BATAM, METRODAILY – Pertumbuhan ekonomi Sumatra Utara sepanjang 2025 menunjukkan kinerja positif, ditopang sektor transportasi dan ekspor. Namun di balik capaian tersebut, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengingatkan adanya risiko serius terhadap stabilitas keuangan daerah.
Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sumatera Utara, Khoirul Muttaqien, dalam pemaparannya pada kegiatan media gathering di Batam, 30 April 2026, mengungkap rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) perbankan di Sumut melonjak hingga 10,58 persen, jauh di atas ambang batas sehat industri perbankan.
Angka tersebut menjadi indikator melemahnya kualitas pembiayaan di tengah pertumbuhan ekonomi yang relatif kuat.
Baca Juga: Gara-gara Tempat Tidur, Pria Ini Bacok Rekan Kerja Pakai Parang
Kinerja ekonomi Sumut sepanjang 2025 didorong oleh meningkatnya aktivitas transportasi dan ekspor. Mobilitas barang dan perdagangan yang tinggi menjadi motor utama pertumbuhan regional.
Namun, pertumbuhan ini belum sepenuhnya diikuti oleh ketahanan sektor keuangan, khususnya pada kualitas kredit perbankan.
Kredit Tumbuh, Tapi Kualitas Tertekan
Di sektor perbankan, khususnya Bank Perkreditan Rakyat dan BPR Syariah (BPR/S), tercatat:
- Aset, Dana Pihak Ketiga (DPK), dan kredit tumbuh di atas 9 persen
- Namun, rasio kredit bermasalah (NPL) justru melonjak signifikan
Baca Juga: Diburu Berbulan-bulan, Pelaku Curanmor Tebingtinggi Ditangkap di Medan
Kondisi ini mengindikasikan tekanan pada debitur, terutama pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang rentan terhadap fluktuasi ekonomi.
Lonjakan Gadai, Sinyal Tekanan Likuiditas
Di sektor pembiayaan berbasis gadai, terjadi peningkatan signifikan:
- Aset gadai tumbuh 20 persen secara tahunan (YoY)
- Sebelumnya sempat melonjak ekstrem hingga 114,61 persen pada Desember 2025
Lonjakan ini mencerminkan meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap akses dana cepat. Namun di sisi lain, kondisi ini juga menjadi sinyal adanya tekanan likuiditas di tingkat rumah tangga dan pelaku usaha.
Baca Juga: OJK Beberkan Aturan Baru Kripto 2026, Risiko Tinggi hingga 1.464 Aset Resmi Diawasi
Asuransi Melemah, Premi Turun Tajam
Sektor asuransi justru menunjukkan pelemahan:
- Premi turun 29,20 persen YoY
- Klaim hanya turun tipis 2,37 persen
Penurunan premi menunjukkan melemahnya minat masyarakat terhadap perlindungan risiko. Meski demikian, terdapat sedikit optimisme dengan pertumbuhan 5,10 persen pada beberapa lini usaha.
Untuk merespons kondisi tersebut, OJK bersama pemangku kepentingan memperkuat program literasi keuangan.
Sepanjang Januari hingga Maret 2026:
- Tercatat 73 kegiatan edukasi
- Diikuti 5.865 peserta
Baca Juga: Angkut 3 Kg Ganja Naik Becak, Parbetor dan Seorang Wanita Diamankan di Tapsel
Program Gerakan Nasional Cerdas Keuangan (GENCARKAN) menjadi instrumen utama dalam meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap pengelolaan keuangan dan risiko.
Meski ekonomi tumbuh, kombinasi antara tingginya NPL, lonjakan gadai, dan turunnya premi asuransi menunjukkan adanya tekanan struktural di sektor keuangan.
OJK menilai penguatan literasi dan kehati-hatian dalam penyaluran kredit menjadi kunci untuk menjaga stabilitas ke depan.
Jika tidak diantisipasi, ketidakseimbangan ini berpotensi mengganggu keberlanjutan pertumbuhan ekonomi di Sumatra Utara. (mea)
Editor : Editor Satu