Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

BBM Langka di Tabagsel Pascabencana, Pemerintah Diminta Tambah Kuota Hingga Tiga Kali Lipat

Editor Satu • Kamis, 18 Desember 2025 | 13:10 WIB
Anggota DPRD Sumatera Utara dari Dapil Tabagsel, Abdul Rahim Siregar, mendesak penambahan kuota BBM menyusul kelangkaan pascabencana.
Anggota DPRD Sumatera Utara dari Dapil Tabagsel, Abdul Rahim Siregar, mendesak penambahan kuota BBM menyusul kelangkaan pascabencana.

TAPSEL, METRODAILY – Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di wilayah Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel) kian mengkhawatirkan.

Krisis tidak hanya terjadi di Kota Padangsidimpuan, tetapi juga meluas ke Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), Mandailing Natal (Madina), Padang Lawas (Palas), dan Padang Lawas Utara (Paluta).

Kondisi ini terjadi saat masyarakat masih berjuang memulihkan diri pascabencana banjir dan longsor yang melanda wilayah tersebut sekitar 20 hari lalu.

Antrean panjang kendaraan di sejumlah SPBU menjadi pemandangan sehari-hari dan memperberat beban ekonomi warga.

Anggota DPRD Sumatera Utara dari Dapil Sumut VII Tabagsel, Abdul Rahim Siregar, menyampaikan keprihatinan serius atas kelangkaan BBM yang dinilainya sudah bersifat merata di seluruh Tabagsel.

“Bukan hanya Padangsidimpuan. Tapsel, Madina, Palas, dan Paluta juga mengalami kondisi yang sama. Ini sudah menjadi persoalan serius dan harus segera ditangani,” kata Abdul Rahim, Selasa malam (16/12/2025).

Politisi PKS yang akrab disapa ARS itu menyebut antrean di sejumlah SPBU bahkan mencapai lebih dari satu kilometer. SPBU Padang Matinggi, Batu Nadua, Pajak Inpres, Pijorkoling, hingga kawasan Sipirok dan Sayur Matinggi menjadi titik terparah.

“Antrean panjang ini bukan hanya menyita waktu, tetapi juga melumpuhkan aktivitas ekonomi. Sopir angkutan, pedagang kecil, hingga pekerja harian terpaksa menghentikan kegiatan karena kehabisan BBM,” ujarnya.

ARS mengungkapkan banyak warga mengeluh telah mengantre berjam-jam sejak pagi, namun saat giliran tiba, stok BBM di SPBU sudah habis. Situasi ini dinilainya berpotensi memicu konflik sosial, mengingat kondisi psikologis masyarakat pascabencana masih rentan.

Atas kondisi tersebut, ARS mendesak Gubernur Sumatera Utara, kepala daerah se-Tabagsel, serta PT Pertamina (Persero) untuk segera mengambil langkah cepat dan konkret.

Salah satu solusi mendesak yang ia dorong adalah penambahan kuota BBM hingga dua sampai tiga kali lipat dari kuota normal.

“Ini kondisi darurat pascabencana. Jangan disamakan dengan kondisi normal. Kuota BBM harus segera ditambah agar kebutuhan masyarakat terpenuhi,” tegasnya.

Ia juga menyoroti perubahan jalur distribusi BBM yang sebelumnya disuplai dari Sibolga dan kini dialihkan dari Dumai akibat kerusakan akses jalan pascabanjir. Menurutnya, perubahan ini harus diantisipasi dengan penguatan distribusi dan kebijakan khusus.

“BBM adalah kebutuhan dasar. Di saat seperti inilah rakyat menunggu kehadiran negara. Kebijakan harus benar-benar memudahkan masyarakat,” pungkas ARS. (Net)

Editor : Editor Satu
#bbm langka #Tabagsel