MEDAN, METRODAILY — Jumlah pengangguran di Sumatera Utara kembali meningkat. Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Utara mencatat sebanyak 411 ribu orang belum memiliki pekerjaan hingga Mei 2026, atau bertambah sekitar 3 ribu orang dibandingkan Februari 2026.
Kepala BPS Sumut Asim Saputra mengatakan kenaikan tersebut terjadi setelah penyerapan tenaga kerja pada sektor pertanian menurun dibanding periode Februari yang sebelumnya terdorong aktivitas musiman.
"Ada pertambahan pengangguran sekitar 3.000 orang menjadi 411 ribu orang," kata Asim Saputra, Rabu (5/8).
Baca Juga: Fotonya Disebar, Cewek Asal Medan Laporkan Mantan Kekasih dan Akun Tiktok
Meski jumlah pengangguran bertambah, pasar kerja Sumut masih menunjukkan peningkatan penyerapan tenaga kerja. Jumlah penduduk bekerja mencapai 7,75 juta orang pada Mei 2026, naik dari 7,72 juta orang pada Februari 2026.
Namun, kenaikan jumlah pekerja belum mampu menahan bertambahnya pencari kerja yang belum terserap.
Lulusan SMA Penyumbang Terbesar
BPS mencatat, lulusan SMA masih menjadi kelompok penyumbang pengangguran terbesar di Sumut dengan porsi 38,75 persen. Posisi berikutnya ditempati lulusan SMK sebesar 18,44 persen.
Baca Juga: Kadispora Madina Apresiasi Semangat Tim Voli SMAN 1 Sinunukan
Sebaliknya, lulusan Diploma menjadi kelompok dengan kontribusi pengangguran paling rendah, yakni 3,51 persen.
Data tersebut menunjukkan lulusan pendidikan menengah masih menghadapi tantangan besar memasuki pasar kerja, terutama pada sektor formal.
Pengangguran Desa Naik, Kota Turun
Berdasarkan wilayah, tingkat pengangguran di pedesaan justru mengalami kenaikan menjadi 3,86 persen, meningkat 0,86 poin dibanding Februari 2026.
Sebaliknya, tingkat pengangguran di perkotaan menurun menjadi 5,77 persen, dari sebelumnya 6,29 persen.
Baca Juga: Percepat NPGT dan Sertifikasi Aset Mahyaruddin Salim, Dampingi Kakanwil BPN Tinjau Pulau Sungai
Dari sisi gender, tingkat pengangguran perempuan juga mengalami kenaikan tipis menjadi 5,27 persen, dibanding 5,23 persen pada Februari.
Asim menjelaskan, kondisi tersebut dipengaruhi berkurangnya penyerapan tenaga kerja di sektor pertanian setelah berakhirnya periode panen yang pada awal tahun mampu menyerap lebih banyak pekerja.
"Dibanding periode Februari memang sedikit meningkat karena saat itu masih banyak sektor pertanian yang menyerap tenaga kerja," ujarnya. (net)
Editor : Editor Satu