SIANTAR, METRODAILY – Indeks Harga Konsumen (IHK) di wilayah kerja Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Pematangsiantar, yakni Kota Pematangsiantar dan Kabupaten Labuhanbatu, mengalami inflasi pada Februari 2026.
Kenaikan harga ini dipicu meningkatnya permintaan masyarakat menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Ramadan dan Idulfitri 1447 H.
Di Kota Pematangsiantar, inflasi bulanan tercatat sebesar 0,57 persen (month to month/mtm). Sementara inflasi tahunan mencapai 5,52 persen (year on year/yoy) dan inflasi tahun berjalan sebesar 0,46 persen (year to date/ytd).
Sementara itu, Kabupaten Labuhanbatu mencatat inflasi bulanan sedikit lebih tinggi, yakni 0,79 persen (mtm).
Inflasi tahunan di daerah tersebut tercatat 5,08 persen (yoy), sedangkan inflasi tahun berjalan berada pada angka -0,04 persen (ytd).
Kepala Perwakilan BI Pematangsiantar Ahmadi Rahman, Rabu (4/3), menjelaskan bahwa tekanan inflasi pada Februari terutama dipengaruhi peningkatan konsumsi masyarakat terhadap sejumlah komoditas pangan strategis menjelang Ramadan dan Idulfitri.
“Komoditas seperti tomat, cabai merah, dan daging ayam ras menjadi penyumbang utama kenaikan harga di kedua wilayah,” ujar Ahmadi.
Di Kota Pematangsiantar, komoditas emas perhiasan juga memberikan andil inflasi yang cukup signifikan. Hal ini dipicu meningkatnya permintaan masyarakat serta pengaruh perkembangan harga emas global.
Sementara di Kabupaten Labuhanbatu, komoditas tomat dan cabai merah menjadi faktor utama pendorong inflasi bulanan.
Meski demikian, tekanan inflasi masih relatif tertahan oleh penurunan harga beberapa komoditas pangan. Cabai rawit dan bawang merah tercatat mengalami deflasi di kedua daerah.
Bahkan di Kabupaten Labuhanbatu, cabai rawit memberikan kontribusi deflasi yang cukup dalam.
“Penurunan harga ini membantu meredam laju kenaikan inflasi yang lebih tinggi,” jelas Ahmadi.
BI Perkuat Sinergi Pengendalian Inflasi
Dalam upaya menjaga stabilitas harga dan memastikan ketersediaan pasokan menjelang HBKN, KPw BI Pematangsiantar terus memperkuat sinergi dengan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), pemerintah daerah, Bulog, serta pelaku usaha.
Sepanjang Februari 2026, berbagai forum koordinasi telah digelar, di antaranya Focus Group Discussion (FGD) inflasi di Kabupaten Labuhanbatu dan Kota Pematangsiantar untuk memetakan kondisi rantai pasok serta merumuskan langkah tindak lanjut.
Selain itu, optimalisasi Toko Pengendali Inflasi (Topis) juga dilakukan melalui fasilitasi distribusi pangan dari Bulog kepada para pedagang guna menekan harga di tingkat konsumen.
High Level Meeting (HLM) TPID Kota Pematangsiantar juga telah dilaksanakan untuk memperkuat komitmen pengendalian inflasi menjelang Idulfitri.
“Dalam pertemuan tersebut dibahas berbagai langkah strategis, termasuk memastikan kecukupan stok dan kelancaran distribusi bahan pokok, realisasi program contract farming, serta penguatan infrastruktur pendukung seperti cold storage,” terang Ahmadi.
Gerakan Pangan Murah Digelar
Upaya pengendalian inflasi juga diperkuat melalui kolaborasi kegiatan SERAMBI 2026 (Semarak Rupiah Ramadan dan Berkah Idulfitri) yang disinergikan dengan Gerakan Pangan Murah (GPM) di Lapangan Adam Malik, Kota Pematangsiantar.
Kegiatan ini diharapkan mampu menjaga stabilitas harga dengan menyediakan bahan pangan dengan harga lebih terjangkau sekaligus mengurangi tekanan permintaan di pasar tradisional.
Ke depan, BI memperkirakan tekanan inflasi masih berpotensi berlanjut pada Maret 2026 seiring semakin dekatnya periode Idulfitri.
Selain faktor musiman, dinamika global seperti meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah juga berpotensi memengaruhi harga komoditas energi dan biaya distribusi yang berdampak pada harga domestik.
“KPw BI Pematangsiantar bersama TPID akan terus memperkuat koordinasi serta konsistensi pelaksanaan program pengendalian inflasi, termasuk optimalisasi Gerakan Pangan Murah, penguatan kerja sama antar pelaku usaha dan daerah, serta monitoring perkembangan harga secara rutin,” jelas Ahmadi.
Baca Juga: Cinta Laura Mulai Bahas Pernikahan dengan Arya Vasco, Target 2–3 Tahun Lagi
Ia menambahkan, Bank Indonesia berkomitmen menjaga stabilitas nilai rupiah melalui pengendalian inflasi, stabilisasi nilai tukar, serta penguatan bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran guna mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. (rel)
Editor : Editor Satu