SIANTAR, METRODAILY – Wali Kota Pematangsiantar Wesly Silalahi mengambil langkah cepat setelah inflasi kota itu mencapai 4,08 persen pada November 2025 dan sempat masuk daftar 10 kota dengan inflasi tertinggi di Indonesia.
Pada Selasa (9/12), Wesly bersama pimpinan OPD melakukan kunjungan kerja ke Kota Yogyakarta, daerah yang tahun ini menjadi salah satu TPID Berprestasi di Pulau Jawa.
Rombongan Pemko Siantar meninjau langsung Kios Segoro Amarto di Pasar Beringharjo, pusat aktivitas ekonomi Yogyakarta. Program kios ini dikenal sebagai instrumen pengendalian harga komoditas pokok yang efektif di pasar tradisional.
Baca Juga: Dapatkan di Promo 12.12! Ini Rekomendasi Dispenser Polytron Terbaik untuk Keluarga Besar di Rumah
“Kelompok makanan, minuman, dan tembakau terus menjadi pendorong inflasi kita: cabai, bawang merah, ayam, telur. TPID Siantar bergerak cepat, tetapi masih ada celah yang perlu dibenahi,” ujar Wesly.
Ia merinci berbagai langkah yang sudah diambil, mulai dari pasar murah, Gerakan Pangan Murah, operasi pasar, penindakan barang kena cukai ilegal, hingga monitoring harga dan stok.
Pemko juga telah memperkuat 11 Toko Pengendalian dan Pantau Inflasi (Toppis) serta mengoperasikan Kios Pangan—satu-satunya di Sumatera Utara—untuk stabilisasi harga di wilayah pinggiran.
Baca Juga: Hansi Flick Tak Senang Barcelona Jago Comeback
Upaya peningkatan produksi domestik dilakukan melalui contract farming cabai merah, penguatan Pekarangan Pangan Lestari, dan perbaikan irigasi tersier. Kerja sama antar daerah dibangun dengan Kabupaten Batubara, sentra cabai merah di Sumut.
TPID Siantar juga rutin menggelar rapat teknis, HLM triwulan, hingga koordinasi virtual dengan Kemendagri.
Meski demikian, Wesly mengakui hasilnya belum memadai. “Deflasi sudah terlihat dua bulan terakhir, 0,31 persen di Oktober dan 0,11 persen di November. Tapi inflasi kita tetap tinggi. Karena itu kami belajar langsung ke Yogyakarta,” jelasnya.
Baca Juga: Barcelona Vs Eintracht Frankfurt: Dua Sundulan Kounde Selamatkan Barca
Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, menyambut Wesly dan rombongan. Ia menegaskan Yogyakarta menghadapi tantangan permintaan yang naik jelang libur akhir tahun sebagai kota acuan IHK dan destinasi wisata utama.
Wawan menjelaskan mekanisme pemantauan harga dari hulu hingga hilir: pengecekan pasar utama seperti Beringharjo, pemantauan gudang distributor seperti Indomarco, dan penguatan koordinasi lintas instansi.
“Informasi lapangan menjadi dasar kebijakan berikutnya: operasi pasar, perbaikan distribusi, hingga koordinasi dengan pemasok,” ujarnya.
Kios Segoro Amarto, singkatan Semangat Gotong-royong Agawe Majuning Ngayogyokarto, berfungsi sebagai acuan harga di pasar tradisional.
Baca Juga: Penalti Kontroversial Menangkan Liverpool 1-0 atas Inter Milan
Selain itu, Yogyakarta memiliki inovasi Warung Mrantasi—Masyarakat dan Pedagang Tanggap Inflasi—yang mengajak pedagang menjaga stabilitas harga tanpa spekulasi.
Menjelang Natal dan Tahun Baru, Wawan mengimbau pedagang tidak menimbun barang dan tidak menaikkan harga secara berlebihan. “Empati pada rakyat kecil sangat penting. Banyak kebutuhan mereka meningkat bersamaan,” katanya.
Kunjungan ditutup dengan peninjauan stok di gudang Indomarco Yogyakarta serta pertukaran cenderamata.
Wesly didampingi Asisten Perekonomian Zainal Siahaan, Plt Kepala BPKD Alwi Adrian Lumbangaol, Kabag Perekonomian dan SDA Sari Dewi Rizkiyani Damanik, dan Kabag Prokopim Fadlan Syarkawi. (rel/esa)
Editor : Editor Satu