JAKARTA, METRODAILY – Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkap fenomena mengkhawatirkan di sektor pertanian nasional. Rata-rata usia petani di Indonesia terus menua karena banyak petani tidak menginginkan anak-anak mereka melanjutkan profesi sebagai petani.
Wakil Kepala BPS Sonny Harry Budiutomo Harmadi mengatakan kondisi tersebut terungkap dalam pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 yang saat ini sedang berlangsung.
Menurut Sonny, rendahnya regenerasi petani menjadi tantangan serius mengingat sektor pertanian merupakan salah satu penopang utama perekonomian nasional dan penyedia kebutuhan pangan masyarakat.
Baca Juga: Tabligh Akbar dan Doa Bersama Warga Labura: Perkuat Nilai Religius dan Kebersamaan
"Petani kita usianya menua karena mereka ingin anaknya tidak bekerja di sektor pertanian. Padahal sektor pertanian menjadi hajat hidup orang banyak dan tulang punggung perekonomian kita," ujar Sonny, Senin (20/7).
Berdasarkan hasil sensus, rendahnya minat generasi muda terhadap sektor pertanian dipengaruhi kecilnya keuntungan yang diperoleh petani, sementara biaya produksi terus meningkat.
BPS mencatat berbagai faktor yang menyebabkan tingginya biaya produksi, mulai dari mahalnya biaya transportasi hingga kenaikan ongkos logistik. Data tersebut akan menjadi dasar pemerintah dalam merumuskan kebijakan untuk memperkuat sektor pertanian.
Baca Juga: LG Rilis Kulkas AI InstaView di Medan, Cukup Ketuk Dua Kali Langsung Lihat Isi
"Kita bisa mengidentifikasi apa penyebab biaya produksi tinggi, apakah biaya transportasi dan sebagainya. Sensus ekonomi bisa melihat itu secara detail," katanya.
Sensus Ekonomi 2026 dilaksanakan pada 15 Juni hingga 31 Agustus 2026. BPS menerjunkan sekitar 251 ribu petugas untuk melakukan pendataan secara door to door terhadap sekitar 95,3 juta keluarga di seluruh Indonesia.
Selain sektor pertanian, BPS juga memberikan perhatian khusus terhadap perkembangan ekonomi digital dan ekonomi hijau dalam sensus kali ini.
Baca Juga: Siswa Tamtama Asal Nias Barat Meninggal Dunia saat Pendidikan di Rindam I/BB Pematangsiantar
Menurut Sonny, ekonomi digital telah mengubah lanskap perekonomian nasional sehingga perlu diimbangi dengan peningkatan keamanan siber dan penguatan kapasitas pelaku usaha.
Di sisi lain, ekonomi hijau dinilai memiliki prospek besar seiring meningkatnya perhatian terhadap perubahan iklim. Pemerintah juga berpeluang memberikan berbagai insentif kepada pelaku usaha yang menerapkan praktik ramah lingkungan.
Sonny menambahkan, konsep Produk Domestik Bruto (PDB) Hijau kini menjadi indikator penting untuk mengukur pertumbuhan ekonomi yang tidak mengorbankan kelestarian lingkungan.
Baca Juga: Kajati Sumut Masuk Tim Penyidik Kasus Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
"Semakin maju sebuah negara, bisa saja kemajuannya diikuti kerusakan lingkungan. Itu yang tidak kita inginkan," tegasnya. (Net)
Editor : Editor Satu