SIANTAR, METRODAILY – Kota Pematangsiantar tercatat mengalami deflasi sebesar -0,31% pada Oktober 2025 (month to month/mtm), turun dari bulan sebelumnya yang mencatat inflasi 0,47% (mtm).
Penurunan harga bawang merah, cabai hijau, dan beras menjadi faktor utama menurunnya tekanan inflasi.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Pematangsiantar, Ahmadi Rahman, Senin (3/11), menjelaskan deflasi tersebut turut menekan angka inflasi menjadi 4,19% secara year-to-date (ytd) dan 5,10% year-on-year (yoy).
Sementara Sumatera Utara juga mencatat deflasi -0,20% (mtm), dan secara nasional terjadi inflasi 0,28% (mtm).
“Komoditas dengan andil deflasi terbesar di Siantar antara lain bawang merah -0,15%, cabai hijau -0,09%, dan beras -0,07%,” ujar Ahmadi.
Sementara komoditas penyumbang inflasi terbesar yaitu emas perhiasan 0,29%, cabai merah 0,04%, dan wortel 0,03%.
Menurutnya, penurunan sejumlah komoditas hortikultura terjadi akibat pasokan yang meningkat seiring memasuki masa panen di wilayah Sumatera Utara.
“Secara keseluruhan, kombinasi faktor cuaca, biaya produksi, dan keseimbangan pasokan-permintaan menjadi pemicu utama deflasi di bulan Oktober,” jelas Ahmadi.
BI bersama Pemko Pematangsiantar terus memperkuat langkah pengendalian harga melalui koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), rapat dengan Kemendagri dan Kemenkeu, serta Focus Group Discussion (FGD) penguatan ketahanan pangan dan daya beli masyarakat.
“Melalui FGD diharapkan sinergi antar perangkat daerah semakin efektif dalam menjaga stabilitas harga dan ketersediaan kebutuhan pokok,” tambahnya.
Ia memperkirakan tekanan inflasi kembali menurun pada November seiring meningkatnya curah hujan dan hasil panen petani. (Rel)