PALUTA, METRODAILY – Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di Kabupaten Padang Lawas Utara (Paluta) kembali terjadi dan memicu keluhan warga. BBM di sejumlah SPBU dilaporkan habis hanya dalam waktu sekitar tiga jam setelah pasokan masuk.
Meski tidak ada informasi resmi terkait terhentinya distribusi dari pusat, kondisi di lapangan menunjukkan antrean panjang kendaraan sejak pagi hari. Tak lama setelah distribusi dimulai, papan bertuliskan “BBM Habis” terpasang di area SPBU.
Berdasarkan penelusuran di lapangan, kelangkaan ini diduga bukan semata akibat keterbatasan pasokan, melainkan adanya praktik pelangsiran terstruktur.Baca Juga: Medan Career Expo 2026 Diserbu Ribuan Pencari Kerja, 124 Perusahaan Buka 5.515 Lowongan
Sejumlah pelangsir disebut memanfaatkan celah pengawasan dengan melakukan pengisian berulang menggunakan kendaraan berbeda atau memodifikasi kendaraan dengan tambahan tangki ilegal atau yang dikenal sebagai “tangki siluman”.
BBM yang dibeli kemudian dipindahkan ke jerigen di lokasi tertentu sebelum kembali mengantre sebagai pembeli baru.
Praktik tersebut diduga menyebabkan kuota harian SPBU cepat terkuras sebelum benar-benar dinikmati masyarakat umum.
Salah seorang petugas SPBU menyebut pasokan harian berkurang. “Tonase kita berkurang, bang, hanya 8 ton per hari,” ujarnya kepada warga.
Baca Juga: Rico Waas Serahkan Sertifikat Halal ke 100 UMKM, Dorong Perluasan Pasar dan Digitalisasi
Namun, sebagian masyarakat menilai penjelasan tersebut belum menjawab persoalan utama di lapangan, terutama terkait pengawasan distribusi dan dugaan aktivitas pelangsir.
Warga Frustrasi, Minta Aparat Bertindak
Kondisi ini memicu kekecewaan warga yang harus mengantre berjam-jam tanpa jaminan mendapatkan BBM. Aktivitas ekonomi masyarakat pun ikut terdampak, terutama bagi pengendara angkutan dan pelaku usaha kecil yang bergantung pada pasokan bahan bakar harian.
“Kami butuh solusi nyata, bukan sekadar alasan tonase. Jangan biarkan mafia kenyang di atas penderitaan warga yang antre berjam-jam,” keluh Siregar, warga yang mengaku gagal memperoleh BBM pada Selasa pagi.
Warga berharap aparat kepolisian dan instansi terkait segera melakukan pengawasan ketat serta menindak tegas pelangsir maupun oknum SPBU yang terbukti terlibat dalam praktik penyelewengan distribusi BBM.
Baca Juga: 7 Tersangka Korupsi Bansos Rp1,9 Miliar Tak Ditahan, Libatkan Kadis dan Oknum Polisi
Sorotan pada Sistem Pengawasan
Krisis BBM yang berulang di Paluta menyoroti lemahnya sistem pengawasan distribusi di tingkat daerah. Tanpa pengendalian dan penegakan hukum yang konsisten, praktik pelangsiran berpotensi terus terjadi dan merugikan masyarakat luas.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak berwenang terkait langkah penindakan atas dugaan praktik mafia BBM tersebut. (net)