Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

Bendungan Ambruk 5 Bulan Tak Diperbaiki, Ratusan Hektare Sawah di Tapteng Kekeringan

Editor Satu • Selasa, 21 April 2026 | 12:30 WIB

Lahan persawahan di Tapanuli Tengah ditumbuhi ilalang akibat kekeringan setelah bendungan irigasi ambruk dan belum diperbaiki sejak 2025.

Lahan persawahan di Tapanuli Tengah ditumbuhi ilalang akibat kekeringan setelah bendungan irigasi ambruk dan belum diperbaiki sejak 2025.

TAPTENG, METRODAILY – Ratusan hektare lahan persawahan di Kecamatan Lumut, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, kini terbengkalai akibat bendungan ambruk yang tak kunjung diperbaiki sejak akhir 2025.

Kerusakan bendungan yang berada di Lingkungan I dan II Kelurahan Sibabangun serta Kelurahan Lumut itu terjadi pascabanjir dan tanah longsor pada 25 November 2025.

Tembok penahan air jebol, menyebabkan aliran irigasi ke sawah warga terhenti total hingga saat ini.

Akibatnya, petani tidak lagi dapat mengolah lahan. Sawah yang sebelumnya produktif kini ditumbuhi ilalang karena kekurangan pasokan air.

Baca Juga: 4 Nama Lolos UKK Dirtek Perumda Tirta Uli, Siapa Paling Kuat? Ini Daftarnya

Petani Beralih Jadi Buruh Serabutan

Kondisi ini memukul ekonomi warga. Banyak petani terpaksa beralih profesi menjadi pekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Sebagian lainnya hanya mengandalkan hasil tanaman musiman seperti pisang, daun ubi, dan sayuran. Namun, hasilnya tidak mampu menutup kerugian akibat gagal tanam padi.

“Sudah hampir lima bulan kami tidak bisa bertani. Bendungan hancur, air tidak mengalir lagi,” ujar Edi Saputra, warga setempat.

Meski saat ini memasuki musim hujan, petani menyebut curah hujan tidak cukup untuk mengairi sawah secara optimal.

Baca Juga: Rp12 Triliun untuk Petani, Mentan Amran: Hibah Tanaman Gratis & Irigasi

1.000 KK Terdampak, Irigasi Lumpuh Total

Lurah Sibabangun, Resqi Mulia Lubis, mengatakan bendungan tersebut menjadi sumber air utama bagi sekitar 1.000 kepala keluarga (KK), termasuk warga Kelurahan Lumut.

“Kalau tidak ada air, bagaimana masyarakat bisa melanjutkan usaha pertaniannya?” ujarnya saat meninjau lokasi, Minggu (19/4/2026).

Ia menjelaskan, sebelum ambruk, bendungan berfungsi menaikkan permukaan air sungai agar bisa dialirkan ke saluran irigasi.

Hingga kini, belum ada perbaikan permanen dari pemerintah daerah maupun instansi terkait. Pihak kelurahan telah mengusulkan perbaikan ke dinas terkait, namun belum terealisasi.

Baca Juga: RS Murni Teguh Horas Insani Raih WSO Angels Award Diamond, Layanan Stroke Diakui

Sebagai langkah darurat, warga diminta melakukan perbaikan sementara secara swadaya melalui gotong royong.

Namun, warga menilai upaya tersebut tidak efektif karena konstruksi bendungan membutuhkan material kuat seperti bronjong agar tahan terhadap arus sungai.

“Kalau hanya batu biasa, pasti rusak lagi. Harus dibangun lebih kuat,” kata Dahliana boru Nasution, petani setempat.

Ancaman Gagal Panen dan Banjir

Selain kekeringan, petani juga menghadapi ancaman lain. Saat hujan deras, sawah justru berpotensi terendam karena sistem pengaturan air tidak lagi berfungsi.

Baca Juga: Puncak Paskah Katolik Siantar 2026 Diwarnai Lukisan The Last Supper, 2.500 Jemaat Hadir

Kondisi ini membuat petani memilih tidak menanam padi karena risiko kerugian semakin besar.

Warga berharap pemerintah segera turun tangan memperbaiki bendungan agar aktivitas pertanian kembali berjalan dan ekonomi masyarakat pulih. (net)

Editor : Editor Satu
#bendungan rusak #tapteng #sawah kekeringan