Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

Krisis Minyak Dunia, Plastik hingga Pupuk Mulai Langka, Harga Melonjak Tajam

Editor Satu • Selasa, 7 April 2026 | 11:20 WIB
Petani di Serdang Bedagai menebus pupuk bersubsidi pada 1 Januari 2026. PT Pupuk Indonesia memastikan distribusi pupuk berjalan lancar sejak awal tahun.
Petani di Serdang Bedagai menebus pupuk bersubsidi pada 1 Januari 2026. PT Pupuk Indonesia memastikan distribusi pupuk berjalan lancar sejak awal tahun.

JAKARTA, METRODAILY – Krisis energi global akibat konflik di Timur Tengah mulai merembet ke berbagai sektor industri dan kebutuhan sehari-hari. Dalam satu bulan sejak perang di Iran pecah, gangguan pasokan minyak mentah kini memicu kelangkaan barang turunan seperti plastik hingga pupuk.

Konflik yang melibatkan Iran di kawasan Timur Tengah mengganggu jalur distribusi energi strategis di Selat Hormuz. Sekitar 20% pasokan minyak dunia terdampak, memicu lonjakan harga energi sekaligus menekan industri petrokimia global.

Dikutip dari CNN, Senin (5/4/2026), dampak krisis mulai dirasakan langsung oleh konsumen. Harga plastik, karet, hingga poliester mengalami kenaikan signifikan, terutama di kawasan Asia yang sangat bergantung pada impor energi.

Baca Juga: Wali Kota Wesly Hadiri Paskah GPIB Maranatha, Serukan Toleransi di Siantar

Di Korea Selatan, warga dilaporkan melakukan panic buying kantong sampah. Pemerintah setempat bahkan mengimbau pembatasan penggunaan produk sekali pakai.

Sementara itu di Taiwan, otoritas membuka hotline bagi produsen yang kesulitan mendapatkan bahan plastik. Petani pun mulai mempertimbangkan kenaikan harga akibat mahalnya kemasan.

Di Jepang, kekhawatiran muncul terhadap layanan kesehatan, khususnya bagi pasien gagal ginjal yang bergantung pada peralatan medis berbahan plastik. Sedangkan di Malaysia, produsen sarung tangan memperingatkan potensi terganggunya pasokan global akibat kelangkaan bahan baku.

Baca Juga: Sarang Narkoba di Simalungun Terbongkar, Pengedar Ditangkap, Bandar Besar Diburu

Analis Dezan Shira & Associates, Dan Martin, menyebut dampak krisis menyebar cepat lintas sektor.

“Dari produk sehari-hari seperti mi instan, bir, hingga kosmetik, semuanya terdampak karena ketergantungan pada turunan minyak,” ujarnya.

Ia menjelaskan, kelangkaan bahan seperti kemasan plastik, perekat, pelumas, hingga bahan kimia industri mengganggu rantai pasok global. Kondisi ini juga memperparah tekanan inflasi serta memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia.

Selain itu, kenaikan harga bahan bakar turut mengganggu sektor transportasi dan logistik. Pasokan pupuk dan helium dari Timur Tengah juga terdampak, berpotensi mendorong kenaikan harga pangan dan produk elektronik.

Baca Juga: Bank Sumut Digeber Naik Kelas! Pemda Suntik Modal Ratusan Miliar, Target Rp6 Triliun

International Monetary Fund menilai efek rambatan krisis ini terjadi di tengah terbatasnya kemampuan banyak negara dalam meredam guncangan ekonomi. Dampaknya diproyeksikan mengarah pada kenaikan harga dan perlambatan pertumbuhan global.

Harga Plastik di Indonesia Naik

Dampak krisis global juga dirasakan di dalam negeri. Harga berbagai produk plastik di pasar Indonesia mengalami lonjakan signifikan akibat terganggunya impor bahan baku.

Sekretaris Jenderal DPP Ikatan Pedagang Pasar Indonesia, Reynaldi Sarijowan, mengungkapkan kenaikan harga plastik sudah terjadi sejak awal Ramadan dan kini mencapai puncaknya.

Baca Juga: Digerebek dari Laporan Warga, Pengedar Sabu 16,99 Gram di Batu Bara Dibekuk Polisi

“Kenaikan harga plastik sudah mencapai sekitar 50 persen,” ujarnya, Minggu (5/4/2026).

Ia mencontohkan, harga plastik kresek naik dari Rp10.000 menjadi Rp15.000 per pak. Sementara jenis lainnya meningkat dari Rp20.000 menjadi Rp25.000.

Menurut Reynaldi, ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku plastik membuat dampak konflik global langsung terasa di pasar domestik.

“Ini risiko dari ketergantungan impor. Dampak perang di Timur Tengah sangat serius terhadap harga di dalam negeri,” katanya.

Baca Juga: Comeback Mematikan! Lautaro Martinez Bikin Inter Tajam Lagi

Ia menambahkan, kenaikan harga plastik berpotensi mendorong kenaikan harga berbagai komoditas, mengingat banyak pedagang menggunakan plastik sebagai kemasan utama.

Data Badan Pusat Statistik mencatat impor plastik dan barang dari plastik (HS 39) Indonesia pada Februari 2026 mencapai US$ 873,2 juta atau sekitar Rp14,78 triliun.

Impor tersebut didominasi dari China sebesar US$ 380,1 juta, diikuti Thailand sebesar US$ 82,7 juta, dan Korea Selatan sebesar US$ 66,7 juta.

Indonesia juga mengimpor plastik dari Amerika Serikat sebesar US$ 29,9 juta serta dari Arab Saudi sebesar US$ 14,9 juta. (Dtc)

Editor : Editor Satu
#krisis minyak global #pupuk langka #harga bbm naik