BATANG TORU, METRODAILY – Sejak awal operasional tahun 2012, PT Agincourt Resources (PTAR) --pengelola Tambang Emas Martabe--, telah melakukan rehabilitasi lahan secara bertahap.
“Jadi rehabilitasi lahn tidak menunggu hingga tambang berhenti berproduksi,” kata Management PTAR, dalam keterangan tertulisnya.
Hingga 2025, total lahan yang telah direhabilitasi mencapai 41,76 hektare. Dari jumlah tersebut, seluas 2,44 hektare dipulihkan sepanjang 2025. “Area rehabilitasi mencakup tanggul Tailings Storage Facility (TSF) serta sejumlah titik kegiatan eksplorasi,” katanya.
Rehabilitasi Progresif, Bukan Pascatambang
PTAR menegaskan pendekatan rehabilitasi dilakukan secara progresif, bertahap, dan terukur. Model ini diklaim sebagai bagian dari standar praktik tambang berkelanjutan, dengan target mengembalikan habitat hutan yang terganggu mendekati kondisi sebelum pengembangan proyek.
Rehabilitasi di area kritis seperti tanggul TSF menjadi perhatian utama, mengingat lokasi tersebut memiliki risiko ekologis lebih tinggi dibanding area operasional biasa.
Pendekatan yang digunakan tidak sebatas penanaman ulang secara simbolik. Perusahaan menerapkan teknik berbasis sains lingkungan, termasuk penggunaan spesies tanaman lokal dan teknologi simbiosis mikoriza untuk meningkatkan daya tumbuh dan kualitas vegetasi.
Libatkan Panel Independen dan IPB
Sejak 2019, PTAR didampingi Biodiversity Advisory Panel (BAP), panel independen yang memberikan rekomendasi ilmiah terkait pelestarian keanekaragaman hayati. Keterlibatan panel ini disebut sebagai bentuk pengawasan eksternal terhadap kualitas rehabilitasi.
Atas rekomendasi BAP, perusahaan melakukan identifikasi intensif spesies lokal, memperluas kapasitas pembibitan, serta mengoptimalkan teknik penanaman. Seluruh proses teknis rehabilitasi berada di bawah pengawasan Institut Pertanian Bogor (IPB).
Kehadiran BAP dan IPB diposisikan sebagai mekanisme kontrol ilmiah guna memastikan rehabilitasi tidak berhenti pada klaim administratif, tetapi memiliki parameter ekologis yang terukur.
Nursery 6.000 Meter Persegi, 21.357 Bibit Lokal
Untuk mendukung rehabilitasi berkelanjutan, PTAR membentuk tim rehabilitasi khusus serta membangun fasilitas nursery permanen seluas 6.000 meter persegi di area tambang.
Hingga Semester I 2025, nursery tersebut telah memproduksi 21.357 bibit tanaman lokal. Bibit-bibit ini dipersiapkan untuk ditanam pada lahan yang telah selesai digunakan dalam aktivitas tambang.
Fokus pada spesies endemik dan adaptif dinilai penting agar ekosistem yang dipulihkan tidak sekadar hijau secara visual, tetapi memiliki struktur dan fungsi ekologis yang mendekati hutan alami.
Uji Akuntabilitas Industri Tambang
Di tengah kritik publik terhadap sektor ekstraktif, capaian rehabilitasi 41,76 hektare menjadi indikator yang dapat diuji secara terbuka. Tantangannya bukan hanya pada jumlah hektare yang ditanam ulang, tetapi pada kualitas ekosistem yang terbentuk dalam jangka panjang.
Transformasi lahan pascatambang merupakan proses ilmiah dan berkelanjutan, bukan pekerjaan instan. Keberhasilan rehabilitasi akan ditentukan oleh konsistensi, pengawasan independen, serta transparansi pelaporan dari waktu ke waktu. (rel/mea)
Editor : Editor Satu