MEDAN, METRODAILY – Di tengah diskursus global tentang masa depan ekonomi dunia, sebuah cerita sederhana dari Indonesia mencuri perhatian di Paviliun Indonesia, World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos, Swiss, pada 19–23 Januari lalu.
Cerita itu datang dari Coffeenatics, UMKM kopi asal Medan, yang memperkenalkan kopi tubruk Tapanuli Selatan (Tapsel) kepada para pemimpin dunia, pelaku industri, dan pemangku kepentingan global.
Mengusung metode seduh kopi khas Nusantara, Coffeenatics membawa identitas kopi Indonesia ke panggung internasional.
Baca Juga: Pimpin Apel Gabungan ASN, Sekdakab Karo Tekankan KLA, Realisasi Anggaran, PAD, dan Aset Daerah
Kehadiran mereka di Davos bukan sekadar pamer produk, melainkan representasi potensi besar UMKM lokal yang berakar pada tradisi, kualitas, dan keberlanjutan.
CEO dan Co-Founder Coffeenatics, Harris Hartanto Tan, menyebut keikutsertaan di WEF Davos sebagai pengalaman yang membanggakan sekaligus membuka perspektif baru.
“Membawa kopi tubruk Tapanuli Selatan ke Davos merupakan pengalaman yang membanggakan. Forum global ini memberi kami kesempatan memahami standar internasional, menjajaki peluang ekspor, serta membangun jejaring dengan berbagai pemangku kepentingan dunia,” ujarnya.
Di balik setiap cangkir kopi yang disajikan di Davos, terdapat rantai nilai yang dibangun bersama petani kopi lokal. Coffeenatics menjalin kemitraan dengan petani di berbagai daerah, termasuk Sumatra dan Bali, untuk menjaga kualitas biji kopi sekaligus memastikan keberlanjutan ekosistem dari hulu hingga hilir.
Baca Juga: Kapolres Tanah Karo Tekankan Kinerja Sat Lantas, Strong Point Pagi Jadi Prioritas
Tak hanya fokus pada bisnis, Coffeenatics juga aktif membangun ekosistem kopi yang inklusif melalui edukasi dan kelas brewing gratis bagi komunitas. Komitmen terhadap keberlanjutan diperkuat lewat program konservasi lingkungan yang berfokus pada perlindungan orangutan Tapanuli Selatan, salah satu primata paling langka di dunia.
Berkolaborasi dengan People Resources and Conservation Foundation (PRCF) dan Sumatera Rainforest Institute (SRI), Coffeenatics menjalankan proyek sosial “Apes for Apes”.
Inisiatif ini menggabungkan konsep produk kopi dengan upaya konservasi orangutan yang terancam punah. Setiap pembelian kopi, konsumen turut berkontribusi menjaga kelestarian satwa endemik Sumatra tersebut.
Baca Juga: Longsor Siraisan Dibersihkan, Jalinsum Sibuhuan–Sosopan Kembali Normal
Sejak berdiri pada 2015, Coffeenatics konsisten mengangkat kualitas dan cita rasa kopi Indonesia. Usahanya kini tak hanya berkembang di Medan, tetapi juga menjangkau Jakarta dan merambah pasar Singapura.
Mengusung kopi specialty dengan standar proses ketat, Coffeenatics menghadirkan produk bercita rasa khas yang merefleksikan kekayaan daerah asal kopi.
Berawal dari operasional sederhana dengan modal dan tim terbatas, hampir seluruh proses—mulai dari pemilihan biji kopi hingga melayani pelanggan—pernah dijalankan secara mandiri. Memasuki era digital, Coffeenatics terus bertumbuh dengan dukungan lebih dari 80 karyawan.
Partisipasi Coffeenatics di Paviliun Indonesia WEF 2026 mendapat dukungan dari Grab Indonesia. CEO Grab Indonesia, Neneng Goenadi, mengatakan dukungan tersebut merupakan bagian dari komitmen Grab untuk mendampingi UMKM agar naik kelas dan mampu bersaing di pasar global.
Baca Juga: Aklamasi, Andar Amin Harahap Resmi Pimpin Golkar Sumut
“Dukungan ini sejalan dengan inisiatif Grab untuk Indonesia dengan total komitmen Rp100 miliar, yang mencakup penguatan perlindungan sosial, apresiasi bagi mitra berprestasi, serta pengembangan kapasitas UMKM melalui teknologi dan program seperti GrabAcademy,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (2/2/2026).
Sementara itu, Norita Chai, Co-Founder dan COO Coffeenatics, menyebut pihaknya telah menjadi mitra merchant Grab sejak 2020. Menurutnya, Grab berperan penting dalam membantu Coffeenatics menjangkau lebih banyak pelanggan dan tetap relevan di era digital.
“Dukungan ini memberi kami kepercayaan diri untuk membawa kopi lokal Indonesia ke forum global seperti WEF Davos,” kata Norita. (net)
Editor : Editor Satu