Sopo Daganak: Membangun Karakter Anak Batangtoru dengan Pendidikan Ragam Seni
Admin Metro Daily• Selasa, 14 Mei 2024 | 15:20 WIB
Anak-anak sedang berlatih tari daerah di Sopo Daganak yang dibangun PTAR, di Batangtoru, Tapanuli Selatan.
Setiap hari selepas pulang sekolah. Anak-anak Batangtoru datang ke gelanggang terbuka Sopo Daganak di Desa Napa, Kecamatan Batangtoru. Di sini, bakat mereka akan ditempa dan diajarkan beragam seni-budaya daerah, yang bersifat membangun karakter dan menghaluskan budinya.
--------------------------
Samman Siahaan, Tapsel
--------------------------
Bangunan berbentuk amfiteater di lahan seluas 4.430 meter persegi, ini. Merupakan bantuan PT Agincourt Resources (PTAR) yang rampung pada tahun 2017 lalu. Memiliki berbagai fasilitas penunjang, seperti kantor, perpustakaan, ruang tata rias, juga studio musik.
Dengan tribune yang dapat menampung 500 penonton. Dikelola Perkumpulan Sahabat Cerdas (Persada), kelompok masyarakat binaan perusahaan Tambang Emas Martabe itu.
Seperti namanya, Sopo Daganak, yang berarti rumah singgah anak-anak. Pun demikian, ini menjadi tempat bagi anak-anak Batangtoru belajar sembari bermain.
Seperti pada kunjungan penulis Sabtu (27/4/2024) sore lalu. Tampak puluhan anak-anak mengerubungi bagian pentas dan orkestra bangunan ini, melihat Rengki Saputra menghitung dari satu sampai delapan, mengiringi gerakan enam anak-anak usia 6 dan 7 tahun, yang tengah membentuk pola berpasangan.
Mereka sedang berlatih tari daerah. Rengki merupakan satu dari tiga pelatih tari di Sanggar Sopo Daganak ini. Dan anak-anak tadi merupakan asuhannya, yang masih kelas pemula di latihan seni tari. Karena itu, gerakan mereka masih terlalu kaku. Dan harus berulang dan pelan, dalam setiap perubahan gerakannya.
Pada kesempatan lain. Tiga anak berusia 12 tahun, menampilkan gerakan yang lebih mahir. Tiga anak-anak itu dengan apik meliuk-liukkan tubuhnya, lalu berlarian sembari mengepakkan tangannya. Dalam satu gerakan juga, sepasang anak tampak berjinjit, kemudian membalikkan tubuhnya ke belakang, hingga benar-benar kayang. Di detik berikutnya, seorang anak berlarian di antara keduanya. Menutup pertunjukan.
Koreografi yang sedang mereka asah itu, merupakan komposisi tari kreasi perpaduan tradisional dan modern. Dengan iringan musik khas Kalimantan, Indonesia Timur dan Electronik Dance. Kadang juga mereka menampilkan medley tari tradisional nusantara.
“Mereka sudah tahap mahir dan menuju advance. Kalau kelas pemula tadi, masih gerakan-gerakan dasar tarian daerah,” terang Rengki, merujuk pada pembagian kelas. Dari pemula, menengah, mahir dan advance.
Pada bulan Mei 2024 ini. Anak-anak asuh Sanggar Sopo Daganak, akan mengikuti lomba tari tingkat nasional di Festival Warisan Budaya Nusantara. Dengan penampilan tari etnik toba. Karena itu, latihan harus lebih sering dilakukan. Termasuk kolaborasi dengan anak-anak yang berlatih di seni gondang khususnya tagading.
Anak-anak sedang berlatih tari daerah di Sopo Daganak yang dibangun PTAR, di Batangtoru, Tapanuli Selatan. Sering kali dalam suatu pertunjukan. Mereka akan berkolaborasi satu jenis seni dengan yang lainnya. Drama, tari, musik dan puisi.
Namun ada pembagian jadwal latihan seni di Sopo Daganak, menyesuaikan hari. Jumat, Sabtu dan Minggu, merupakan hari kelas tari. Senin dan Selasa, ada seni nasyid dan band atau musik modern. Serta pada Rabu dan Kamis, diisi dengan pelatihan gondang, termasuk gordang sambilan dan tagading, dua instrumen musik etnik yang berasal dari Angkola-Mandailing dan Toba.
Pada kesempatan lain, penulis memirsa latihan gondang. Untuk grup tagading dilatih Pardamean Manalu, dan gordang sambilan dilatih Muhammad Syafii. Keduanya merupakan seniman lokal.
Di kelas ini. Anak-anak tidak hanya diajarkan menabuh gordang sembilan atau tagading, termasuk juga instrumen musik lain yang mengiringnya. Seperti hasapi, ogung, suling, dan tulila. Juga diajarkan adat dalam menggunakannya.
Dari berbagai jenis seni dan budaya yang diajarkan di Sopo Daganak ini. Bakat yang telah anak-anak dapatkan, juga sudah punya tempat untuk ditampilkan. Seperti pada Pentas Seni Anak Batangtoru, Festival Tari Sopo Daganak, serta pada pergelaran-pergelaran yang rutin diselenggarakan PTAR. Atau yang dilaksanakan pemerintah Kecamatan Batangtoru dan Kabupaten Tapanuli Selatan.
“Namun yang terpenting. Anak-anak itu percaya diri. Bakat mereka timbul dari yang diajarkan, modal masa depan bagi mereka. Juga mereka tahu ada keberagaman adat, dan mengetahui adat istiadat di Batangtoru. Dan mereka bisa tahu jenis-jenis seni budaya dari etnis lain,” ucap Dastri Sejoli Harahap, pengasuh Persada.
Batangtoru merupakan daerah yang perlintasan Pantai Barat Sumatra, berbatasan dengan Kabupaten Tapanuli Tengah dan Tapanuli Utara. Masyarakatnya majemuk, ragam etnis.
Dan Sopo Daganak, menjadi wahana dalam mempersatukan sekaligus melestarikan seni dan budayanya. Di samping memantik kreativitas anak, juga menghaluskan budi dengan seni. Mengajarkannya sejak dini, kepada 490 anak-anak yang terdaftar hari ini, dalam asuhan kelompok yang berkutat pada pendidikan luar sekolah itu. (samman)