JAKARTA, METRODAILY – Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) memastikan stabilitas sistem keuangan nasional tetap terjaga pada triwulan II 2026, meski tekanan global meningkat akibat eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah, lonjakan harga energi, hingga gejolak pasar keuangan internasional.
Hasil asesmen KSSK menyebutkan, koordinasi erat antara pemerintah, Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menjadi faktor utama yang menjaga ketahanan fiskal, moneter, serta sektor keuangan nasional di tengah ketidakpastian global.
Rapat Berkala KSSK III Tahun 2026 yang digelar pada 28 Juli 2026 menegaskan, pemerintah akan terus memperkuat sinergi kebijakan guna menjaga momentum pertumbuhan ekonomi sekaligus mengantisipasi risiko eksternal yang masih tinggi.
Baca Juga: Ketua Komisi VIII DPR RI Reses di Padangsidimpuan, Bahas Transparansi Keuangan Haji
KSSK menilai situasi ekonomi global kembali menghadapi tekanan akibat meningkatnya konflik geopolitik di Timur Tengah, khususnya eskalasi konflik Amerika Serikat-Iran yang berdampak terhadap pasokan energi dunia.
Kondisi tersebut memicu kenaikan harga minyak, inflasi global, volatilitas pasar keuangan, hingga menguatnya fenomena flight to safety yang mendorong penguatan dolar Amerika Serikat dan meningkatnya imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Dana Moneter Internasional (IMF) bahkan memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2026 menjadi 3 persen dari sebelumnya 3,1 persen.
Ekonomi Indonesia Diproyeksi Tumbuh 5,6–6 Persen
Di tengah tekanan global, ekonomi Indonesia diperkirakan tetap mampu tumbuh pada kisaran 5,6 hingga 6 persen sepanjang 2026.
Pertumbuhan tersebut didukung oleh:
- Konsumsi rumah tangga yang tetap kuat melalui perlindungan sosial pemerintah.
- Percepatan proyek hilirisasi dan pembangunan infrastruktur.
- Belanja pemerintah termasuk pembayaran gaji ke-13 ASN.
- Stabilitas sistem keuangan dan likuiditas perbankan.
Aktivitas industri manufaktur juga mulai kembali ekspansif. Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur Indonesia pada Juli 2026 berada di level 50,2, menandakan sektor industri kembali tumbuh.
Baca Juga: Kepala SMAN 1 Sinunukan Berangkatkan Tim Voli, Ikuti ke Turnamen Piala Dispora Madina
Rupiah Menguat, Cadangan Devisa Tetap Tinggi
KSSK juga mencatat kondisi eksternal Indonesia masih relatif kuat.
Beberapa indikator utama antara lain:
- Surplus neraca perdagangan Januari–Juni 2026 sebesar US$3,58 miliar.
- Aliran modal asing masuk mencapai US$8,5 miliar pada triwulan II 2026.
- Cadangan devisa mencapai US$145,6 miliar, cukup membiayai sekitar 5,5 bulan impor.
- Nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp17.994 per dolar AS pada akhir Juli 2026.
Meski demikian, KSSK mengingatkan tekanan nilai tukar masih berpotensi terjadi apabila konflik global kembali meningkat.
Inflasi nasional juga menunjukkan perbaikan.
Pada Juli 2026, inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) tercatat 2,88 persen secara tahunan, turun dibanding Juni yang mencapai 3,34 persen.
Penurunan terutama berasal dari harga pangan yang lebih terkendali, khususnya komoditas bawang merah dan cabai.
Sementara kenaikan harga avtur akibat lonjakan harga energi dunia masih mendorong inflasi kelompok administered prices, pemerintah memastikan harga BBM bersubsidi tetap dipertahankan agar daya beli masyarakat tidak terganggu.
KSSK Siapkan Mitigasi Risiko
Meski kondisi ekonomi domestik dinilai solid, KSSK menegaskan risiko global masih tinggi sehingga seluruh otoritas akan terus melakukan pemantauan secara forward looking.
Koordinasi lintas lembaga akan diperkuat untuk menjaga stabilitas makroekonomi, memperkuat sektor keuangan, mengendalikan inflasi, menjaga nilai tukar rupiah, hingga memastikan pertumbuhan ekonomi nasional tetap berlanjut di tengah ketidakpastian dunia. (rel)
Editor : Editor Satu