Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

Lubang Jepang Sibolga yang Dilupakan dan Terabaikan 

Metro Daily • Kamis, 19 Agustus 2021 | 11:49 WIB
Personil Satuan Samapta Polres Sibolga yang melakukan patroli bersepeda saat menyambangi salah satu bank di Sibolga, Sabtu (23/7/2022).
Personil Satuan Samapta Polres Sibolga yang melakukan patroli bersepeda saat menyambangi salah satu bank di Sibolga, Sabtu (23/7/2022).
Syafriwal Marbun, Pemerhati Sejarah Kota Sibolga.
LUBANG Jepang atau tepatnya “Terowongan Jepang” sangat banyak bertebaran di berbagai daerah Indonesia. Disebut ‘Lubang Jepang’ karena bangunan tersebut dibuat pasukan Jepang saat berada di Indonesia pada masa perang Asia Timur Raya, untuk memperkuat pertahanan mereka.

Bersama Adolf Hitler (Jerman), Benito Mussolini (Itali), Jepang ingin menguasai dunia. Untuk mencapai cita-cita tersebut, ketiga negara bekerjasama dengan pembagian kerja, merebut Eropa tugas Jerman, mencaplok Afrika tugas Itali. Sementara Jepang ditugaskan menguasai negara-negara timur. Poros Berlin-Roma-Tokio inilah pemicu terjadinya malapetaka Perang Dunia II dan menjadikan Indonesia korban di dalamnya.

Jepang yang sangat berambisi ingin menguasai Asia dengan melawan negara-negara Barat (diluar Jerman-Itali) yang berada dibawah payung Sekutu, membuat banyak bunker diberbagai negara dan daerah taklukannya. Konon ini adalah sterategi pertahanan pelindung diri pasukan Jepang dari serangan Sekutu. Fungsi lubang ini sebagai pertahanan,  penyimpanan alat perang dan tempat persembunyian dari kejaran tentara Sekutu tersebut.

Dikatakan konon, karena banyaknya cerita misteri tentang seluk beluk pembangunan dan fungsi sebenarnya tujuan pembuatan lubang Jepang itu sebab sesungguhnya tentara Jepanglah yang mengetahuinya karena mereka sebagai pelaku sejarah pada masa itu.

Jepang menginjakkan kaki di Sibolga, masuk dengan pasukan bersepeda dari Tarutung tanggal 3 Maret 1942. Mereka meneruskan berbagai rencana yang ditinggalkan Belanda, seperti pelebaran batu lubang di Sitahuis yang berperan sebagai jalan vital Sibolga-Tarutung.

Dikutip dari buku Bunga Rampai Tapian Nauli, diceritakan bahwa dengan sangat bengis Jepang menangkapi berbagai pemuda sepulang menonton bioskop malam hari di kawasan Sumatera Timur, lalu dibawa ke Sibolga untuk dijadikan romusha dan Jugun Ianfu (wanita penghibur).

Juga dalam wawancara kepada beberapa orang tua yang sempat mendengar asal-usul pembuatan lubang Jepang ini, banyak rakyat dari berbagai daerah Indonesia di datangkan seperti Kalimantan, Sulawesi dan Jawa. Kehadiran mereka ini agar tidak membocorkan rahasia pembuatan lubang. Mereka tidak mengerti bahasa yang digunakan masyarakat Sibolga, sehingga menyulitkan pekerja romusha ini berkomunikasi dengan masyarakat setempat. Para romusha juga dijaga dan diawasi oleh tentara agar tidak melarikan diri.

Sistem pelaksanaan pengerjaannya dibuat dengan menggunakan teknis pembagian peranan keahlian, seperti pada bagian penggalian dilakukan oleh para ahli-ahli dari Jepang. Sedangkan bagian menggali tanah dan mengambil tanah galian, membuat dinding penyangga dari kayu dan pekerjaan kasar lainnya dilakukan orang-orang Indonesia.

Sejarah ternyata mencatat, ketiga negara yang berambisi menaklukkan dunia ini kalah. Akibat pengeboman kota Nagasaki dan Hirosima oleh Amerika. Jepang mengakui kekalahan perang terhadap Sekutu, maka berakhir pulalah penjajahan Jepang di Indonesia.

Akibat kekalahan, Jepang memusnahkan bukti-bukti ataupun berkas-berkas pembuatan lubang dan terowongan. Berkas rencana, gambar, spesikasi dan anggaran dibakar. Itulah sebabnya rantai sejarah untuk apa lubang-lubang ini dibuat putus tanpa ada ditemukan dokumen. Jangankan dokumen-dokumen resmi,  satu lembar surat pribadipun musnah hangus dibakar.

Tinggal kini bentuk fisik dari pekerjaan para romusha yang dikerahkan membuat beberapa buah benteng pertahanan di sekitar Sibolga, sebagai saksi bisu sejarah kelam penaklukan Jepang. Salah satu dan yang sangat spektakuler adalah Benteng di bawah Bukit Katapang yang memiliki banyak lorong keluar masuk. Benteng yang memiliki banyak pintu ini dan terhubung satu sama lain telah sulit dijelajahi karena tertutup reruntuhan tanah, damg bahkan sudah ada yang dijadikan pondasi rumah penduduk.

Begitu juga sebuah lorong Jepang yang menembus gunung Katapang dari ujung ke ujung dan sangat layak dijadikan wisata sejarah. Namun sayang, pintu masuk dari Jalan Melati telah dijadikan dapur dan gudang oleh penduduk dan harus minta ijin pula untuk masuk. Sebagai warisan sejarah, sangat disayangkan lorong ini telah ditempati sembarangan orang.

Lubang Jepang lainnya ada di bawah Bukit Tanggo Saratus. Dimulai dari Jalan Sutoyo Siswomiharjo (konon) tembus ke bukit sebelahnya Jalan Sibualbuali. Senasib,  lubanb ini telah dikunci pintunya. Sementara halamannya dijadikan taman yang sesak bangunan untuk jualan. Kita berharap taman ini sebaiknya difungsikan sebagai taman sejarah yang di buat sebagai pusat informasi pariwisata dan sejarah Kota Sibolga, bukan kedai makanan seperti yang kita saksikan sekarang.

Satu lagi ada di Kampung Ai Manih, Kajekaje, Sibolga Selatan, tepatnya di belakang sebuah sekolah dasar. Ada plang gua Jepang. Terlihat disitu sebuah dinding berjelaga hitam bekas pembakaran sampah, sebuah gua sempit yang dijadikan pembuangan sampah dan juga tempat pembakaran sampah.

Sangat sedih dan menyayat hati, peninggalan sejarah yang bernilai historis tinggi ini terlantar dan bisa dikatakan terlupakan. Padahal, jika dikelola dengan baik, bisa mendatangkan wisatawan dan membuat nilai tambah untuh Kota Sibolga.

Di bulan agustus ini sudah selayaknya kita peduli dengan sejarah. Mencari jejak-jejak sejarah kemerdekaan masa lalu, untuk menghormati mereka yang berkorban untuk kemerdekaan negara Republik. Indonesia. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai dan menghormati serta tidak melupakan jasa para pahlawannya. Salam Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh. (Oleh: Syafriwal Marbun, Pemerhati Sejarah Kota Sibolga)

  Editor : Metro Daily