Sumut Kembangkan Kawasan Unggulan Perikanan, Produksi 2025 Capai 382 Ribu Ton

Editor Satu • Dipublikasikan Kamis, 17 September 2026 | 15:36 WIB
Dinas Kelautan dan Perikanan Sumut memaparkan pengembangan kawasan unggulan perikanan tangkap dan budidaya dalam temu pers di Kantor Gubernur Sumut, Medan, Kamis (17/9/2026). Foto: Diskominfo Sumut/YT Hariono
Dinas Kelautan dan Perikanan Sumut memaparkan pengembangan kawasan unggulan perikanan tangkap dan budidaya dalam temu pers di Kantor Gubernur Sumut, Medan, Kamis (17/9/2026). Foto: Diskominfo Sumut/YT Hariono

MEDAN, METRODAILY — Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Sumut) mengembangkan kawasan unggulan perikanan tangkap dan budidaya dari hulu hingga hilir.

Program strategis daerah ini diarahkan untuk meningkatkan produksi, nilai tambah hasil perikanan, sekaligus kesejahteraan nelayan dan masyarakat pesisir.

Pengembangan kawasan tersebut dilakukan Pemprov Sumut melalui Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sumut bersama Universitas Sumatera Utara (USU) dengan menyusun master plan kawasan unggulan perikanan tangkap dan budidaya.

Baca Juga: Disdik Sumut Kebut Rehab 187 Ruang Kelas, Ditargetkan Rampung September

Kepala Bidang Perikanan Tangkap DKP Sumut Jenny Masniari Sinaga mengatakan, pengembangan kawasan pada 2026 diprioritaskan di pantai barat dan pantai timur Sumut. Sementara pada 2027, pengembangan diarahkan ke Kepulauan Nias.

“Tahun 2026 ini untuk pengembangan kawasan unggulan perikanan tangkap kita prioritaskan di wilayah pantai barat dan pantai timur dan tahun 2027 kita kembangkan di Kepulauan Nias,” ujar Jenny dalam temu pers yang digelar Dinas Komunikasi dan Informatika Sumut di Kantor Gubernur Sumut, Kamis (17/9/2026).

Penentuan lokasi kawasan unggulan didasarkan pada potensi dan produksi perikanan masing-masing daerah. Data DKP Sumut mencatat produksi perikanan Sumut pada 2025 mencapai 382.127,77 ton.

Baca Juga: Asap Selimuti Sejumlah Wilayah Sumut, Jarak Pandang Turun hingga 1 Km

Sementara target produksi 2026 ditetapkan 383.036,91 ton. Hingga triwulan II 2026, produksi telah mencapai 200.931,45 ton.

Sejumlah daerah tercatat memiliki produksi perikanan tinggi pada 2025, antara lain Tapanuli Tengah (Tapteng), Batubara, Asahan, dan Tanjungbalai. Data produksi tersebut menjadi salah satu dasar penentuan lokasi kawasan unggulan.

“Data produksi ikan inilah yang menjadi dasar kami untuk memilih penentuan lokasi sebagai kawasan unggulan yang konsepnya dibangun dari hulu ke hilir, di mana nelayan kita berikan alat tangkap dan bantuan lain yang dibutuhkan dan nanti dibantu hilirisasinya hingga pengolahan,” kata Jenny.

Untuk Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) 572, pengembangan mencakup Kepulauan Nias yang terdiri atas Nias, Nias Utara, Nias Barat, Nias Selatan, dan Kota Gunungsitoli.

Baca Juga: Wagub Sumut: Konektivitas Kunci Percepatan Pembangunan

Kawasan pantai barat meliputi Sibolga, Tapteng, Tapanuli Selatan (Tapsel), dan Mandailing Natal (Madina). Komoditas potensial di wilayah ini antara lain cakalang, tongkol, tenggiri, tuna sirip kuning, kembung, layang, selar kuning, tembang, kuwe, dan bawal.

Sementara WPP 571 mencakup kawasan pantai timur, yakni Langkat, Medan, Deli Serdang, Serdang Bedagai, Batubara, Tanjungbalai, Asahan, Labuhanbatu, dan Labuhanbatu Utara.

Komoditas potensial di wilayah tersebut antara lain kembung, tembang, kerang darah, tetengkek, senangin, cumi-cumi, tenggiri, lencam pasir mata besar, udang jerbung, dan layang benggol.

Baca Juga: Gempita GasKita Hadir di Tasbi 1 Medan, PGN Tekankan Aman Pakai Gas Bumi

Menurut Jenny, pengembangan kawasan unggulan tidak semata-mata mengejar peningkatan produksi. Program tersebut juga diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan, menjaga keberlanjutan ekosistem laut, serta memperkuat rantai usaha perikanan.

Hilirisasi menjadi salah satu bagian dari master plan. DKP Sumut menyiapkan pengembangan kawasan pengolahan ikan asin di Sibolga, Asahan, Batubara, dan Tanjungbalai.

“Kita harapkan potensi ikan yang berlebih di daerah ini bisa diolah menjadi ikan asin,” ujar Jenny.

Pengembangan kawasan perikanan tangkap juga diintegrasikan dengan program Kampung Nelayan Merah Putih. Pada 2025, program tersebut telah dibangun di empat wilayah, yakni Langkat, Serdang Bedagai, Asahan, dan Batubara.

Baca Juga: KUR Rp900 Miliar Tersedia, JTP Dorong Petani Taput Perkuat Modal

Pada 2026, pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih di Sumut direncanakan mencakup 11 wilayah di pantai timur dan 18 wilayah di pantai barat.

Dari sektor budidaya, Kepala Bidang Budidaya, Pengolahan, dan Pemasaran Hasil Perikanan DKP Sumut Muhammad Riza Kurnia Lubis mengatakan Sumut memiliki potensi besar untuk dikembangkan.

Salah satu komoditas yang menjadi perhatian adalah udang vaname yang masih menjadi komoditas ekspor. Selain itu, Pemprov Sumut memprioritaskan pengembangan rumput laut karena memiliki peluang pasar ekspor.

“Ada juga beberapa komoditas lain yang menjadi konsern Sumut seperti tahun ini kita prioritaskan rumput laut juga diminati pasar ekspor,” kata Riza. (H12/DIS)

Editor : Editor Satu
Kawasan Unggulan Perikanan Dinas Kelautan dan Perikanan Sumut