Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

Sektor Jasa Keuangan Sumut Tetap Stabil di Tengah Gejolak Global, OJK Optimistis Sambut Ekonomi 2026

Editor Satu • Selasa, 13 Januari 2026 | 16:17 WIB
Kegiatan Capacity Building Satgas PASTI Daerah Sumatera Utara yang digelar OJK Sumut di Medan untuk memperkuat koordinasi pemberantasan aktivitas keuangan ilegal.
Kegiatan Capacity Building Satgas PASTI Daerah Sumatera Utara yang digelar OJK Sumut di Medan untuk memperkuat koordinasi pemberantasan aktivitas keuangan ilegal.

MEDAN, METRODAILY — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sumatera Utara memastikan stabilitas sektor jasa keuangan di wilayah Sumut tetap terjaga hingga akhir 2025.

Di tengah dinamika global dan tekanan inflasi pangan domestik, sektor keuangan daerah dinilai adaptif dan terus berkontribusi dalam menopang pertumbuhan ekonomi menuju 2026.

Penilaian tersebut disampaikan OJK Sumatera Utara seiring prospek perekonomian global yang diperkirakan melandai, namun masih menunjukkan ketahanan di sejumlah negara utama.

Tekanan Global Moderat, Risiko Geopolitik Masih Membayangi

Secara global, aktivitas ekonomi menunjukkan tren moderasi. Aktivitas manufaktur dunia masih berada di zona ekspansi meski melambat, sejalan dengan menurunnya kepercayaan konsumen.

Pertumbuhan ekonomi global diproyeksikan berada di bawah rata-rata pra pandemi.

Amerika Serikat mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 4,3 persen (SAAR) pada kuartal terakhir 2025, diiringi moderasi pasar tenaga kerja dan penurunan inflasi.

Sebaliknya, perekonomian Tiongkok masih menghadapi perlambatan, ditandai oleh konsumsi rumah tangga yang tertahan, PMI manufaktur kembali ke zona kontraksi, serta tekanan berlanjut di sektor properti.

Kondisi tersebut mendorong kebijakan moneter yang beragam. The Federal Reserve dan Bank of England memangkas suku bunga masing-masing 25 basis poin, sementara Bank of Japan justru menaikkan suku bunga ke level tertinggi dalam tiga dekade.

Di awal 2026, pelaku pasar juga mencermati dinamika geopolitik di Venezuela yang berpotensi memengaruhi stabilitas keuangan global.

Ekonomi Domestik dan Sumut Tetap Tumbuh

Di tengah tekanan global, ekonomi domestik Indonesia menunjukkan ketahanan. Inflasi inti pada Desember 2025 meningkat, sektor manufaktur masih ekspansif, dan neraca perdagangan tetap mencatatkan surplus.

Untuk Sumatera Utara, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 4,55 persen (year on year) pada Triwulan III-2025.

Pertumbuhan ini terutama ditopang oleh sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan sebagai jangkar ekonomi daerah, serta kontribusi kuat dari perdagangan besar dan eceran serta sektor real estate.

Dari sisi pengeluaran, ekspor barang dan jasa tetap menjadi motor utama, sejalan dengan permintaan yang masih solid terhadap komoditas unggulan Sumut seperti lemak dan minyak hewan/nabati serta produk kimia.

Struktur ini menunjukkan ekonomi Sumut masih bertumpu pada sektor berbasis sumber daya dan perdagangan, dengan dukungan logistik dan transportasi yang terus membaik.

Inflasi Naik, Dipicu Gangguan Pasokan Pangan

Stabilitas harga di Sumatera Utara menghadapi tekanan pada akhir 2025. Inflasi tahunan meningkat dari 3,96 persen pada November menjadi 4,66 persen pada Desember 2025.

Kenaikan ini terutama dipicu gangguan pasokan pangan akibat cuaca ekstrem dan bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor, yang menghambat distribusi komoditas strategis.

Harga cabai rawit dan bawang merah mengalami lonjakan signifikan menjelang akhir tahun.

OJK menilai inflasi di Sumut masih didominasi faktor sisi penawaran dan musiman, sementara tekanan permintaan relatif terkendali.

Hal ini menegaskan pentingnya penguatan ketahanan pasokan dan distribusi pangan di tingkat daerah.

Pasar Modal Sumut Tumbuh Pesat

Aktivitas pasar modal di Sumatera Utara terus menunjukkan tren positif. Hingga Oktober 2025, jumlah investor atau Single Investor Identification (SID) mencapai 806,5 ribu, tumbuh 32,52 persen secara tahunan.

Reksadana menjadi instrumen paling diminati dengan 759,2 ribu SID, disusul saham sebanyak 378,9 ribu SID, dan Surat Berharga Negara (SBN) 68,9 ribu SID.

Nilai transaksi saham melonjak hampir tiga kali lipat, dengan nilai penjualan mencapai Rp16,5 triliun dan pembelian Rp16,8 triliun pada Oktober 2025.

Perbankan Tetap Solid, Kredit Investasi Melonjak

Kinerja perbankan Sumut pada November 2025 tetap terjaga. Dana Pihak Ketiga (DPK) tercatat Rp338,4 triliun atau tumbuh 3,40 persen (YoY), sementara penyaluran kredit meningkat 7,38 persen (YoY) menjadi Rp313,1 triliun.

Kredit didominasi kredit modal kerja dengan porsi 43,61 persen, diikuti kredit konsumsi 29,84 persen, dan kredit investasi 26,55 persen.

Kredit investasi mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 20,04 persen (YoY).

Profil risiko perbankan tetap terkendali dengan rasio NPL 1,91 persen dan Loan at Risk (LaR) 5,50 persen. Sementara itu, sektor Bank Perekonomian Rakyat (BPR) mencatat total aset Rp3,1 triliun atau tumbuh 8,92 persen (YoY), dengan NPL sebesar 9,84 persen.

Asuransi Tertekan, Dana Pensiun Menguat

Sektor perasuransian di Sumut menunjukkan dinamika penyesuaian sepanjang 2025. Premi asuransi jiwa tercatat Rp9,40 triliun atau terkontraksi 0,98 persen (YoY), sementara klaim turun lebih dalam sebesar 10,01 persen menjadi Rp6,76 triliun.

Pada asuransi umum, tekanan lebih kuat dengan premi turun 12,09 persen (YoY) menjadi Rp2,13 triliun dan klaim turun 9,02 persen menjadi Rp1,11 triliun.

Penurunan ini mencerminkan melemahnya aktivitas ekonomi yang menjadi dasar perlindungan asuransi umum.

Di sisi lain, investasi dana pensiun justru tumbuh positif. Hingga Oktober 2025, total investasi dana pensiun mencapai Rp1,3 triliun atau meningkat 7,65 persen (YoY). (Rel)

 

 

Editor : Editor Satu
#ojk #otoritas jasa keuangan #ekonomi sumut #jasa keuangan