SIBOLGA, METRODAILY – Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi jenis Pertamax hingga mencapai Rp16.650 per liter di Sumatera Utara mulai memberikan dampak serius terhadap pelaku usaha penyalur BBM, khususnya Pertashop dan Pertamini yang hanya menjual produk beroktan tinggi tersebut.
Minimnya daya beli masyarakat membuat penjualan Pertamax merosot tajam. Kondisi itu menyebabkan sejumlah SPBU dan Pertashop mengalami penurunan omzet yang signifikan, bahkan sebagian di antaranya terancam menghentikan operasional.
Fenomena tersebut terlihat di SPBU Harapan yang berada di Jalan Sisingamangaraja, Kota Sibolga. Berdasarkan pantauan di lokasi, aktivitas pengisian BBM tampak jauh lebih sepi dibandingkan biasanya.
Baca Juga: 784 Anak PAUD SAB se-Kota Siantar Dilepas, Wesly: Kalian Bintang Kecil Masa Depan
Pengendara roda dua maupun roda empat terlihat jarang singgah untuk mengisi bahan bakar. Kondisi itu diduga karena SPBU tersebut hanya menyediakan BBM jenis Pertamax dan Dexlite tanpa menjual BBM subsidi dengan harga yang lebih terjangkau.
Dampak yang lebih berat dirasakan pelaku UMKM yang mengelola Pertashop dan Pertamini.
Salah satunya Pertashop Bintang Karisma Abadi di Kelurahan Aek Habil, Kecamatan Sibolga Selatan. Aktivitas penjualan di lokasi tersebut terlihat lesu akibat menurunnya jumlah konsumen yang membeli Pertamax.
Selain menghadapi rendahnya minat masyarakat, pengelola Pertashop juga mengeluhkan pasokan Pertamax yang kerap terbatas sehingga operasional usaha sering terganggu.
Baca Juga: Polisi Temukan Pohon Ganja Ditanam di Pot, Pemilik Rumah Ditangkap
Akibat keterbatasan stok, Pertashop tersebut beberapa kali terpaksa menghentikan sementara penjualan karena kehabisan pasokan BBM.
“Kondisi ini berdampak langsung terhadap target penjualan kami, yang pada akhirnya berpengaruh besar terhadap penghasilan sehari-hari,” ujar Gea, salah seorang petugas SPBU.
Keluhan serupa disampaikan Jamil Zeb Tumori, pengusaha Pertashop di Sibolga. Menurutnya, kenaikan harga Pertamax dan minimnya pasokan membuat keberlangsungan usaha semakin sulit dipertahankan.
Baca Juga: Tahapan Pemilu 2029 Mulai Dimulai Tahun Depan, KPU Siapkan Anggaran Rp1,42 Triliun
Ia mengaku para pelaku usaha BBM skala kecil saat ini berada dalam situasi yang mengkhawatirkan karena biaya operasional tidak sebanding dengan pendapatan yang diperoleh.
“Kami para pelaku UMKM BBM sangat khawatir dengan kelangsungan usaha ini. Jika kondisi seperti sekarang terus berlangsung, kami terancam bangkrut,” katanya.
Para pengusaha berharap pemerintah pusat dapat mengevaluasi kembali kebijakan harga BBM non-subsidi, khususnya Pertamax, agar daya beli masyarakat dapat kembali meningkat dan usaha penyalur BBM tetap bertahan.
Baca Juga: Duduk Santai di Warung, Pengedar Ganja di Siantar Diciduk Polisi
Mereka juga berharap pasokan BBM ke Pertashop dapat lebih terjamin sehingga operasional usaha tidak terganggu dan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi.
Jika kondisi penjualan yang lesu dan keterbatasan pasokan terus terjadi, para pelaku usaha khawatir keberadaan Pertashop sebagai salah satu penopang distribusi BBM di daerah akan semakin terancam. (net)
Editor : Editor Satu