Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

Kemarau Panjang Hantam Porsea, Bawang Merah Petani Terancam Gagal Panen

Editor Satu • Senin, 2 Februari 2026 | 15:06 WIB
Tanaman bawang merah milik Frankin di Kecamatan Porsea, Kabupaten Toba, tampak rusak akibat serangan hama ulat setelah kemarau panjang.
Tanaman bawang merah milik Frankin di Kecamatan Porsea, Kabupaten Toba, tampak rusak akibat serangan hama ulat setelah kemarau panjang.

TOBA, METRODAILY – Musim kemarau panjang yang melanda Kecamatan Porsea, Kabupaten Toba, sepanjang Januari 2026 mengancam hasil panen bawang merah petani.

Minimnya curah hujan membuat banyak tanaman tidak tumbuh optimal, bahkan sebagian lahan terserang hama ulat yang berpotensi menyebabkan gagal panen.

Sejumlah petani mengaku hampir sebulan terakhir tidak mendapat pasokan air hujan yang cukup. Kondisi tersebut diperparah dengan munculnya serangan hama setelah hujan turun dalam beberapa hari terakhir.

Baca Juga: Wartawan di Tapteng Diduga Dianiaya Ajudan Bupati

Frankin, petani bawang merah di Porsea, mengatakan sebagian besar tanamannya tidak berkembang akibat kekeringan. Tanaman yang sempat tumbuh justru diserang ulat pada bagian daun, sehingga berisiko mati.

“Sudah hampir satu bulan tidak hujan. Begitu hujan turun dua hari terakhir, bawang merah yang tumbuh langsung diserang ulat di daunnya,” ujar Frankin, Sabtu (31/1/2026).

Menurutnya, serangan hama tersebut dapat menyebabkan tanaman mati jika tidak segera ditangani dengan penyemprotan pestisida. Namun, upaya pengendalian hama itu menambah beban biaya produksi petani.

Baca Juga: SMA Matauli Kucurkan Beasiswa Penuh untuk 20 Siswa Tapteng–Sibolga

Ia mengungkapkan, meski penyemprotan dan pemupukan rutin telah dilakukan, serangan ulat tetap terjadi sehingga dirinya terpaksa mengganti jenis pestisida dengan biaya tambahan.

“Kami harus menambah modal karena harus mengganti pestisida. Harapannya masih ada tanaman yang bisa diselamatkan, meskipun tidak semuanya,” katanya.

Frankin menilai kondisi cuaca ekstrem menjadi tantangan serius bagi petani bawang merah. Ia menyebut perubahan cuaca yang tiba-tiba membuat hama lebih cepat berkembang dan berpotensi kebal terhadap satu jenis pestisida.

Baca Juga: Warga Tapteng Kekurangan Air Bersih, Brimob Sumut Turun Tangan

“Ini jadi pembelajaran. Kalau cuaca berubah, penyemprotan hama harus divariasikan supaya ulat tidak kebal,” ujarnya.

Petani berharap adanya perhatian dari pemerintah daerah, khususnya dalam bentuk pendampingan teknis dan bantuan sarana produksi, agar kerugian akibat kemarau panjang tidak semakin meluas. (net)

Editor : Editor Satu
#kemarau panjang #bawang merah