Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

Harga BBM Subsidi Dipastikan Tidak Naik hingga Akhir 2026

Editor Satu • Selasa, 7 April 2026 | 11:40 WIB
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa saat rapat dengan DPR, menegaskan harga BBM subsidi tetap aman hingga akhir 2026.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa saat rapat dengan DPR, menegaskan harga BBM subsidi tetap aman hingga akhir 2026.

JAKARTA, METRODAILY – Pemerintah memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi tidak akan mengalami kenaikan hingga akhir tahun 2026, meskipun harga minyak dunia tengah mengalami tekanan akibat konflik global.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan, kebijakan tersebut telah dihitung secara matang dengan mempertimbangkan asumsi harga minyak dunia.

“Kami siap tidak menaikkan harga BBM bersubsidi sampai akhir tahun, dengan asumsi harga minyak 100 dolar AS per barel,” ujar Purbaya dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI di Jakarta, Senin (6/4/2026).

Baca Juga: Odong-odong Ugal-ugalan Tabrak Mobil di Siantar, Bawa Anak-anak

Menurutnya, pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah mitigasi untuk menjaga ketahanan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) terhadap fluktuasi harga minyak global.

Ia menjelaskan, skenario perhitungan anggaran telah disiapkan untuk menghadapi kenaikan harga minyak, baik pada level 80 dolar AS maupun 100 dolar AS per barel.

“BBM bersubsidi sampai akhir tahun aman. Masyarakat tidak perlu khawatir karena anggaran subsidinya sudah kami hitung,” tegasnya.

Baca Juga: Wali Kota Wesly Hadiri Paskah GPIB Maranatha, Serukan Toleransi di Siantar

BBM Non-Subsidi Ikut Mekanisme Pasar

Meski demikian, Purbaya menyebut pemerintah tidak dapat memberikan jaminan terhadap harga BBM non-subsidi karena mengikuti mekanisme pasar dan tidak mendapatkan intervensi langsung dari negara.

Untuk menjaga stabilitas harga BBM subsidi, pemerintah mengandalkan kekuatan APBN serta sejumlah sumber dana cadangan. Salah satunya adalah dana Sisa Anggaran Lebih (SAL) yang mencapai Rp420 triliun, termasuk Rp200 triliun yang ditempatkan di perbankan.

Selain itu, pemerintah juga mengandalkan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari sektor energi dan sumber daya mineral (ESDM) sebagai bantalan fiskal.

Baca Juga: Sarang Narkoba di Simalungun Terbongkar, Pengedar Ditangkap, Bandar Besar Diburu

“Yang penting dananya ada. Cushion kita masih tersedia untuk menjaga subsidi tetap berjalan,” kata Purbaya.

Ia juga menyinggung peran Menteri ESDM Bahlil Lahadalia yang optimistis peningkatan harga komoditas energi seperti minyak dan batu bara dapat mendongkrak penerimaan negara.

Efisiensi Anggaran Digenjot

Pemerintah juga tengah melakukan efisiensi belanja di kementerian dan lembaga guna menjaga defisit APBN tetap terkendali di kisaran 2,92 persen.

Baca Juga: Bank Sumut Digeber Naik Kelas! Pemda Suntik Modal Ratusan Miliar, Target Rp6 Triliun

Purbaya mengungkapkan, setiap kenaikan harga minyak dunia sebesar 1 dolar AS per barel berpotensi menambah beban subsidi hingga Rp6,8 triliun.

Karena itu, langkah pengendalian belanja dan peningkatan pendapatan negara terus dilakukan untuk menjaga stabilitas fiskal.

“Kami akan meminimalkan pengeluaran, menjaga keseimbangan anggaran, dan meningkatkan pendapatan dari berbagai sektor,” pungkasnya. (Rel)

Editor : Editor Satu
#harga bbm subsidi