Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

Pembalak Liar & Gurandil Kini jadi Penjaga Taman Nasional

Metro Daily • Selasa, 14 November 2023 | 20:27 WIB
Ketua dan anggota MKK Cisangku foto bersama jurnalis di objek wisata Curug Kembar, Bogor. (Foto: Dok MIND ID)
Ketua dan anggota MKK Cisangku foto bersama jurnalis di objek wisata Curug Kembar, Bogor. (Foto: Dok MIND ID)
Dulu, pilihan sumber penghasilan masyarakat yang berdiam di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) relatif sedikit. Kalau tidak berladang, ya mengambil hasil hutan: sah atau liar. Atau jadi gurandil. Tak ayal, saat tahun 2003 Menteri Kehutanan memperluas areal konservasi TNGHS hingga di atas 100 ribu hektare, konflik meluas. Tapi itu dulu. Kini, para pembalak kayu liar dan gurandil itu memilih bertani, beternak, bahkan pelaku wisata, sembari menjaga taman nasional.

__________________

Dame Ambarita, Bogor

__________________

Udara segar dari deretan pepohonan rindang menyambut pengunjung objek wisata Curug Kembar Cinyenang, di Kampung Cisangku, Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Ada kolam renang dan air terjun yang siap dinikmati. Wisata alam itu berada di kawasan hutan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS).

Objek wisata itu baru dikelola setahun terakhir oleh kelompok Model Kampung Konservasi (MKK) Cisangku. MKK itu digawangi Hendrik (51), kerap disapa Pak RW, mantan ketua Rukun Warga setempat selama 11 tahun.

“Dulu, saya salahsatu cukong atau mafia kayu terbesar di wilayah Cisangku. Umur 16 tahun, saya menikah dan mencari nafkah dengan mengikut jejak nenek moyang menjadi pembalak kayu. Istilah sekarang illegal logging,” kata Hendrik, saat ditemui di lokasi objek wisata Curug Kembar, pertengahan Oktober lalu. Penuh senyum, ia menyajikan cemilan jagung, ubi jalar, dan ketela rebus kepada para tamunya, sejumlah jurnalis yang diboyong MIND ID, BUMN Holding Industri Pertambangan Indonesia.

Hendrik bercerita, anak buahnya kala itu ada 72 orang. Mereka digaji Rp10 ribu per malam untuk menebang dan mengangkut kayu ke lokasi yang bisa dicapai kendaraan. Hutan berbukit hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki. Kawasan yang dirambah mencapai 8.000 hektare. Per malam, mereka bisa membalak 4 kubik kayu.

Sebelum tahun 2003, luas Taman Nasional Gunung Halimun (TNGH) hanya 40.000 hektare. Meski pembalakan kayu dan gurandil terlarang, tetapi pengawasan tidak terlalu ketat. Para pelaku bisa beroperasi malam hari. Apalagi, kawasan hutan berbukit itu belum ada akses jalan raya. Polisi pun enggan patroli rutin. “Saya 8 tahun jadi cukong kayu, persisnya sejak 1995. Aman saja. Pernah ditangkap, tapi bisa lepas asal memenuhi kesepakatan tertentu,” ungkap Hendrik sambil senyum-senyum.

Selain membalak kayu secara liar, masyarakat setempat ada yang mencari nafkah dengan mencari hasil hutan bukan kayu (HHBK) dan berladang. Sebagian menjadi gurandil --penambang emas tradisional secara liar. Para gurandil ini muncul setelah Tambang Emas Pongkor – PT ANTAM Tbk Unit Bisnis Pertambangan Emas (UBPE) Pongkor -- mulai beroperasi di sana tahun 1994. Konon, masyarakat belajar cara mengenali urat emas dari para geologist saat melakukan eksplorasi, yakni: ada batu kuarsa di sekitar.

“Di sini tidak banyak pilihan pekerjaan. Antam hadir, gurandil pun datang. Bagi kami, menjadi gurandil hanyalah pilihan yang tersedia, selain berladang di hutan atau membalak kayu,” kata Sudin (30), mantan gurandil yang kini menjadi anggota MKK Cisangku.

Namun tahun 2003, Menhut memasukkan kawasan hutan Gunung Salak dan Gunung Endut sebagai kawasan TNGHS. Taman Nasional meluas menjadi 113.357 hektare. Kawasan hutan di Gunung Salak yang awalnya berstatus sebagai hutan produksi terbatas dan hutan lindung, kini menjadi kawasan konservasi.

Polisi makin mengetatkan pengawasan. Apalagi Tambang Emas Pongkor telah membangun jalan raya untuk keperluan operasional perusahaan. Akses yang semakin terbuka membuat patroli polisi makin intens.

Merasa terjepit, masyarakat setempat melakukan perlawanan. Termasuk Hendrik dan rekan-rekannya. “Ini masalah perut. Kalau tidak dari hutan, dari mana lagi kami hidup? Pilihannya saat itu, ya melawanlah,” ungkap Hendrik.

Photo
Photo
Pak Hendrik, Ketua MKK Cisangku, saat diwawancarai wartawan di objek wisata Curug Kembar, Bogor. (Foto: Dame Ambarita/MetroDaily)

Meski melawan, Hendrik berhenti juga membalak kayu tahun 2004. Ia dihadang masalah internal. Para pekerjanya beralih menjadi gurandil yang beroperasi di wilayah sekitar Tambang Emas Pongkor. “Ada bos besar gurandil yang berani menggaji mereka Rp100 ribu per hari. Saat itu lagi booming emas. Saya kehilangan seluruh pekerja,” cetus Hendrik mesem-mesem.

Usaha perkayuannya kolaps, Hendrik sempat merantau ke Sukabumi untuk berjualan martabak manis. Tapi merasa tak cocok, setahun kemudian ia kembali ke gunung. Berniat mengulang kembali usaha sebagai cukong kayu.

Tapi petugas Balai TNGHS dan polisi telah berjaga di segala sudut. Kucing-kucingan menjadi fenomena harian. Yang satu mengintip, yang lain ngumpet. “Sempat ada aksi bakar hutan. Ramelah saat itu,” cetus Hendrik kembali mengembangkan senyum.

Setelah 4 tahun konflik, akhirnya tahun 2007 masyarakat dan Kepala Resor TNGHS saat itu, Sabaruddin, sepakat bertemu. Di masjid, mereka saling mencurahkan isi hati. Masyarakat curhat minta diberi hak mencari keberlanjutan ekonomi. Pihak TNGHS minta ekosistem hutan tetap dijaga.

“Alhamdulillah setelah dua kali pertemuan, ada pemahaman antara TN dan masyarakat. Masyarakat boleh memanfaatkan kawasan taman nasional yang ada di zona pemanfaatan untuk penghidupan, sepanjang tidak merusak. Kami bahkan diminta ikut membantu menjaga hutan,” kata Hendrik panjang lebar.

Disusunlah MoU pembentukan kelompok Model Kampung Konservasi (MKK) Cisangku. Awal pembentukan, semua masyarakat yang memiliki garapan di TNGHS masuk menjadi anggota. Gurandil yang ingin alih profesi, juga direkrut. Total 74 anggota. Semua menyatakan siap merawat hutan, asal boleh mencari nafkah di kawasan TNGHS.

Photo
Photo
Pak Hendrik bersama ibu-ibu anggota MKK Cisangku, menunjukkan cara mengolah kopi bubuk ala tradisional, di objek wisata Curug Kembar Bogor (Foto: Dame Ambarita/MetroDaily).

Kopi dan Pembibitan Jadi Andalan

Sejak MoU ditandatangani, anggota MKK secara bertahap memperbaiki hutan yang dulu sempat ditebang dan dibakar. Mereka aktif melakukan penanaman bibit pohon. Juga ikut menjaga keberlanjutan air dan hutan bersama pengelola Taman Nasional, lewat program Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL).

Karena butuh bibit pohon yang banyak, MKK Cisangku mulai melakukan pembibitan. “Sejak MoU diteken hingga sekarang, bibit yang ditanam di kawasan Bogor kami perkirakan sudah mencapai 1.200 hektare,” kata Hendrik.

Melihat keseriusan anggota MKK, tahun 2010 Tambang Emas Pongkor memberi pekerjaan menyediakan bibit pohon sebanyak 50 ribu batang. Bibit pohon itu untuk rehabilitasi di kawasan tambang yang dibuka. Bibit yang diminta adalah pohon endemik khas TNGHS.

“Kami mulai membibitkan pohon rasamala, puspa, gantri, salam, ki sireum, jenis huru, mahoni, kopi arabika, petai, durian, dan pala. Bahkan saat ini juga sedang membibitkan pohon langka TNGHS,” kata Hendrik penuh semangat.

Bibit yang diproduksi hingga tahun 2023 sudah mencapai 867 ribu batang. Sebagian ditanam di hutan, sebagian dijual. Yang terjual sudah 150 ribu batang. Harga jual bervariasi. “Sekarang persemaian kami punya stok mencapai 300 ribu batang. Pemesan datang dari Bogor, Surabaya, Bandung, bahkan Samarinda,” kata Hendrik bangga.

Untuk penyediaan bibit, selain di lokasi persemaian, MKK Cisangku juga mengajak masyarakat membuat persemaian di rumah. MKK menyediakan polybag. “Jadi penerima manfaat bukan hanya anggota kelompok MKK, tetapi juga fakir miskin dan jompo yang diberdayakan menanam bibit pesanan,” cetusnya.

Adapun Tambang Emas Pongkor menjadi pembeli tetap, yang terus memesan bibit pohon ke MKK Cisangku. Baik untuk rehabilitasi lahan di lokasi tambang, maupun untuk dibagikan ke masyarakat. Hingga kini, total sudah 15 tahun mereka mendapat penghasilan dari menjual bibit pohon.

Selain pembibitan, anggota MKK Cisangku juga memperoleh penghasilan dari kopi yang ditanam di zona pemanfaatan di kawasan TNGHS. Bahkan, kopi kini menjadi unggulan MKK Cisangku sebagai sumber penghasilan, melampaui omzet dari penjualan bibit pohon.

“Awalnya, kami menjual biji kopi mentah saja. Hasil ladang kopi anggota kelompok di atas lahan kurang lebih 2 hektare. Kami tanam sejak 2014 lalu. Tapi sejak didampingi Tambang Emas Pongkor, setahun terakhir kami sudah memproduksi dan menjual kopi bubuk kemasan,” ungkap Hendrik.

Ditingkahi suara alu menumbuk kopi di lesung, kakek dua cucu ini menyebut, bubuk kopi yang mereka jual diolah dengan teknik ala nenek moyang. Pertama, biji kopi yang telah kering disangrai kurang lebih 30 menit di atas bara api. Kemudian ditumbuk di lesung dan diayak manual. Setelah dingin, dimasukkan ke toples.

Para pekerjanya kaum ibu. Mereka mendapat upah Rp4 ribu-6 ribu per toples kopi yang diproduksi. Per hari mereka bisa memproduksi 50-100 toples. Toples isi 150 gram dijual Rp25 ribu, dan isi 200 gram dijual Rp45 ribu.

“Kopi asli Cisangku ini produk kebanggaan kami. Rasa dan aromanya luar biasa bagus. Udah viral juga loh,” kata Hendrik mempromosikan kopi produksinya.

Penjualan kopi dilakukan di outlet mereka di Kota Bogor. Outlet itu telah dikunjungi rata-rata 460 pengunjung per bulan. Kopi juga dijual lewat akun medsos MKK Cisangku di Instagram. “Untuk kopi, Tambang Emas Antam Pongkor membantu kami mengurus legalitas izin edar dan label halal,” ungkapnya.



Photo
Photo
Pintu masuk objek wisata Curug Kembar Cinyenang, di Kampung Cisangku, Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. (Foto: Dame Ambarita/MetroDaily)

Objek Wisata Alam & Patroli Hutan

Pepatah menyebut, ada kemauan pasti ada jalan. Lama bergerak di kawasan taman nasional, anggota MKK Cisangku terus memunculkan ide-ide usaha baru. Tahun 2021, mereka punya ide menata air terjun di kawasan hutan yang mereka kawal, menjadi objek wisata.

“Kami namai air terjun Curug Kembar Cinyenang, karena saya ini ‘kan kembar. Ini abang kembar saya. Namanya Hendro,” kata Hendrik berkelakar, sembari memperkenalkan saudara kembarnya.

Konsep objek wisata yang mereka kelola itu berbasis melestarikan alam dan menyejahterakan masyarakat sekitar. Luasnya mencapai 1,8 hektare. Ini bagian dari total 5 hektare lahan di kawasan TNGHS yang dikelola MKK Cisangku. Lahan selebihnya untuk pertanian.

Anggota MKK Cisangku membangun objek wisata itu setahap demi setahap. Mulai dari membersihkan areal, membangun akses jalan menuju air terjun, membangun fasilitas penunjang kegiatan wisata, mulai dari MCK, jembatan bambu, gazebo, kolam renang, dan seterusnya. Juga menempelkan nama-nama pohon untuk memenuhi misi edukasi. “Tidak mudah, tetapi semua anggota bekerja cerdas dan ikhlas. Semua senang, karena ada masa depan di sana,” kata Hendrik.

Sebagai perusahaan yang mendampingi, Tambang Emas Pongkor membantu membangun gazebo, musala, dan menyumbang paving blok di lokasi wisata tersebut. Juga membantu MKK Cisangku mengurus izin usaha objek wisata di kawasan TN. Baik izin usaha wisata maupun izin pengelolaan air terjun.

Objek wisata dibuka untuk umum pada September 2022, dengan tiket masuk hanya Rp10 ribu per pengunjung. Parkir gratis. Gazebo juga gratis. “Alhamdulillah, sejak dibuka tahun lalu, sudah banyak yang berkunjung. Baik wisatawan lokal maupun wisatawan luar negeri seperti Jepang dan Belanda,” kata Hendrik.

Hari biasa, pengunjung rata-rata 20-30 orang, weekend 50-100 orang. Uang yang diperoleh masih pas-pasan untuk biaya menjaga kebersihan.

Tetapi melihat prospeknya, seluruh anggota MKK Cisangku bermimpi, selain menjadi media pembelajaran dan pelestarian lingkungan dan ekologi, objek wisata itu mampu meningkatkan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan. “Alhamdulilah, kini nyaman mendapat penghasilan dari pembibitan, kopi, dan wisata. Tidak lagi ketakutan seperti saat jadi pembalak liar,” kata Hendrik.

Dulu, kenangnya, duit membalak hutan banyak, tetapi raib tak jelas. “Sekarang enak, uangnya berkah. Tak perlu takut atau ngumpet,” katanya.

Sebagai rasa tanggung jawab karena dibolehkan mendapat penghasilan dari TNGHS, sejak tahun 2012 MKK Cisangku membentuk tim keamanan swakarsa. Tugas tim mulai dari memetakan titik lahan yang perlu direhabilitasi, melakukan penanaman bibit pohon, pengamanan areal, dan mengawasi areal rawan longsor.

Photo
Photo
Angga, tim patroli sekaligus pemandu wisata di Curug Kembar Cinyenang, di Kampung Cisangku, Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. (Foto: Dame Ambarita/MetroDaily)

Tim patroli juga mengawasi pemburu liar, mengawasi ancaman pencemaran dari PETI (penambang emas tanpa izin) yang masih tersisa, menjaga kebersihan alam dari sampah, bahkan ikut dalam pencegahan kebakaran hutan.

“Sekali seminggu, 3-4 orang bertugas melakukan patroli hutan. Patroli berlangsung 24 jam. Rute patroli mencapai 5 km,” kata Angga (32), warga Desa Nalasari yang bertugas sebagai anggota patroli sekaligus pemandu wisata.

Jadwal patroli bisa bertambah sesering mungkin jika diperkirakan banyak pengunjung. “Saya gabung MKK tahun 2007. Melakukan patroli sejak 2012. Kami tidak digaji, hanya rasa tanggung jawab melindungi hutan karena kami dibolehkan mencari nafkah di kawasan ini,” ungkapnya sembari tersenyum manis.

Mengaku pernah ketemu harimau, tanaman langka, dan pemburu liar, ia bangga ikut berperan serta memberi edukasi kepada para pemburu dan PETI agar tidak lagi mengulangi aktivitasnya.

Sebagai pemandu wisata, Angga mengaku sangat senang. “Alhamdulilah senang banget. Penghasilan cukup untuk sehari-hari tanpa perlu melakukan kegiatan ilegal. Bahkan prospeknya cerah,” katanya sembari mengawasi pengunjung yang mandi-mandi di air terjun Curug Kembar.



Photo
Photo
Sudin dan rekannya Hikmatul Azis, mantan gurandil yang menjadi anggota MKK Cisangku, bersantai bersama anggota Koptan binaan Tambang Emas Pongkor, di lokasi wisata Curug Kembar. (Foto: Dame Ambarita/MetroDaily)

Jumlah Gurandil Menurun Drastis

Dibanding dulu, prospek ekonomi saat ini dinilai lebih melegakan hati. Sekitar 20-an tahun lalu, jumlah gurandil di kawasan TN Gunung Halimun Salak mencapai seribuan orang.

“Kampung kami ini ‘kan awalnya tergolong kampung primitif. Jalan kaki ke sekolah saja bisa puluhan kilometer. Sumber penghasilan tidak banyak. Tahun 90-an hingga 2000-an, sekitar 80 persen warga sini memilih jadi gurandil,” kata Pak Uci (60), warga Desa Malasari, anggota MKK Cisangku.

Kata ayah lima anak ini, awalnya ia tergiur menjadi gurandil karena melihat orang lain banyak uang. “Sehari, gurandil bisa dapat uang jutaan. Laa… saya berdagang martabak ke Sukabumi, berbulan-bulan baru bisa kumpulkan untung jutaan,” katanya terkekeh, menunjukkan giginya yang sedikit ompong.

Usia 30, ia banting setir menjadi gurandil. Bermodal palu, pahat, dan senter, ia dan rekan-rekannya masuk ke lubang-lubang galian tanpa APD (alat pelindung diri) yang memadai.

Jika kedalaman lubang sudah mencapai 500 meter ke dalam tanah, para gurandil bisa tidur berhari-hari di dalam terowongan. Bekal logistik diantar kurir yang diutus bos gurandil. Udara dimasukkan ke terowongan lewat selang. “Satu lubang bisa diisi 40 orang. Sistemnya estafet. Ada yang memahat mengikuti urat emas. Ada yang mengangkut batu ke permukaan, dll,” katanya.

Jika mereka ketemu urat emas, sehari bisa mendapat Rp5 juta-10 juta. “Tapi kalau lagi sial, sebulan bisa zhong (kosong, red),” katanya seraya terkekeh.

Meski bisa menyekolahkan anak dan membangun rumah dari hasil gurandil, tahun 2014 Pak Uci memilih berhenti. “Hati nggak tenang, tidur nggak tenang. Takut ditangkap. Karena kami sebenarnya sadar bahwa itu ilegal. Juga takut bahaya tertimbun, atau mati kekurangan oksigen di lubang kayak teman-teman lain,” ucapnya.

Ia pun bergabung menjadi anggota MKK Cisangku, yang saat itu sudah mulai mendapat proyek pembibitan pohon. Dan aktif menjadi anggota hingga sekarang.

Salahsatu mantan bos gurandil, Syamsudin alias Wak Ableh (60), warga Desa Bandar Karet, mengaku dirinya pernah berinvestasi di tambang emas liar di kawasan Pongkor. Tapi kecil-kecilan saja. “Fisik saya ‘kan lemah. Nggak kuat mendaki gunung. Jadi saya tanam saham saja membiayai pembukaan lubang (istilah untuk pembukaan titik tambang liar, Red),” katanya.

Modal yang ditanamnya tidak besar. Hanya Rp500 ribu per lubang. Bareng-bareng dengan pemodal lain. “Untung pemodal itu tidak tentu. Paling Rp 50 ribu hingga 150 ribu per hari. Bahkan pernah seminggu hanya Rp50 ribu. Kadang bangkrut. Beda dengan pemetik (gurandil) yang bisa dapat hasil besar,” katanya.

Diakuinya, memang ada saja bos gurandil yang jadi kaya raya. Tapi itu hanya 1 dari 1.000 orang. “Maklum, itu usaha serabutan dan ilegal. Kerjanya tidak sistematis,” katanya.

Aktivitas sebagai pemodal gurandil dilakoninya selama setahun. “Banyak yang menegur dan menasehati. Takut juga kalau ditangkap. Jadi saya mundur,” katanya.

Pria yang punya keahlian bertukang itu lantas menjadi mitra proyek Tambang Emas Pongkor. Hingga kini menjadi kontraktor tetap. “Sudah 5 tahun jadi mitra Antam,” katanya.

Sejak penertiban dan penangkapan semakin intens dengan masuknya kawasan Gunung Salak dalam kawasan TNGHS, banyak gurandil yang mundur karena takut. “Kini, diperkirakan tinggal 50 orang di kawasan gunung,” kata Pak Hendrik.

Berkurangnya jumlah gurandil bukan melulu karena takut ditangkap. Tetapi juga karena urat emas kadar lebih tinggi jauh berkurang. Selain itu, muncul pilihan-pilihan usaha yang lebih variatif.

Antam Pongkor sebagai perusahaan pertambangan emas resmi di kawasan itu, memang tidak diam saja melihat kesulitan warga lingkar tambang. Secara bertahap, Tambang Emas Pongkor melalui divisi Corporate Social Responsibility (CSR), melakukan pendampingan untuk memandirikan masyarakat. Salahsatunya lewat PEPELING (Program Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Pelestarian Lingkungan) Cisangku.

“Master plan CSR itu adalah pelibatan dan pengembangan masyarakat secara berkelanjutan. Masyarakat desa diberdayakan hingga mandiri,” kata Manager CSR Antam UPBE Pongkor, Arif Rahman Saleh.

PEPELING Cisangku misalnya, rantai nilainya meliputi budidaya domba, rumah produksi pupuk bokashi, produksi kopi tumbuk Cisangku, Edu Ekowisata Cisangku, persemaian bibit tanaman TNGHS, implementasi pupuk hayati Mikoriza, restorasi kawasan berbasis masyarakat, dan patroli kawasan secara partisipasif.

Sudin, mantan gurandil, warga Desa Cisarua, misalnya, memilih beternak domba. Bersama 6 rekannya mantan gurandil, mereka membentuk kelompok peternak domba Garut. “Kotoran domba jadi pupuk bokashi, dagingnya bisa dijual,” katanya.

Awal berdiri, kelompok mereka mendapat bantuan 50 ekor domba dari Antam Pongkor. Setelah berkembang biak, pada Hari Idul Adha domba kurban bisa terjual dengan harga Rp3 juta-4 juta per ekor. Domba yang tidak produktif lagi bisa dijual Rp2 jutaan.

“Jika sekali jual laku 150 ekor, bisa dapat Rp300 jutaan. Bagi kami anak-anak muda yang sebelumnya pengangguran, ini menjadi sumber penghasilan yang sangat cukup,” kata rekannya, Hikmatul Azis, warga Desa Cisarua, juga mantan gurandil.

Setelah beberapa kali menjual domba, saat ini ternak yang mereka pelihara ada 200 ekor.

Kelompok peternak di MKK Cisangku itu berbagi tugas. Ada yang bertugas mengambil rumput, merawat domba, bertanam di kebun, dan sebagainya. Domba diternakkan di atas lahan 3 hektare eks HGU Hapindo. “Kami mengelola pertanian terintegrasi. Ada yang menanam di kebun. Hasilnya untuk pakan ternak dan untuk kehidupan sehari-hari. Yang beternak menjaga domba dan mengelola kotorannya. Hasil penjualan ternak jadi tabungan. Sebagian untungnya diputar lagi,” kata mereka.

Sejak didukung Antam Pongkor, mereka mengaku lebih terarah. Pupuk bokashi yang diproduksi dari kotoran domba sudah mencapai 1.600 kg. Produksi pupuk hayati Mikoriza mencapai 30 ribu ton per tahun. Sampai saat ini sudah mencapai 80 ribu ton produksi.

Pilihan yang semakin bervariasi membuat sisa gurandil di Desa Melasari yang masih melakukan PETI di lokasi gunung, diperkirakan tinggal 10-15 persen.



Photo
Photo
Manager CSR PT Antam Tbk UBPE Pongkor, Arif Rahman Saleh. (Foto: Dame Ambarita/MetroDaily).

CSR Antam Fokus Memandirikan

Manager CSR PT Antam Tbk UBPE Pongkor, Arif Rahman Saleh, mengatakan PT Antam fokus pada rencana utama melibatkan dan mengembangkan masyarakat secara berkelanjutan. Terutama masyarakat desa lingkar tambang.

Untuk itu, PT Antam --anggota MIND ID-- yang komitmen memberi nilai tambah untuk Indonesia, melakukan sosial mapping (manage CSR) di 11 desa di Kecamatan Nanggung. Ke-11 desa dibagi 3 zona, yakni ring 1 ,2, 3. “Yang saat ini didampingi secara aktif ada 5 desa. Yakni Desa Nanggung, Desa Cisarua, Malasari, Bandar Karet, dan Desa Kalong Liud,” katanya.

Dalam merencanakan program, Antam memilih musyawarah pemberdayaan masyarakat desa (Muspemasdes). Musyawarah ini untuk menangkap aspirasi masyarakat dalam meningkatkan perekonomian dan infrastruktur di Kecamatan Nanggung. Jadi masyarakat yang mengajukan ide, PT Antam membedah.

Program CSR Antam sendiri meliputi bidang pendidikan, kesehatan, pekerjaan, kemandirian ekonomi, sosial dan budaya, lingkungan, penguatan kelembagaan masyarakat, dan infrastruktur.

“Merujuk hasil survey lapangan, skor Community Satisfaction Index (CSI) untuk UBPE Pongkor pada tahun 2022 sebesar 89,81. Angka itu berada pada kategori sangat puas,” kata Arif.

Adapun PEPELING Cisangku termasuk salah satu program unggulan TJSL. Penerima manfaat saat ini 26 anggota MKK Cisangku ditambah 11 pengelola wisata Cisangku. “Latar belakang penerima manfaat sebagian besar pelaku illegal logging dan PETI,” ungkapnya.

Antam juga mendampingi pertanian terintegrasi Cisarua, yang terletak di Kampung Babakan Cengkeh dan Kampung Cihiris. Para penerima manfaat sebagian besar merupakan pelaku PETI. Kelompok TarunaTani memanfaatkan kotoran domba dari kelompok Jarofarm, sebagai media tanam pendukung pertanian. Sementara Jarofarm memanfaatkan batang dan daun jagung hasil pertanian untuk pakan domba yang mereka ternakkan.

Selain mensupport beberapa keperluan warga, pendampingan Antam Pongkor juga meliputi pemberian edukasi lingkungan, pelatihan tentang kerajinan-kerajinan, manajemen pemasaran, dan sebagainya.

Tak hanya MKK Cisangku, Antam juga memberdayakan sejumlah kelompok di 4 desa lain. Misalnya, kelompok mantan gurandil dan tukang parkir ilegal di Desa Bantar Karet. “Nama kami Koptan Maju Bersama. Kami kelompok peternak jangkrik,” kata Iskandar, anggota koptan.

Lewat pembinaan desa dari Antam Pongkor, koptan mereka kini sukses beternak jangkrik. Dari modal awal berupa 6 kotak jangkrik ditambah pelatihan beternak dan mesin tepung dari Antam Pongkor, kini mereka sudah 4 kali panen. “Omzet Rp 26 juta. Sekarang, kami sedang membudidayakan 12 kotak jangkrik,” katanya semringah.

Ia berharap usaha mereka terus berkembang. Karena penampung jangkrik siap membeli hingga 6 kuintal per hari. “Senanglah, karena sekarang kami terorganisir. Dulu tidak paham pembukuan dan pembagian hasil. Setelah didampingi, jadi paham. Sekarang kami bahkan sudah diikutkan musrembang kecamatan, loh,” katanya bangga.

Antam juga mendampingi Koptan Bengkok Sejahtera, kelompok Ketahanan Pangan di Desa Kalong Liud. Juga kelompok wanita tani Sinar Harapan, di Desa Nanggung dalam hal penguatan organisasi dan pelatihan menanam.

“Ke depannya, warga harus mampu mandiri dan lepas dari pendampingan. Yang mantan gurandil, jangan sampai nge-gurandil lagi. Mantan pembalak kayu liar jangan membalak lagi. Antam siap mendampingi sampai mereka mandiri,” kata Arif Rahman Saleh.

Kades Nanggung, Ahmad Sodik dan Kades Kalongliud, Jani Nurjaman, mengakui senang dengan banyaknya support PT Antam pada peningkatan kehidupan masyarakat desa.

Kini warga Desa Nanggung sudah mandiri di bagian sayur mayur. Mampu mempacking kopi dan memasarkannya dengan baik. Bahkan memiliki Bumdes Gerbang Emas, dengan aset mencapai Rp200 juta.

Di Kalongliud, warga kini bisa memanfaatkan lahan tidur dan mampu membuat perencanaan, penanaman, perawatan, dan pemasaran hasil pertanian.

“Kondisi masyarakat saat ini sudah jauh berbeda dibandingkan dulu. Sekarang mayoritas penduduk punya banyak pilihan profesi. Ekonomi masyarakat berkelanjutan, lingkungan tetap terjaga,” ujar Arif Rahman Saleh.

Komitmen Antam terhadap masyarakat, tidak hanya dilaksanakan pada saat berlangsungnya kegiatan operasional perusahaan saja. Tetapi juga melalui berbagai program pasca tambang. “Antam mempersiapkan kemandirian wilayah dan masyarakat setempat, jika sewaktu-waktu izin Antam berakhir di wilayah operasional,” tutupnya.  (dame ambarita) Editor : Metro Daily
#gurandil #MKK Cisangku #Taman Nasional Gunung Halimun Salak #Pembalak hutan #Tambang Emas Pongkor