SIANTAR, METRODAILY – Inflasi di Kota Pematangsiantar pada bulan Desember 2025 tercatat 1,24 persen (m-to-m), dengan inflasi tahunan 5,37 persen (y-on-y), sehingga inflasi kumulatif sepanjang 2025 mencapai 5,37 persen. Kenaikan harga cabai rawit menjadi penyumbang terbesar inflasi bulanan di kota ini.
Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Pematangsiantar mencatat, kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau memberikan andil inflasi terbesar secara m-to-m sebesar 1 persen.
Selain cabai rawit, komoditas lain yang mendorong inflasi bulan Desember antara lain bawang merah, emas perhiasan, daging ayam ras, buncis, kangkung, minyak goreng, kacang panjang, telur ayam ras, dan bayam.
Secara tahunan (y-on-y), kelompok yang sama menyumbang inflasi sebesar 2,36 persen, dengan komoditas andalan seperti emas perhiasan, bayam, beras, cabai merah, ikan kembung/gembung, mie siap santap, daging ayam ras, sewa rumah, wortel, dan cabai merah.
Meski inflasi m-to-m tertinggi tercatat di Kota Gunungsitoli, Pematangsiantar menempati posisi terendah di Sumatera Utara. Inflasi tinggi di Gunungsitoli disebabkan terputusnya akses transportasi pengiriman barang ke Nias akibat banjir, sehingga suplai kebutuhan dialihkan ke Pelabuhan Teluk Bayur, Sumatera Barat, yang berdampak pada kenaikan harga.
Secara umum, seluruh kabupaten/kota IHK di Sumut mengalami inflasi y-on-y pada Desember 2025. Inflasi tertinggi terjadi di Gunungsitoli 10,84 persen, sedangkan terendah di Kabupaten Karo 3,15 persen.
Baca Juga: Polda Sumut Ajukan Blokir 3.360 Situs dan Ungkap 55 Kasus Sepanjang 2025
Data ini menegaskan bahwa komoditas pangan, terutama cabai rawit, menjadi faktor utama tekanan harga di akhir tahun, yang berdampak langsung pada daya beli masyarakat. (rel)
Editor : Editor Satu