Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

Lutung Huliap di Batangtoru (2): Biasa Makan Daun Muda, Mulai Turun Menyerbu Tempat Sampah

Editor Satu • Selasa, 10 Desember 2024 | 13:05 WIB
Lutung huliap, biasanya suka makan daun muda dan buah mentah.
Lutung huliap, biasanya suka makan daun muda dan buah mentah.

Biasa makan dedaunan muda dan buah muda, beberapa waktu lalu huliap dari hutan New Magazine mulai turun ke camp karyawan PT Agincourt Resources, di Batangtoru, Tapsel. Mereka menyerbu tempat sampah dan mengacak-acak sisa makanan di sana. Sisa makanan yang mereka sukai ada beberapa jenis.

------------------------------

Dame Ambarita, MetroDaily      

------------------------------

Lutung huliap umumnya mengonsumsi pucuk dedaunan, buah, biji, dan bunga pepohonan. Selain suka daun muda, mereka juga suka buah mentah. Kadang juga makan tulang daun kelapa.

Fathiya Rahma yang khusus mengamati aktivitas harian dan perilaku makan lutung huliap di Batangtoru, menemukan, istirahat merupakan aktivitas yang paling umum huliap di kedua area tersebut. Perbedaan istirahat kedua kawanan tipis sekali, kurang lebih hanya 3 persen, yakni New Magazine 56,6% dan Barani 59,4%.

Di kedua hutan ini, tidak hanya kawanan huliap yang hidup. Tetapi juga ada kawanan monyet ekor panjang, ada kera, ada lutung sarudung.

Huliap aktif di siang hari (diurnal) dan lebih banyak menghabiskan waktu di pohon (arboreal). Saat malam, mereka tidur di pohon tidur.

“Perbedaan signifikan lainnya yang diamati, yakni aktivitas saat bergerak dan interaksi sosial huliap lebih tinggi di New Magazine. Sementara aktivitas makan lebih tinggi di Barani,” cetusnya.

Huliap mengonsumsi rata-rata 32 spesies tumbuhan liar, berasal dari 20 spesies di New Magazine dan 21 spesies di Barani.

Beberapa waktu sejak tahun 2023 lalu, ada fenomena baru pada aktivitas harian lutung huliap yang hidup di hutan New Magazine. Mereka tampaknya mulai beradaptasi dengan dunia manusia dan berani turun ke camp karyawan pada pagi hari, saat camp dalam kondisi sunyi.

Pengamatan Fatiya, jumlah makanan di kedua hutan itu tidak berkurang dan seharusnya cukup untuk makanan seluruh kawanan. Lantas, mengapa kawanan lutung huliap dari hutan New Magazine turun ke camp karyawan?

“Mungkin pernah ada orang yang memberi makan, lantas huliapnya ketagihan dan datang lagi untuk mencicipi,” kata Dr Puji Rianti, dosen IPB University dari Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), yang mahasiswanya juga ikut melakukan penelitian tentang huliap, tetapi dengan topik berbeda.

Proses penyerbuan sampah biasanya dipimpin oleh jantan alfa. Pukul 7 pagi, si alfa mulai nangkring di pohon terdekat untuk melihat-lihat situasi. Setelah dirasa aman, barulah dia memberi kode agar kawanan masuk. Namun sekali-dua kali, jantan remaja pernah juga masuk duluan. Pernah juga seekor betina tua yang turun duluan ke camp. “Jadi tidak selalu alfa jantan atau remaja jantan yang memantau situasi,” kata Suci Utomo.

Kalau si alfa sudah turun, artinya situasi aman dari bahaya. Barulah kawanan mulai melompati pagar dari pohon tertinggi masuk kamp, dan menyerbu tempat sampah.

Pertama, mereka membuka tempat sampah pakai tangan dan mengorek-ngorek mencari sisa makanan. Lantas, makanan yang ditemukan dimasukkan ke mulut pakai tangan.

Sisa makanan jenis apa yang disukai?

“Kalau yang kami lihat sih, semuanya dimakan. Tapi mungkin karena di sana lebih banyak roti sama nasi, itulah yang mereka makan,” kata Suci.

Analisis data pemantauan yang dilakukan Fatiya, 11,8 persen waktu makan kawanan huliap di New Magazine dihabiskan untuk memakan sampah sisa makanan manusia.

Suci Utami, dosen pembimbing Dimas dan Fatiya, mengatakan temuan ini sangat menarik. Karena berkaitan dengan kebutuhan PTAR mengenai manajemen lingkungan. Di mana aktivitas huliap menyerbu tempat sampah ini dinilai cukup menggaggu karena sampah jadi berceceran.

Kebiasaan baru itu juga dinilai tidak baik untuk huliap sendiri, karena terjadi perubahan kebiasaan makan. “Seharusnya ‘kan mereka menjauh dari maniusia. Tetapi mungkin karena ada kebijakan manajemen PTAR untuk melindungi keanekaragaman hayati, huliapnya malah menemukan bahwa berada di dekat manusia itu tidak berbahaya sama sekali. Sehingga mereka merasa aman dan merasa  baik-baik saja dekat manusia,” kata Dr Puji Rianti.

Adanya SOP perusahaan agar karyawan tidak mengganggu satwa di sekitar pertambangan, membuat para satwa itu awalnya dibiarkan. Namun satwa huliap itu malah jadi berani dekat manusia.

Dengan mengetahui pola aktivitas harian huliap ini, para peneliti memberi saran atau rekomendasi kepada manajemen PTAR untuk mengambil beberapa tindakan. Pertama, agar tempat sampah selalu ditutup dengan kuat. Kemudian, agar jam pengangkutan sampah dipercepat.

Juga untuk membuat jembatan arboreal melintasi camp karyawan, sehingga huliap dan primata lainnya bisa menyeberang melewati camp.

 “Prinsipnya, jangan memancing huliap untuk terbiasa dengan manusia. Apalagi memberi makanan. Karena makanan manusia itu ‘kan bukan makanan alami mereka. Dikhawatirkan mereka makin terbiasa dengan manusia dan mulai mendatangi permukiman,” kata dr Puji.

Selain itu, huliap selama ini hidup di atas pohon dan jarang turun ke tanah. Sehingga kebiasaan mereka yang mulai turun ke permukaan tanah dan memakan sisa makanan manusia, dikhawatirkan membuat mereka rentan terinfeksi parasit cacing.

Untungnya, primata yang masih turun ke camp masih kelompok huliap saja. “Biasanya di beberapa tempat, monyet ekor panjang yang suka turun memakan sampah manusia,” kata Suci Utomo.

Temuan ini dinilai memberikan wawasan penting tentang aktivitas harian dan perilaku makan huliap yang dapat digunakan untuk melindungi huliap kembali berperilaku normal dalam aktivitas harian di habitatnya, serta membantu pengelolaan lingkungan hidup di sekitar area pertambangan.

Lantas, apa saja tantangan selama melakukan penelitian? Fatiya mengatakan, seharusnya penelitian ditargetkan dilakukan setiap hari. Tetapi terkadang saat ada blasting di lokasi tambang, mereka tidak dapat pergi ke hutan mengamati aktivitas huliap.

Selain itu, kadang cuaca seperti hujan membuat mereka tidak dibolehkan pergi ke hutan, karena terkait SOP keselamatan perusahaan. “Seharusnya jumlah hari penelitian full selama 4 bulan. Tapi berkurang karena faktor jadwal blasting dan cuaca. Saat tidak bisa ke hutan, data menjadi closed dan pola yang diamati tidak bisa teratur. Iitu saja sih,” katanya.

Padahal, dugaannya, bisa saja ada perbedaan pola aktivitas harian huliap saat ada blasting atau saat terjadinya hujan.

Tantangan lainnya, menurut Dimas, karena penelitian dilakukan di hutan, mereka sering ketemu pacat sehingga kaki menjadi korengan. “Tapi lebih banyak sukanya sih,” kata Dimas.  (mea)

Editor : Editor Satu
#huliap #Tambang Emas Martabe #Agincourt Resources #lutung tapanuli