JAKARTA, METRODAILY – Aksi pembelian saham oleh jajaran direksi PT Bank Central Asia Tbk menjadi sorotan pasar pada kuartal I 2026. Di tengah fluktuasi pasar, manajemen justru menambah kepemilikan saham BBCA dalam jumlah signifikan.
Berdasarkan keterbukaan informasi, sejumlah petinggi BCA melakukan transaksi pembelian saham menggunakan dana pribadi. Langkah ini kerap diartikan sebagai sinyal kepercayaan internal terhadap prospek jangka panjang perusahaan.
Beberapa transaksi yang tercatat antara lain:
- Hendra Lembong membeli saham senilai sekitar Rp7,93 miliar.
- Wakil Presiden Direktur John Kosasih mengakumulasi Rp4,37 miliar pada Maret 2026.
- Vera Eve Lim menambah kepemilikan senilai Rp3,84 miliar.
- Direktur Santoso melakukan pembelian sekitar Rp3,46 miliar.
- Frenkie Candra Kusuma mengakumulasi Rp2,87 miliar sejak Maret 2025.
- Lianawaty Suwono membeli sekitar 300.000 saham senilai Rp2,1 miliar pada Januari 2026.
Baca Juga: Arsenal Krisis Sayap Kanan, Bocah 16 Tahun Max Dowman Berpeluang Starter vs Man City
Aksi kolektif tersebut terjadi saat harga saham BBCA mengalami tekanan, yang dalam praktik pasar dikenal sebagai strategi buy on weakness.
Valuasi Dinilai Masih Murah
Dari sisi valuasi, saham BBCA dinilai masih berada di level menarik. Pengamat pasar modal Rendy Yefta menyebut, rasio harga terhadap laba (price to earnings ratio/PER) BBCA saat ini berada di kisaran 15 kali.
Sebagai perbandingan, saham ARTO diperdagangkan di kisaran PER sekitar 64 kali. Perbedaan ini menunjukkan adanya gap valuasi yang cukup lebar antara bank konvensional besar dan bank digital.
Secara fundamental, BCA dikenal sebagai bank dengan kinerja keuangan stabil, laba konsisten bertumbuh, serta rasio dana murah (CASA) yang kuat. Kondisi ini membuat sebagian analis menilai harga saham BBCA saat ini relatif undervalued dibandingkan kualitas bisnisnya.
Baca Juga: Man City vs Arsenal: Saka Absen, Ancaman Besar The Gunners di Laga Penentu
Peluang Rebound Terbuka
Dengan kombinasi aksi beli dari internal dan valuasi yang dinilai rendah, saham BBCA disebut memiliki potensi penguatan ke depan. Jika valuasi kembali ke kisaran historis PER 18–20 kali, harga saham diperkirakan dapat meningkat signifikan.
Level Rp10.000 per saham menjadi salah satu proyeksi yang kerap disebut pelaku pasar, mengingat posisi harga tertinggi sebelumnya mendekati Rp11.000 per saham.
Meski demikian, pelaku pasar tetap diingatkan untuk mempertimbangkan risiko, termasuk dinamika suku bunga, kondisi likuiditas global, serta sentimen pasar domestik yang dapat memengaruhi pergerakan saham perbankan. (Rel)
Editor : Editor Satu