Di sudut kecil Kampung Pasir, Kelurahan Aek Pining, Kecamatan Batangtoru, Tapanuli Selatan, berdiri sebuah rumah produksi sederhana. Di sanalah beragam motif batik ikon Tapsel lahir: dari salak, kopi Sipirok, hingga Benteng Huraba.
______
Di balik motif-motif batik Tapsel, ada sosok Santi Budi Lestari (35), perempuan yang tidak hanya melahirkan karya, tetapi juga membangkitkan mimpi perempuan lain.
Dengan pendampingan intensif dari PT Agincourt Resources (PTAR), batik Tapsel makin berkembang.
Perempuan itu tak pernah membayangkan dirinya akan menjadi penggerak batik di Tapsel. Tahun 2016, Santi hanyalah tenaga honorer di Dinas Koperasi dan Perindustrian.
Tapi pelatihan membatik yang pernah ia ikuti diingat betul. Ketika peluang datang, ia memilih percaya pada diri sendiri.
“Awalnya saya sendirian. Produksi pakai modal sendiri, semua serba manual,” kenang wanita yang saat ini berusia 35 tahun.
Ia membeli kain katun, canting cap, pewarna sintetis, lalu membuat sendiri tong perebus dan bak pewarna. Meja cap dan cap motif ia pesan langsung dari Solo, Yogyakarta, dan Pekalongan.
“Agar khas, saya sendiri yang menggambar motif. Yang pertama motif salak, buah ikonik Tapsel,” ujar Santi.
Kenapa kopi? “Tapsel itu berkiblat ke pertanian, budaya, dan adat. Warnanya juga khas: merah, hitam, putih, dan kuning. Nah, ini yang saya eksplor,” jelasnya.
Tahun 2018 menjadi titik balik. Batik buatannya terpilih sebagai seragam ASN Kabupaten Tapanuli Selatan yang dikenakan setiap Kamis dan Jumat.
Santi yang semula hanya dibantu satu teman, mulai membentuk kelompok. Lahirlah KUB Batik Tapsel, hasil kemitraan dengan Bank Indonesia dan Dinas KUKM Tapsel.
Namun tantangan segera datang. “Masyarakat kita tidak punya budaya membatik. Banyak yang tidak telaten. Harus dilatih dari nol,” katanya.
Butuh waktu tiga bulan hingga ia sendiri mahir. Teman-temannya rata-rata butuh sebulan. Tapi lewat pendekatan sabar dan fleksibel, kelompok tetap solid.
Kini, KUB Batik Tapsel dan Bator Craft memiliki tujuh anggota aktif—semuanya perempuan. Mereka terbagi tugas: ada yang mencap, mewarnai, merebus, menjahit, dan mencanting.
Dalam sebulan, kelompok ini mampu menghasilkan sekitar 50 lembar kain batik dan hingga 1.000 produk turunan seperti tas dan dompet.
“Produk turunan ini kami kembangkan sejak 2021, setelah mendapat pelatihan dan pendampingan intensif dari PT Agincourt Resources (PTAR),” ujar Santi.
Bersama Bator Craft, batik Tapsel kini menjelma menjadi kerajinan tangan multifungsi, namun tetap sarat makna budaya.
Rumah produksi mereka berdiri di atas tanah sendiri, lengkap dengan instalasi pengolahan air limbah (IPAL).
Berbagai pelatihan terus mengalir: batik tulis, pewarna alami, hak kekayaan intelektual (HAKI), hingga studi banding ke Solo dan Yogyakarta.
“Dulu omzet kami hanya Rp80 juta per tahun. Setelah pendampingan, naik jadi Rp120 sampai Rp200 juta. Itu omzet kotor, tapi cukup untuk menggaji dan bagi hasil,” ujar Santi.
Anggotanya, mayoritas ibu rumah tangga, menerima upah sekitar Rp1 juta per bulan. Jam kerja fleksibel. Sebagian besar membawa pekerjaan ke rumah, lalu mengantar hasilnya ke rumah produksi. Bahkan saat tidak ada pesanan, mereka tetap produksi untuk stok.
“Kalau menjelang Lebaran, biasanya banyak yang datang minta kerja. Jadi kami buat stok, dan tetap kami beri upah,” katanya.
Produk mereka kini dijual di galeri Dekranasda, Galeri UMKM Tapsel di Sipirok, galeri UMKM Bagas Silua milik PTAR, reseller lokal, dan media sosial. Pelanggannya beragam: ASN, guru, tenaga kesehatan, karyawan PTAR, hingga masyarakat umum.
Harga batik cap berkisar Rp185.000–Rp250.000, sedangkan batik tulis bisa mencapai Rp600.000 per lembar. Motif salak dan Benteng Huraba paling diminati.
Santi tak hanya pengrajin, tapi juga pemimpin. “Mereka ini ibu-ibu rumah tangga. Nggak bisa dipaksa. Harus persuasif. Kadang lebih banyak ngobrolnya. Tapi kami ubah pelan-pelan pola pikir itu,” katanya tertawa.
Mimpinya belum selesai. Ia ingin membuka pelatihan membatik untuk siswa sekolah dan masyarakat umum. “Bisa jadi pemasukan tambahan juga untuk kelompok,” ujarnya.
Meski saat ini hasil batik hanya jadi penambah penghasilan keluarga, ia percaya batik bisa jadi mata pencaharian utama jika satu keluarga menekuninya bersama-sama.
Soal legalitas, Santi tak ketinggalan. Ada lebih dari 20 motif batik yang telah ia ciptakan, dan 14 di antaranya sudah terdaftar di HAKI. “Tujuan HAKI lebih ke legalitas. Supaya diakui, tidak dijiplak, dan bisa memenuhi syarat permintaan dari beberapa perusahaan,” jelasnya.
Apa yang paling ia butuhkan sekarang dari PTAR? “Yang paling penting itu pemasaran. Juga pendampingan untuk standar produksi dan pelatihan lanjutan seperti pengolahan limbah. Masih banyak yang belum kami kuasai.”
Membangun Kemandirian Perempuan
Rohani Simbolon, Manager Community Development PTAR, mengatakan program pemberdayaan UMKM ini memang dirancang untuk membuka lapangan kerja baru, agar masyarakat tidak bergantung hanya pada pekerjaan di tambang.
Awalnya, program tidak secara khusus menyasar perempuan. Tapi potensi justru banyak ditemukan pada perempuan. Perempuan dianggap memiliki ketekunan dan daya tahan lebih dalam mengembangkan produk.
“Kalau perempuan bisa menciptakan ekonomi baru dalam rumah tangga, saya yakin keluarga jadi lebih kuat. Ia bukan hanya pelayan rumah tangga, tapi penggerak ekonomi juga,” kata Rohani.
Untuk pria, PTAR punya program pertanian dan pengembangan pemuda.
Sejak 2016, program pengembangan masyarakat telah mendampingi sekitar 250 pelaku UMKM, laki-laki dan perempuan, di luar lokal kontraktor.
Harapan PTAR?
"PTAR ingin mereka jadi perempuan kuat. Perempuan kuat itu tidak mudah menyerah walau produknya belum laku. Dia harus bisa berdiri tegak dan jadi roda ekonomi keluarga. Perempuan kuat, Indonesia kuat,” katanya. (dame ambarita)
Editor : Editor Satu