Ketum GAPKI Beberkan Strategi Industri Sawit Hadapi Regulasi Eropa dan Transisi Energi
Editor Satu• Kamis, 13 November 2025 | 12:55 WIB
Ketua GAPKI Eddy Martono saat membuka IPOC 2025.
Industri Sawit Nasional Naik 11 Persen, Devisa Capai USD 27,3 Miliar
BALI, METRODAILY – Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Eddy Martono, memaparkan strategi besar industri sawit nasional dalam menghadapi dinamika perdagangan global, pengetatan tata kelola, dan transisi energi terbarukan.
Dalam pembukaan 21st Indonesia Palm Oil Conference (IPOC) di Nusa Dua, Bali, Kamis (13/11), Eddy menegaskan bahwa industri sawit tengah memasuki fase baru yang menuntut kolaborasi dan adaptasi cepat terhadap kebijakan global, khususnya EU Deforestation Regulation (EUDR) dan kebijakan energi hijau dunia.
“Inilah strategi yang akan GAPKI terapkan,” ujar Eddy membuka pemaparannya di hadapan peserta IPOC 2025. “Upaya ini harus dilakukan kolektif agar industri sawit tetap tumbuh, kompetitif, dan berkelanjutan.”
Kinerja sawit nasional sepanjang Januari–September 2025 menunjukkan kenaikan produksi 11 persen menjadi 43 juta ton. Volume ekspor, termasuk CPO, produk turunan, oleokimia, dan biodiesel, juga meningkat 13,4 persen menjadi 25 juta ton, dengan nilai devisa mencapai USD 27,3 miliar atau naik 40 persen dari tahun sebelumnya.
Sementara itu, konsumsi domestik juga tumbuh dari 17,6 juta ton menjadi 18,5 juta ton, menandakan daya serap yang stabil di dalam negeri.
Eddy menilai capaian tersebut sebagai sinyal positif sekaligus wake-up call agar industri segera memperkuat tiga pilar utama: perdagangan global, tata kelola berkelanjutan, dan pengembangan biofuel.
Tema konferensi tahun ini, “Navigating Complexity, Driving Growth: Governance, Biofuel Policy and Global Trade”, disebut Eddy sebagai peta jalan menghadapi kompleksitas baru industri.
Dalam aspek perdagangan global, Eddy menilai Indonesia–EU CEPA membuka peluang ekspor lebih luas ke Eropa. Namun, EUDR menjadi tantangan serius karena mempengaruhi penerimaan produk sawit Indonesia.
“EUDR bukan sekadar regulasi, tapi cermin sistem yang perlu kita bangun. Informasi keliru harus diluruskan dengan data dan fakta agar citra sawit tidak terus disalahpahami,” tegasnya.
Eddy juga menekankan pentingnya tata kelola melalui penguatan sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO).
“ISPO harus menjadi standar emas global. Sustainability bukan slogan, tapi komitmen GAPKI,” ujarnya.
Di sisi lain, GAPKI mendukung kebijakan pemerintah mendorong mandat B35 dan B40 sebagai energi terbarukan berbasis sawit. Menurutnya, kebijakan ini menjaga stabilitas permintaan domestik sekaligus berkontribusi menurunkan emisi nasional.
“Untuk mendorong pertumbuhan, kita membutuhkan setiap bagian dari mesin pemerintahan bekerja secara harmonis,” ujar Eddy.
Selain kebijakan makro, GAPKI juga memperkuat peran petani kecil. Tahun ini, koperasi dari Kutai Timur, Kalimantan Timur, dinobatkan sebagai pekanan paling produktif dengan capaian 37,4 ton TBS per hektare, naik 9 persen dari tahun lalu.
Eddy juga menyoroti inovasi generasi muda melalui Hackathon Minyak Sawit Nasional 2025. Tim BiFlow dari ITS Surabaya menjadi juara dengan proyek RAPIDS, sistem deteksi dini penyakit Ganoderma boninense menggunakan radar non-invasif.
GAPKI turut memperkenalkan Konsorsium Elaeidobius, hasil kolaborasi antara GAPKI, lembaga riset, dan pemerintah Indonesia dengan Tanzania Agricultural Research Institute untuk memperkuat penyerbukan alami sawit melalui introduksi tiga spesies serangga Elaeidobius.
“Langkah-langkah ini menjadi modal penting untuk membawa industri sawit Indonesia menuju masa depan yang lebih kuat dan berdaya saing tinggi,” tutup Eddy. (rel/jp)