri Susanti, ibu muda usia 39 tahun.
Pindah dari Kerinci, Jambi, ke Batang Toru, Tapanuli Selatan, pada 2017 bukan hal mudah bagi Eri Susanti. Bersama suami dan dua anaknya, ia datang setelah rumah mereka digusur. Tanpa modal besar, tanpa koneksi—hanya berbekal semangat bertahan hidup.
“Saat tiba di sini, aku cuma bisa bantu suami jualan bakso bakar. Tapi dalam hati, aku tahu harus ikut bantu cari uang,” tuturnya pelan.
Tahun 2018, Eri mulai mencoba membuat berbagai camilan: keripik usu, basreng, kacang intip, kue bawang, dan keripik pisang. Semua ia kemas seadanya dalam plastik bening, tanpa label atau nama usaha.
Namun semangatnya tak luntur. Ia berkeliling dari warung ke warung, menjajakan dagangan satu per satu. Saat itu, penghasilan kotornya sekitar Rp5 juta per bulan, dengan laba bersih sekitar Rp3 juta setelah dikurangi biaya operasional—belum termasuk tenaga dirinya, suami, dan anak-anak.
Setelah berjuang 3 tahun, usahanya kemudian menarik perhatian PT Agincourt Resources (PTAR), yang sedang mengembangkan Program Pemberdayaan Masyarakat untuk kelompok rentan. Sejak 2021 Eri mulai dibina, dan resmi menjadi UMKM binaan pada 2023. Ia belajar soal produksi higienis, manajemen keuangan, pemasaran, hingga pengemasan.
Kini, ia punya nama usaha: Ersel singkatan dari Eri dan Sel (suaminya, bermarga Saragih). Dari enam jenis camilan yang diproduksi, basreng (bakso goreng) menjadi produk premium.
“Sekarang kami bisa produksi basreng sampai 5 kilogram sehari. Suami bantu motong-motong, anak-anak bantu bungkus kalau libur sekolah. Kami kerja bareng dari siang sampai malam,” katanya.
Di pagi hari, Eri tetap mempersiapkan bakso bakar untuk dijual suami keliling.
Dari modal harian Rp200 ribu, kini omzet hariannya bisa mencapai Rp600 ribu. Produknya dipasarkan di berbagai tempat: Batik Nadira, Bolu Kenanga di Padangsidimpuan, Galeri Bagas Silua, serta melalui akun Facebook dan WhatsApp.
Rumah produksinya yang dibangun PTAR, kini dilengkapi peralatan lengkap seperti kulkas, kompor, sealer, dan alat masak lainny. Semua berkat dukungan PTAR. Ia pun sudah memiliki NIB, PIRT, dan sertifikat halal.
“Dulu aku cuma mikir, yang penting dapur ngebul. Sekarang aku pengen terus belajar. Mungkin nanti bisa buka toko sendiri,” ucapnya sambil terus mengaduk basreng di kuali.
Meski usaha berjalan lancar, satu tantangan masih dihadapi: penggilingan daging ayam untuk campuran basreng harus dilakukan ke Pinangsori, karena fasilitas di Batang Toru belum memadai.
Kini, Eri menjadi penopang utama ekonomi keluarga. Dari penjualan basreng, ia mampu membiayai kuliah anak sulungnya yang duduk di semester empat di Universitas Negeri Padang (UNP) dan menyekolahkan anak bungsunya yang duduk di kelas 2 SMP.
“Kami juga sedang menabung untuk bangun rumah. Meski kecil, yang penting rumah sendiri,” ujarnya, sembari menyajikan basreng hangat hasil gorengannya.
Dewi Sembiring: Duka yang Menjadi Titik Balik
Bagi Dewi Juliani Sembiring, usaha keripik pisang bukan sekadar bisnis—ini adalah bentuk perjuangan seorang ibu tunggal.
Ia mendirikan usaha “Bunda 2R” pada 2019 bersama suaminya. Mereka memproduksi keripik dari pisang kebun sendiri. Namun tak lama berselang, sang suami wafat di masa pandemi Covid-19. Produksi berhenti total.
“Saya benar-benar jatuh waktu itu. Nggak kuat rasanya melanjutkan usaha yang dulu kami rintis berdua,” kenangnya lirih.
Selama empat tahun, ia vakum dari dunia usaha. Hidup bergantung pada hasil kebun dan dukungan keluarga. Hingga akhirnya, pada 2023, PTAR hadir memberikan pendampingan intensif, pelatihan, bangunan dapur produksi, peralatan masak, pengemasan, dan lain-lain.
Kini, dalam satu kali produksi, Dewi mengolah tiga tandan pisang dua kali sebulan. Ia menghasilkan sekitar 40 bungkus keripik seharga Rp20.000, ditambah penjualan dalam bentuk kiloan. Total keuntungan bersih sekitar Rp1,5 juta per bulan dari keripik saja.
Selain keripik, ia juga menjual gorengan dan kue basah. Namun, keripik pisang tetap menjadi produk andalan Bunda 2R.
Penghasilan itu cukup untuk membiayai hidup dan sekolah kedua anaknya. Selain itu, Dewi juga masih menggarap sawah yang panen setiap empat bulan.
“Anak-anak juga ikut bantu. Kalau libur, mereka bantu kupas pisang, kadang bantu goreng juga. Jadi kami kerja bareng, seperti dulu waktu almarhum masih ada,” ujarnya.
Dengan kemasan premium dan branding yang lebih profesional, produk Bunda 2R kini mulai dikenal. Keripik Dewi sudah terpajang di pusat oleh-oleh Bagas Silua dan booth PTAR di berbagai kegiatan.
“Waktu PTAR tawarkan bantu, saya seperti ketemu harapan lagi. Sekarang saya nggak mau menyerah. Harus kuat demi anak-anak. Apalagi sebagai orangtua tunggal, saya kerap dipandang sebelah mata,” katanya dengan mata berkaca.
Untuk perempuan lain yang berada dalam posisi serupa, Dewi berpesan: jangan menyerah.
“Kita harus bangkit. Karena kalau kita tidak punya uang, kadang kita direndahkan orang. Bahagiakan diri sendiri dan anak-anak. Perempuan juga bisa mandiri. Terima kasih untuk bimbingan dan bantuan dari Tambang Emas Martabe,” tutupnya.
Perempuan sebagai Pilar Ekonomi Keluarga
Manager Community Development PTAR, Rohani Simbolon, menjelaskan bahwa Eri dan Dewi adalah dua dari 219 pelaku UMKM aktif binaan PTAR hingga 2024. Menariknya, 87 persen dari mereka adalah perempuan.
“Dari omzet total Rp6,1 miliar, Rp5,5 miliarnya disumbang oleh UMKM perempuan. Ini menunjukkan bahwa peran perempuan sangat besar dalam penggerak ekonomi keluarga,” jelas Rohani.
Program pemberdayaan PTAR tidak hanya fokus pada produksi dan pemasaran, tetapi juga membangun mental wirausaha yang tangguh. Pendampingan dilakukan secara rutin, baik individu maupun kelompok, serta menyediakan akses pameran dan pelatihan lanjutan.
“Kami percaya, ketika perempuan kuat, keluarga ikut kuat. Dan ketika keluarga kuat, masyarakat pun tumbuh,” pungkasnya. (Dame Ambarita)
Editor : Editor Satu