JAKARTA, METRODAILY — Pemerintah memastikan harga tiket pesawat domestik tetap terjangkau meski harga avtur melonjak akibat eskalasi konflik di Timur Tengah yang mengganggu pasokan energi global.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan avtur merupakan bahan bakar non-subsidi sehingga harganya mengikuti mekanisme pasar global. Jika tidak disesuaikan, disparitas harga berpotensi dimanfaatkan maskapai asing.
“Kalau kita tidak menyesuaikan, maka berbagai maskapai penerbangan lain bisa memanfaatkan perbedaan harga tersebut,” ujar Airlangga dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (6/4).
Baca Juga: Stok Beras RI Tembus Puluhan Juta Ton, Mentan Klaim Aman 11 Bulan Hadapi El Nino Godzilla
Meski demikian, pemerintah tetap memprioritaskan daya beli masyarakat sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto dengan menyiapkan sejumlah kebijakan mitigasi. Pasalnya, komponen avtur menyumbang sekitar 40 persen dari total biaya operasional maskapai.
Insentif dan Batas Kenaikan Tiket
Pemerintah menggelontorkan insentif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Ditanggung Pemerintah (DTP) sebesar Rp1,3 triliun per bulan selama dua bulan, dengan total anggaran Rp2,6 triliun.
Selain itu, pemerintah menetapkan fuel surcharge sebesar 38 persen untuk seluruh jenis pesawat. Kebijakan ini memberi ruang bagi maskapai menyesuaikan Tarif Batas Atas (TBA).
Baca Juga: SPPG Balimbingan 2 Gelar Makan Prasmanan di SD Afd C Balimbingan
Namun, pemerintah membatasi kenaikan harga tiket pesawat domestik kelas ekonomi hanya di kisaran 9 hingga 13 persen.
“Yang kita jaga adalah harga tiketnya agar tetap terjangkau oleh masyarakat,” tegas Airlangga.
Untuk menekan beban maskapai, pemerintah juga memberikan insentif berupa pembebasan bea masuk suku cadang pesawat menjadi 0 persen. Kebijakan ini diharapkan dapat menurunkan biaya operasional dan menahan laju kenaikan tarif.
Harga Avtur Regional Naik
Kenaikan harga avtur terjadi di berbagai negara. Di Thailand, harga avtur tercatat Rp29.518 per liter, sementara Filipina Rp25.326 per liter. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan Indonesia yang berada di level Rp23.551 per liter di Bandara Soekarno-Hatta per 1 April 2026.
Baca Juga: Siswa MAN IC Tapsel Lolos UGM Tanpa Tes Meski Terkendala Ekonomi
Lonjakan harga dipicu konflik geopolitik di Timur Tengah, terutama eskalasi perang antara Amerika Serikat–Israel dan Iran yang berdampak pada terganggunya distribusi energi global, termasuk penutupan jalur strategis Selat Hormuz.
Meski tekanan global meningkat, pemerintah memastikan kondisi energi nasional, khususnya bahan bakar minyak (BBM), masih berada pada level aman dengan stok di atas kebutuhan nasional.
Editor : Editor Satu