Ubah Sampah Jadi Bernilai, Universitas Efarina Latih Pemulung TPA Tanjung Pinggir Produksi Ecobrick

Editor Satu • Dipublikasikan Rabu, 5 Agustus 2026 | 10:41 WIB
Tim Pengabdian Masyarakat Universitas Efarina memberikan pelatihan pengolahan sampah plastik menjadi ecobrick kepada pemulung dan warga di TPA Tanjung Pinggir, Kota Pematangsiantar, sebagai upaya meningkatkan nilai ekonomi sampah sekaligus mengurangi pencemaran lingkungan.
Tim Pengabdian Masyarakat Universitas Efarina memberikan pelatihan pengolahan sampah plastik menjadi ecobrick kepada pemulung dan warga di TPA Tanjung Pinggir, Kota Pematangsiantar, sebagai upaya meningkatkan nilai ekonomi sampah sekaligus mengurangi pencemaran lingkungan.

SIANTAR, METRODAILY – Gunungan sampah plastik yang selama ini hanya berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Tanjung Pinggir kini mulai dilihat sebagai sumber ekonomi.

Melalui program pengabdian kepada masyarakat, Universitas Efarina mengedukasi para pemulung mengolah limbah plastik menjadi ecobrick, produk daur ulang yang memiliki nilai jual lebih tinggi dibanding sekadar menjual plastik bekas ke pengepul.

Program yang merupakan bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi ini digelar di TPA Tanjung Pinggir, Kelurahan Tanjung Pinggir, Kecamatan Siantar Martoba, Kota Pematangsiantar.

Baca Juga: Bocah 7 Tahun di Angkola Muara Tais Ditemukan Tak Bernyawa dalam Sumur

Pada 2026, Universitas Efarina menjadi salah satu perguruan tinggi penerima hibah Pengabdian kepada Masyarakat dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).

Kegiatan dipimpin oleh Sondang Sidabutar bersama anggota tim Meyana Marbun dan Eka S. Sihombing. Selama dua hari, 7–8 Juli 2026, tim memberikan pelatihan kepada masyarakat sekitar TPA dan mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Efarina mengenai teknik mengolah sampah plastik melalui metode ecobrick.

Dalam pelatihan tersebut, sampah plastik yang telah dikumpulkan dicacah, dipadatkan, lalu dibentuk menjadi produk yang dapat dimanfaatkan kembali sehingga memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.

Baca Juga: Hakim Batalkan Status Tersangka Bripka YML, Kejari Labusel Diperintahkan Bebas dari Tahanan

"Masyarakat diberdayakan untuk mengurangi sampah plastik dengan mengolah serta menggunakannya kembali. Selain memberikan nilai tambah ekonomi, pengolahan ecobrick juga mampu mengurangi volume sampah plastik yang sulit terurai," kata Ketua Tim Pengabdian Masyarakat Universitas Efarina, Sondang Sidabutar.

Menurutnya, TPA yang dikelola Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Pematangsiantar selama ini menjadi lokasi penampungan seluruh sampah dari berbagai wilayah kota.

Namun, pengolahan sampah, khususnya plastik, masih terbatas karena sebagian besar hanya dipilah lalu dijual kepada pedagang pengumpul.

Baca Juga: Ditetapkan Tersangka Kasus Bansos Labusel, Bripka YML Menang Praperadilan

Kondisi tersebut menyebabkan penumpukan sampah plastik yang berpotensi mencemari lingkungan. Plastik yang sulit terurai dapat menghambat resapan air ke dalam tanah serta meningkatkan risiko pencemaran lingkungan.

"Dampaknya bukan hanya terhadap lingkungan, tetapi juga kesehatan masyarakat di sekitar TPA. Kondisi ini dapat memicu berbagai penyakit, termasuk penyakit kulit, ISPA hingga tuberkulosis (TBC)," ujar Sondang.

Di sisi lain, keberadaan TPA menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat yang bekerja sebagai pemulung dengan memilah sampah yang masih memiliki nilai ekonomi. Melalui pelatihan ecobrick, para pemulung diharapkan memperoleh nilai tambah dari sampah plastik yang selama ini hanya dijual dalam bentuk mentah.

Baca Juga: Polsek Kualuh Hulu Gotong Royong  Bersihkan Puing Rumah Korban Kebakaran

"Tujuan utama program ini adalah mengurangi penumpukan sampah plastik di TPA Tanjung Pinggir sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat melalui produk ecobrick yang memiliki nilai jual lebih tinggi," katanya.

Selain mendukung pengelolaan sampah berkelanjutan, program ini juga diharapkan mampu meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat sekitar melalui lingkungan yang lebih bersih dan minim pencemaran. (rel/esa)

Editor : Editor Satu
universitas efarina Pemulung TPA Tanjung Pinggir Ecobrick