MEDAN, METRODAILY – Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprov Sumut) mengusulkan agar konsep produk dan layanan halal masuk dalam blueprint kerja sama Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle (IMT-GT) sebagai agenda strategis kawasan yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi lintas negara.
Usulan tersebut akan dibawa pada Pertemuan Tingkat Menteri IMT-GT ke-32 yang dijadwalkan berlangsung di Medan pada September 2026. Sumatera Utara dipercaya menjadi tuan rumah penyelenggaraan forum ekonomi kawasan yang melibatkan Indonesia, Malaysia, dan Thailand tersebut.
Kepala Bagian Kerja Sama Biro Pemerintahan dan Otonomi Daerah Setdaprov Sumut Ahmad Yamin mengatakan, gagasan tersebut sejalan dengan upaya Sumut memperkuat ekosistem ekonomi yang inklusif, berdaya saing, dan mampu memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
“Gagasan ini sejalan dengan komitmen Sumatera Utara untuk memperluas manfaat kerja sama IMT-GT melalui pembangunan ekosistem ekonomi yang inklusif, berdaya saing, dan berorientasi pada nilai tambah,” ujar Ahmad Yamin saat temu pers yang digelar Dinas Komunikasi dan Informatika Sumut di lobi Dekranasda Kantor Gubernur Sumut, Rabu (17/6/2026).
Menurut Yamin, dalam rapat koordinasi awal yang melibatkan 10 provinsi di Pulau Sumatera, telah dibahas sejumlah potensi kerja sama yang akan diusulkan masuk ke dalam blueprint IMT-GT periode berikutnya.
Terdapat delapan sektor prioritas yang akan diusulkan, yakni pertanian dan agribisnis, pariwisata, produk dan layanan halal, infrastruktur dan transportasi, perdagangan dan investasi, lingkungan, sumber daya manusia dan budaya, serta transformasi digital.
Dari delapan sektor tersebut, Sumatera Utara akan fokus mengusulkan tiga sektor utama, yakni pertanian, pariwisata, serta produk dan layanan halal.
“Pemprov Sumut akan mengusulkan ide dan gagasan untuk tiga konsep utama, yaitu pertanian, pariwisata dan produk serta layanan halal. Lima sektor lainnya menjadi penyangga pengembangan kerja sama kawasan,” kata Yamin.
Ia menilai sektor pertanian Sumut memiliki potensi besar untuk diperkuat melalui kerja sama regional, termasuk komoditas unggulan seperti kopi yang selama ini memiliki daya saing tinggi di pasar internasional.
Menurutnya, penguatan branding dan rantai nilai komoditas unggulan perlu menjadi perhatian agar produk asal Sumut memperoleh manfaat ekonomi yang lebih besar.
Selain itu, Sumut juga mendorong pengembangan pariwisata halal sebagai salah satu sektor strategis yang berpotensi menarik wisatawan regional maupun global.
Untuk mendukung pengembangan sektor tersebut, Pemprov Sumut mengusulkan program edukasi dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia melalui pelatihan, pembinaan, pendampingan standar produk halal, hingga penguatan kolaborasi kelembagaan.
“Langkah ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas layanan dan produk, tetapi juga memperbesar peluang investasi serta memperkuat jaringan pemasaran halal antarwilayah,” ujar Yamin.
Ia bahkan berharap pelatihan standarisasi produk dan layanan halal dapat dilaksanakan di kawasan Danau Toba sehingga memberikan dampak langsung terhadap pengembangan pariwisata dan peningkatan kualitas SDM lokal.
Menurut Yamin, integrasi konsep produk dan layanan halal ke dalam blueprint IMT-GT akan memberikan manfaat nyata bagi Sumatera Utara dan kawasan secara keseluruhan.
Manfaat tersebut antara lain meningkatkan daya saing produk halal melalui standarisasi dan penguatan rantai nilai, mengoptimalkan pengembangan pariwisata halal, memperkuat kapasitas sumber daya manusia, serta memperluas peluang investasi dan perdagangan antarwilayah.
Selain itu, kerja sama tersebut diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan bagi masyarakat di kawasan Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle.
“Kita sangat berharap konsep produk dan layanan halal dapat menjadi bagian dari arah kebijakan IMT-GT ke depan yang lebih terukur dan menghasilkan manfaat besar bagi seluruh wilayah di kawasan,” pungkasnya. (rel)
Editor : Editor Satu