Dari Hutan Tapanuli ke Shopee, Bisnis Kemenyan Devi Tembus Pasar Nasional

Editor Satu • Dipublikasikan Senin, 24 Agustus 2026 | 11:35 WIB
Seorang petani memanjat pohon kemenyan untuk menderes getah di Tapanuli Utara. Proses pemanenan kemenyan juga dilakukan oleh perempuan.
Seorang petani memanjat pohon kemenyan untuk menderes getah di Tapanuli Utara. Proses pemanenan kemenyan juga dilakukan oleh perempuan.

TAPUT, METRODAILY – Kemenyan atau haminjon yang selama puluhan tahun identik dengan transaksi petani dan tengkulak lokal kini mulai mencari jalan baru menuju konsumen.

Di Tapanuli Utara, Devi Vebryanti Simanungkalit, perempuan kelahiran 2001, mencoba memutus rantai pemasaran lama itu dengan menjual kemenyan melalui pasar digital.

Pilihan tersebut tidak pernah masuk dalam rencana hidup Devi. Saat kecil hingga beranjak dewasa, ia justru bercita-cita menjadi reporter televisi.

Baca Juga: Tanpa HGU, PT SijabutKuasai 362 Hektare Lahan Ditanami Kelapa Sawit di Asahan

Namun, latar belakang keluarganya sebagai petani kemenyan perlahan membawa Devi ke dunia bisnis. Ia tumbuh di lingkungan yang akrab dengan pohon kemenyan dan memahami bagaimana komoditas tersebut selama ini dipasarkan.

Petani umumnya menjual kemenyan kepada tengkulak yang datang ke kampung. Posisi tawar petani pun kerap lemah karena harga lebih banyak ditentukan dalam rantai perdagangan tersebut.

“Karenanya ketika di awal aku mencoba menjual kemenyan secara online, Bapak menolak bahkan marah-marah,” kata Devi.

Baca Juga: Inter Milan Bantai Monza 4-1, Puncaki Klasemen Liga Italia

Berawal dari Pengikut Facebook

Langkah Devi berjualan kemenyan muncul setelah ia meninggalkan pekerjaannya sebagai staf Divisi Pemasaran Mancanegara Badan Pelaksana Otorita Danau Toba.

Ia kemudian fokus menjadi kreator konten, terutama di Facebook. Kontennya banyak menampilkan kehidupan sehari-hari di kampung yang berdekatan dengan kawasan hutan kemenyan.

Jumlah pengikutnya sempat mencapai sekitar 70 ribu orang. Namun, perubahan kebijakan Meta kemudian membuat penghasilan Devi dari aktivitas tersebut menurun.

Baca Juga: Harga TBS Sawit Sumut Pekan Ini: Madina Tertinggi Rp3.420, Tapteng Terendah

Di tengah kondisi itu, justru muncul peluang lain.

Sejumlah pengikutnya berulang kali bertanya apakah Devi menjual kemenyan asli. Pertanyaan tersebut akhirnya mendorongnya mencoba berdagang, meski ketika itu ia belum pernah menjalankan bisnis kemenyan.

“Lantas kuberanikan saja menjawab ya, padahal belum pernah aku berdagang. Setelahnya, pesanan pun mulai ada,” ujarnya.

Sejak November 2025, Devi mulai serius mempelajari bisnis kemenyan. Ia belajar mengenali berbagai grade atau tingkatan kualitas kemenyan dari ayahnya, termasuk dari tengkulak yang selama ini menjadi mitra perdagangan keluarganya.

Baca Juga: Sampah Membusuk Penuhi Permukiman Pardomuan I, DLH Samosir Diminta Bertindak

Menurut Devi, membangun komunikasi dengan para pelaku perdagangan kemenyan bukan perkara mudah karena komoditas tersebut memiliki karakter pasar tersendiri.

Sehari Buka Shopee, Pesanan Masuk

Pada awal berbisnis, Devi belum langsung menggunakan marketplace. Ia masih mengandalkan aplikasi pesan singkat untuk melayani pembeli.

Perubahan terjadi setelah seorang pelanggan menyarankan transaksi melalui Shopee. Pelanggan tersebut merasa lebih percaya berbelanja melalui platform marketplace, ditambah adanya program promosi seperti gratis ongkos kirim.

Devi pun membuka toko di Shopee.

Baca Juga: Dukung Ketahanan Pangan, Polres Taput Tanam 50 Kg Bibit Bawang Putih

“Dan puji Tuhan, sehari setelah buka akun, langsung masuk pembelian,” katanya.

Pesanan kemudian berdatangan dari berbagai wilayah. Tak hanya Sumatera Utara, kemenyan yang dijual Devi mulai dikirim ke Pulau Jawa, Kalimantan, Bali hingga Sulawesi.

Dalam sepekan, ia rata-rata melayani tiga hingga tujuh paket dengan berat yang bervariasi. Pesanan terberat yang pernah diterimanya mencapai lima kilogram.

Harga tidak dipukul rata. Kualitas dan tingkat kebersihan kemenyan menjadi faktor utama penentu harga.

Perjuangan Petani dari Tengah Hutan

Bagi Devi, pemasaran digital bukan sekadar memperluas pasar. Ia ingin petani kemenyan memiliki posisi tawar yang lebih kuat.

Baca Juga: Chika Jessica Akui Target Nikah Sudah Kadaluarsa 10 Tahun, Kini Tantang Siapa Cepat Dia Dapat

Selama ini, kata dia, harga yang ditawarkan tengkulak terkadang belum sebanding dengan proses panjang yang harus dilalui petani.

Pohon kemenyan berada jauh dari permukiman, sebagian berada di kawasan hutan. Getah yang dihasilkan pun tidak bisa langsung dipasarkan karena membutuhkan waktu hingga sekitar tiga bulan untuk mengeras.

Ayah Devi bahkan harus menginap di hutan selama sepekan saat melakukan pemanenan. Jarak dari rumah menuju pondok tempat beristirahat di hutan sekitar 15 kilometer.

Dari pondok menuju ladang kemenyan masih harus ditempuh dengan berjalan kaki selama sekitar dua jam.

Baca Juga: Hujan Deras Disertai Angin Kencang, Pohon Tumbang Timpa 2 Mobil di Siantar

“Makanya Bapak harus menginap agar tidak bolak-balik,” tuturnya.

Karena itu, Devi berharap semakin banyak petani kemenyan memanfaatkan marketplace sebagai alternatif pemasaran.

“Agar kami bisa memiliki posisi tawar, sehingga upaya keras kami memanen kemenyan dari hutan lebih dihargai,” harapnya.

Marketplace Jadi Senjata UMKM

Sociopreneur Sumatera Utara Alween Ong menilai pemanfaatan marketplace kini menjadi kebutuhan bagi UMKM yang baru merintis bisnis, terutama di tengah persaingan harga dan produk yang semakin ketat.

Baca Juga: Simalungun Jadi Tuan Rumah Launching SIGA Sumut, Data 200 Keluarga Mulai Dimutakhirkan

Menurutnya, platform digital memiliki kemampuan membantu produk ditemukan konsumen melalui pencarian. Fitur iklan juga memungkinkan produk mendapatkan eksposur lebih besar.

“Bagi UMKM yang baru merintis, marketplace bisa menjadi salah satu opsi,” kata Alween.

Namun, ia mengingatkan pelaku usaha agar tidak hanya mengejar penjualan. Biaya administrasi platform juga harus dihitung dalam struktur biaya produksi.

Alween menyarankan pelaku UMKM membuat deskripsi produk secara detail agar mudah ditemukan melalui mesin pencari, mengikuti program promosi sesuai segmen konsumen, serta rutin memperbarui tampilan toko.

Baca Juga: 30 Siswa SMA di Siantar Lulus Program Paham AI, Dapat Sertifikat

“Hitung biaya produksi secara detail, agar tidak rugi karena adanya peningkatan biaya admin,” tegasnya.

Berdasarkan data Similarweb per Maret 2026, Shopee menjadi salah satu platform marketplace dengan trafik tinggi di Indonesia, mencapai sekitar 237 juta kunjungan per bulan. Program promosi seperti cashback, gratis ongkir, flash sale, dan koin menjadi bagian dari strategi untuk menarik pengguna.

Kemenyan Tak Berhenti sebagai Bahan Mentah

Devi menyadari penjualan kemenyan mentah saja tidak cukup untuk menjamin bisnisnya tumbuh dalam jangka panjang.

Baca Juga: Rumah Dosen Dibobol Dini Hari, Pencuri Nyaris Bawa Kabur AC Outdoor

Karena itu, ia aktif mengikuti berbagai pelatihan yang digelar pemerintah. Target berikutnya adalah mengembangkan produk turunan kemenyan sehingga nilai ekonominya meningkat.

“Semoga nantinya aku bisa memproduksi sendiri parfum, reed diffuser, hingga parfum mobil. Biar tak hanya jual produk mentah,” ujar Devi.

Dari hutan Tapanuli Utara, kemenyan kini menemukan jalan menuju konsumen yang lebih jauh. Bagi Devi, pasar digital bukan sekadar etalase baru, tetapi peluang untuk mengubah cara petani menjual komoditas yang selama ini menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Tapanuli. (net)

Editor : Editor Satu
hutan tapanuli kemenyan