TAPUT, METRODAILY — Petani di Kabupaten Tapanuli Utara (Taput) didorong memanfaatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebagai alternatif pembiayaan untuk memperkuat modal, meningkatkan produktivitas, dan mengembangkan usaha pertanian. Bank Sumut disebut masih memiliki plafon KUR sekitar Rp900 miliar.
Dorongan itu disampaikan Bupati Taput Jonius Taripar Parsaoran Hutabarat (JTP) saat meluncurkan tema HUT ke-81 Kabupaten Tapanuli Utara, “Pertanian Berkelanjutan, Ekonomi Tapanuli Utara Maju”, di Kawasan Pertanian Terpadu Sijaba, Desa Silaitlait, Kecamatan Siborongborong, Selasa (15/9/2026).
Menurut JTP, keterbatasan modal tidak seharusnya menjadi penghambat petani mengembangkan usaha. Pembiayaan perbankan dapat dimanfaatkan untuk pengolahan lahan, pengadaan sarana produksi hingga pengembangan usaha pertanian, sepanjang memenuhi ketentuan dan persyaratan.
Baca Juga: Aset Rp169 Miliar WFC Pangururan dan Tele Dihibahkan ke Pemkab Samosir
“Saya mengajak para petani memanfaatkan peluang KUR ini. Dana tersebut selayaknya digunakan untuk mengembangkan dan mengolah lahan pertanian,” kata JTP, didampingi Kepala Dinas Pertanian Taput Viktor Freddy Siagian.
JTP menekankan, kemudahan akses pembiayaan harus diikuti keseriusan petani mengelola lahan agar dana yang diperoleh benar-benar mendukung kegiatan produktif.
“Kita ingin memastikan petani yang mengakses pembiayaan memang benar-benar memiliki usaha dan lahannya produktif. Pemerintah akan membantu dari sisi verifikasi dan rekomendasi, sehingga petani memiliki akses untuk mengajukan pembiayaan ke perbankan,” ujarnya.
Baca Juga: Tiga Ahli Bongkar Dugaan Penyalahgunaan Dana Bantuan Banjir Bandang Samosir
Bidik 10 Persen Anggaran untuk Pertanian
Selain mendorong pembiayaan melalui perbankan, Pemkab Taput berencana memperkuat dukungan sektor pertanian melalui APBD 2027.
JTP menyebut sekitar 10 persen ruang fiskal daerah setelah memperhitungkan Dana Alokasi Umum (DAU) bersih dan belanja wajib diproyeksikan untuk sektor pertanian.
“Proyeksinya begitu. Kita berharap dari ruang anggaran yang tersedia, sekitar 10 persen dapat kita arahkan untuk pertanian. Tetapi angka itu tentunya setelah DAU bersih dan dikurangi berbagai kewajiban APBD,” jelasnya.
Baca Juga: Wakil Bupati Tapteng Berkantor di Badiri, Percepat Penanganan Banjir
Anggaran tersebut, kata JTP, tidak hanya diarahkan untuk bantuan sarana produksi. Pemkab juga akan mendorong penguatan ekosistem pertanian melalui irigasi, jalan usaha tani, mekanisasi, pengembangan komoditas unggulan hingga perluasan akses pemasaran.
“Kita ingin anggaran pertanian bukan hanya habis untuk kegiatan, tetapi harus menghasilkan dampak ekonomi. Petani harus semakin produktif, biaya produksi efisien, hasil meningkat dan pasarnya semakin jelas,” tegasnya.
Sijaba Diproyeksikan Jadi Percontohan
Di sisi lain, Kawasan Pertanian Terpadu Sijaba diproyeksikan menjadi showcase atau kawasan percontohan pertanian yang dapat dikembangkan di 15 kecamatan lainnya.
Baca Juga: Ditikam Pedagang Pisang, Pedagang Air Isi Ulang Tewas di Sibolga
Konsep tersebut menempatkan Sijaba bukan sekadar kawasan produksi, tetapi juga ruang percontohan pertanian terintegrasi, produktif, dan berorientasi pasar.
Lokasinya yang relatif dekat dengan Bandara Raja Sisingamangaraja XII Silangit dinilai menjadi keunggulan strategis. Akses tersebut diharapkan mendukung distribusi komoditas sekaligus membuka peluang kerja sama dalam pengembangan dan pemasaran hasil pertanian.
JTP berharap pengembangan Sijaba tidak berhenti pada peningkatan produksi, tetapi mampu menciptakan nilai ekonomi bagi petani dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Dengan konsep itu, tema “Pertanian Berkelanjutan, Ekonomi Tapanuli Utara Maju” diarahkan untuk diwujudkan melalui akses pembiayaan, dukungan anggaran, peningkatan produktivitas, infrastruktur pertanian, dan kepastian pasar. (net)
Editor : Editor Satu