Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

OJK Ingatkan Ancaman AI hingga Serangan Siber, Tata Kelola Jadi Kunci Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan

Editor Satu • Selasa, 14 Juli 2026 | 15:35 WIB
Anggota Dewan Komisioner OJK Sophia Wattimena saat membuka Risk and Governance Summit (RGS) 2026 di Jakarta. Forum ini menyoroti pentingnya penguatan tata kelola, manajemen risiko, dan integritas untuk menghadapi ancaman AI, serangan siber, serta dinamika ekonomi global.
Anggota Dewan Komisioner OJK Sophia Wattimena saat membuka Risk and Governance Summit (RGS) 2026 di Jakarta. Forum ini menyoroti pentingnya penguatan tata kelola, manajemen risiko, dan integritas untuk menghadapi ancaman AI, serangan siber, serta dinamika ekonomi global.

JAKARTA, METRODAILY – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan pentingnya memperkuat tata kelola (governance), manajemen risiko, dan budaya integritas untuk menghadapi ancaman baru seperti penyalahgunaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), serangan siber, ketidakpastian geopolitik, hingga perubahan iklim yang semakin memengaruhi stabilitas sektor jasa keuangan.

Komitmen tersebut ditegaskan dalam Risk and Governance Summit (RGS) 2026 bertema Future-ready Governance for Sustainable Growth and National Prosperity yang digelar di Jakarta, Selasa (14/7/2026).

Anggota Dewan Komisioner OJK Sophia Wattimena mengatakan, tata kelola yang kuat menjadi fondasi utama agar kebijakan tidak hanya berhenti di atas kertas, tetapi mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan pertumbuhan ekonomi nasional.

Baca Juga: Kemnaker Petakan Kebutuhan Industri Jepang, Peluang Kerja untuk TKI di Sektor Otomotif hingga Caregiver

"Keberhasilan pembangunan tidak hanya bergantung pada kebijakan yang baik, tetapi juga pada tata kelola yang mampu menerjemahkannya menjadi hasil nyata bagi masyarakat," ujar Sophia.

AI, Serangan Siber hingga Geopolitik Jadi Ancaman Baru

Sophia menjelaskan, dinamika risiko global kini berkembang jauh lebih cepat dan kompleks dibanding beberapa tahun lalu. Selain ancaman ekonomi, sektor jasa keuangan juga menghadapi tantangan dari perkembangan teknologi digital.

Beberapa risiko utama yang menjadi perhatian OJK meliputi:

Baca Juga: 1 Juta Sarjana Masih Menganggur, SEVIMA Buka Beasiswa Kuliah S1 Gratis Sekaligus Digaji UMR

Menurut Sophia, kondisi tersebut membuat penerapan Governance, Risk, and Compliance (GRC) tidak lagi sekadar memenuhi aspek kepatuhan regulasi.

"GRC kini menjadi fondasi utama dalam menjaga ketahanan organisasi sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan," katanya.

Ia menambahkan, penguatan tata kelola juga sejalan dengan Asta Cita pemerintah, khususnya agenda reformasi birokrasi, pemberantasan korupsi, dan penguatan tata kelola pemerintahan yang baik.

Pemerintah: Tata Kelola Bangun Kepercayaan Investor

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian yang diwakili Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha BUMN Ferry Irawan menegaskan bahwa tata kelola yang baik merupakan modal penting dalam meningkatkan kepercayaan investor.

Baca Juga: Geger! Pria Ditemukan Tergantung di Belakang Rumah Kontrakan di Sidimpuan

"Tata kelola yang baik bukan sekadar masalah kepatuhan, tetapi fondasi yang memperkuat kredibilitas kelembagaan, memberikan kepastian bagi pelaku usaha dan investor, serta pada akhirnya mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan," ujarnya.

Menurut Ferry, konsep future-ready governance harus mampu mengantisipasi risiko sebelum berkembang menjadi krisis, terutama di tengah meningkatnya tensi geopolitik, volatilitas pasar keuangan, dan gangguan rantai pasok global.

Digitalisasi Harus Tingkatkan Produktivitas

Sementara itu, Menteri Komunikasi dan Digital yang diwakili Direktur Jenderal Ekosistem Digital Edwin Hidayat Abdullah menegaskan bahwa transformasi digital bukan sekadar mengikuti perkembangan teknologi.

Baca Juga: 91 ASN Pemkab Tapsel Ikuti Diklat Manajemen Risiko

"Digitalisasi bukanlah tujuan akhir. Digital merupakan pengungkit bagi seluruh sektor ekonomi. Karena itu, transformasi digital harus menjadi katalis peningkatan produktivitas nasional dan kesejahteraan masyarakat," katanya.

Edwin menambahkan, tata kelola yang baik justru menjadi fondasi lahirnya inovasi karena mampu membangun kepercayaan dan memastikan transformasi digital berlangsung secara bertanggung jawab.

Risk and Governance Summit 2026 menghadirkan dua sesi panel dan forum GRC Insight yang membahas transparansi organisasi serta pembangunan budaya berbasis nilai (value-driven culture) untuk mendukung kinerja berkelanjutan.

Forum tersebut menghadirkan pembicara dari berbagai institusi nasional dan internasional, antara lain:

Baca Juga: Kesbangpol Sumut Kenalkan Rekrutmen Paskibraka di PRSU 2026

Kegiatan yang digelar secara hybrid ini diikuti lebih dari 20.000 peserta, terdiri atas regulator, pelaku industri jasa keuangan, akademisi, asosiasi profesi, dan pemangku kepentingan lainnya.

408 Karya Ilmiah Ramaikan Kompetisi Inovasi

Sebagai bagian dari rangkaian acara, OJK juga menggelar Innovation Paper Competition Volume 2 bertema Building Digital Trust and Ethical Governance for Indonesia's Future.

Kompetisi tersebut diikuti 408 karya ilmiah yang berasal dari 135 perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Tingginya partisipasi tersebut dinilai mencerminkan antusiasme generasi muda dalam mengembangkan inovasi di bidang tata kelola, manajemen risiko, kepatuhan, dan transformasi digital.

Baca Juga: Truk Sawit Terguling Timpa 10 Siswa SMPN 4 Bilah Hilir, 1 Meninggal Dunia

Melalui penyelenggaraan RGS 2026, OJK berharap kolaborasi antara regulator, industri jasa keuangan, akademisi, asosiasi profesi, dan seluruh pemangku kepentingan semakin kuat untuk memperkokoh ketahanan sektor keuangan serta mendukung terwujudnya Indonesia Emas 2045. (rel)

Editor : Editor Satu
Ancaman AI Serangan Siber ojk