Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

Pemerintah Yakin Ekonomi RI Tumbuh 5,5%, Ekonom: Konsumsi Melemah Jadi Ancaman

Editor Satu • Kamis, 26 Maret 2026 | 08:10 WIB

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto saat Konferensi Pers di Wisma Danantara.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto saat Konferensi Pers di Wisma Danantara.

JAKARTA, METRODAILY – Pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 mampu mencapai kisaran 5,5 persen, meski di tengah tekanan global dan dinamika domestik.

Menteri Koordinator Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyebut angka tersebut masih sejalan dengan target pemerintah yang berada di rentang 5,5–6 persen pada awal tahun.

Optimisme serupa juga disampaikan Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, yang bahkan memperkirakan pertumbuhan ekonomi bisa sedikit lebih tinggi.

“Pertumbuhan ekonomi bisa 5,6–5,7 persen. Itu sudah cukup baik di tengah gejolak global,” ujar Purbaya di Kantor Direktorat Jenderal Pajak, Jakarta Selatan.

Namun, sejumlah ekonom menilai capaian tersebut berpotensi meleset dari target. Ekonom Senior INDEF, Tauhid Ahmad, memproyeksikan pertumbuhan hanya berada di kisaran 5,4 persen.

Menurutnya, faktor utama yang menahan laju ekonomi adalah melemahnya konsumsi masyarakat selama periode Ramadan dan Idulfitri dibandingkan tahun sebelumnya.

“Dorongan dari Lebaran tetap ada, tetapi tidak sekuat tahun lalu. Konsumsi tidak tumbuh setinggi yang diharapkan,” kata Tauhid.

Meski demikian, ia menilai belanja pemerintah yang ekspansif, termasuk program bantuan sosial, masih menjadi penopang utama pertumbuhan.

Di sisi lain, dampak bencana di wilayah Sumatera pada akhir 2025 juga disebut masih membayangi aktivitas ekonomi pada awal tahun ini, terutama di daerah terdampak yang masih dalam tahap pemulihan.

Faktor lain yang turut menekan konsumsi adalah inflasi yang relatif tinggi menjelang dan selama Ramadan, terutama pada komoditas kebutuhan pokok.

Pandangan lebih pesimistis disampaikan Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira. Ia memperkirakan pertumbuhan ekonomi bahkan bisa berada di kisaran 5,05 persen.

Baca Juga: Dea Annisa Tunda Nikah, Pilih Jadi Tulang Punggung Keluarga

Menurut Bhima, kecenderungan masyarakat menahan belanja dan memilih menabung Tunjangan Hari Raya (THR) menjadi salah satu penyebab utama.

“Banyak yang memilih menabung karena khawatir kenaikan harga energi dan pangan pasca-Lebaran,” ujarnya.

Selain itu, terbatasnya penciptaan lapangan kerja dan tidak optimalnya arus balik ke kota juga menjadi indikator melemahnya aktivitas ekonomi.

Perbedaan proyeksi ini mencerminkan adanya tantangan struktural dalam menjaga momentum pertumbuhan, terutama dari sisi konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi kontributor terbesar terhadap produk domestik bruto (PDB). (Dtc)

Editor : Editor Satu
#pertumbuhan ekonomi